Monthly Archives: January 2010

Pusaka Sang Penjaga

Sebelum kenal Wiro Sableng, Pitung dan Djiih, Satria Baja Hitam, Megaloman, Power Rangers, Batman, Superboy, Spiderman, atau geng The Avengers, inilah idola dan pahlawan kami. Yang menjadi arus utama dalam gagasan dan angan-angan kami. Meluapi imajinasi anak-anak kampung seperti saya dan teman-teman tentang keajaiban dan mata air ketakjuban.

Dalam narasi-rakyat, Sunan Kalijaga adalah pahlawan sesungguhnya. Mata-hatinya jernih. Ia tidak diam melihat ketimpangan akibat kedzaliman. Ia tinggalkan kenyamanan dan kemewahan yang bisa ia miliki dengan mudah sebagai priyayi, untuk membela kaum lemah, kalangan kecil, dan kelompok tertindas. Nuraninya terjaga. Ia teladan dalam menempuh jalan meraih kebenaran sejati, sesukar dan seterjal lintasan apapun yang harus dilalui untuk kembali. Dan berkat sisi kemanusiaan, sosial, budaya, agama, serta segala personanya itu, ia menjadi salah satu sosok paling dikenal dalam barisan ulama generasi penyebar Islam di bumi nusantara.

Ketika pada 1983, PT. Tobali Indah dan Sofyan Sharna memutuskan untuk mengangkat kisah Sunan Kalijaga ke dalam versi pita-seluloid, banyak orang bertanya; ‘Potret seperti apa yang hendak disajikan? Dan apakah itu cukup mewakili hikayat sang legenda, yang ribuan riwayatnya telah dijahit bertahun-tahun oleh masyarakat hingga bahkan sudah menjadi mitos?”

Versi

Antara kebesaran nama Sunan Kalijaga itu sendiri dan kejelian Sofyan Sharna memilih versi riwayat yang berkembang di masyarakat, film ini menuai sukses komersial besar. Di jakarta saja, menurut data Pusat Perfilman Indonesia, hampir 600.000 penonton berbondong-bondong menyaksikannya di bioskop. Jumlah yang fenomenal untuk ukuran waktu itu.

Ketika tayang di televisi, peminatnya tak surut. Saya sendiri ingat, hampir tiap tahun film ini ini diputar di TV. Dan saya selalu menontonnya sampai tuntas. Mulai sejak akhir 1980-an, saat TV baru berjumlah 1 (satu) di kampung, hitam putih, dan menggunakan aki (accu) yang mesti dibawa ke bengkel las untuk ikut di-charge setiap 2-3 hari sekali–tergantung pemakaian, sampai TV berwarna pertama menyaba kampung kami pada pertengahan 1990-an.

Menjaga pusaka

Sosok Sunan Kalijaga, seperti yang tergambar dalam film, hidup dalam benakku sejak itu. Di versi ini, asal-usul nama ‘kalijaga’ berasal dari cerita ketika Raden Mas Said–nama asli Sunan Kalijaga–yang diperankan Deddy Mizwar, diperintahkan melakukan tapa di pinggir kali. Laku itu dilaksanakan hingga Sunan Bonang datang menemuinya. Penantian panjang di tepian kali itu menyebabkan Raden Mas Said memperoleh nur, cahaya Ilahi. Ia memperoleh laduni dan menjadi Sunan.

Adegan tapanya bertahun-tahun di tepi kali, dengan lumut, akar, dan tubuh nyaris membatu, memberinya gelar Sunan Kalijaga. Asal dari kata jaga (menjaga) dan kali (sungai). Legenda ini dipilih lantaran memungkinkan eksploitasi visual lebih ‘hidup’ ketimbang versi lain asal-usul nama Sunan Kalijaga. Misalnya versi yang menyebutkan bahwa kalijaga adalah nama sebuah desa di Cirebon, tempat ia pernah berdakwah. Atau interpretasi yang menyebut bahwa nama Kalijaga berasal dari bahasa Arab qadi zaka, yang berarti pelaksana dan membersihkan.

Oleh lidah Jawa, qadi zaka dipelesetkan menjadi Kalijaga, dimaknai pemimpin yang menegakkan kesucian. Pilihan Sofyan Sharna untuk lebih memanjakan mitos menjaga sungai itu terbukti bersambut. Penonton menyukainya. Aku yang sampai sekarang punya pengetahuan centang perenang pun mengamininya. FFI menyambutnya, dengan 6 (enam) nominasi Piala Citra 1984. Meski tak ada satupun akhirnya yang digondol film ini.

Deddy Mizwar sendiri baru berhasil mendapat Piala Citra tahun 1987 untuk pemeran utama pria terbaik waktu ia menjadi naga Bonar di tahun 1986. Seperti kebiasaan kita yang suka latah, tema film ini pun menjadi tren di tahun-tahun berikutnya. Setahun setelah ‘Sunan Kalijaga’ menuai keberhasilan, lanjut sekuelnya yang bertajuk ‘Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar’. Masih menggunakan kiat serupa.

‘Sunan Gunung Jati’ dan ‘Sembilan Walisongo’ juga berniat mengekor kejayaan film dengan tema sama. Bahkan ’Sembilan Walisongo’ dibuat dengan biaya kolosal, plus satu dari 3 resep film popular; bumbu silat. Sebab ‘mustahil’ memasukkan embel-embel horor atau apalagi seks dalam film-film ini. Tapi, tak ada satu pun yang tercatat mampu melampaui kesaktian ‘Sunan Kalijaga’.

Suhun

Di era perfilman Indonesia kontemporer, kita kembali bisa menemukan film dengan tema seiras melalui ‘Sang Pencerah’ (2010) maupun ‘Sang Kyai’ (2013). Dengan teknik dan promosi yang lebih memadai, kedua film itu sama-sama menuai sukses. Artinya, pesan yang ingin disampaikan dan misi komersil film-film itu relatif tercapai. Saya diberi tahu, sebutan ‘Sunan’ bermula dari istilah ‘Susuhunan‘ yang terdapat pada masyarakat jawa maupun sunda. Maknanya pun tidak jauh berbeda. Sebelum Islam masuk ke jawa, istilah itu sangat jarang dipakai. Baru sekitar abad 15-16 ia populer untuk menyebut orang yang sangat dimuliakan atau dihargai karena pengetahuan dan penguasaan agamanya yang tinggi.

Sekarang, profil seperti itu yang langka menjadi idola, apalagi panutan. Fenomena banjir informasi memungkinkan setiap orang mendapatkan pengetahuan yang ia butuhkan dalam waktu kilat. Semua bisa jadi guru, panutan, dan tuntunan bagi dirinya sendiri.

Menggembirakan? Belum tentu. Sebab kita setiap waktu bisa tergelincir menjadi masyarakat anomie (Emile Durkheim, 1897) Jika berasumsi bahwa film adalah salah satu media propaganda dan penyampai pesan paling efektif, perlu berapa film lagi untuk mengingatkan kita agar menjaga dan kembali menghargai dengan layak petuah dan nilai-nilai yang mereka tinggalkan?