Monthly Archives: May 2015

Kisah Kereta

Ini cerita tanpa alasan yang jelas, yang mungkin nanti akan diulang-ulang dan lantas membosankan: Saya memang ‘tidak suka’ naik kereta.

Selain sebelum-sebelumnya, ada cerita dari akhir tahun lalu, ketika saya dan kawan-kawan satu kerja mendapat tugas ke Bandung. Semua ber-30 kompak berkereta. Saya yang duduk di bibir jendela lantai 6 kami berkeringat dingin. Bukan karena takut ketinggian, atau karena pendingin ruangan kami tidak berfungsi. Tapi karena mendengar betapa seriusnya rencana itu.

Untungnya saya, karena meski nyaris semua begitu antusias dengan rencana itu (siapa yang tidak? Menghabiskan waktu bersama, menikmati pemandangan sepanjang jalan, blablabla…), sifatnya tetap sukarela. Artinya, tidak ada kewajiban.

Meski pergi sama-sama dengan kawan-kawan menyenangkan, walaupun naik kereta api lebih menghemat uang, dan kendati banyak cerita seru yang sering diungkapkan para penggila kereta api, saya tidak tertarik. Saya lebih memilih memakai jasa travel. Sendirian.

Bukannya tidak pernah. Tapi, pengalaman pertama (dan sekali-kalinya dalam hidup itu) belum berminat saya ulangi. Saya tidak tahu apa benar kecilnya minat saya untuk berkereta api ada hubungannya dengan film ini… Continue reading

Hok

“Kalau muda tidak kiri, tidak punya hati…,” Kata senior saya di kampus waktu orientasi dulu. Saya mengangguk-angguk sok paham.

Setelah nonton ‘Ada Apa dengan Cinta’ (2002), mengoleksi buku-buku chairil anwar, dan berhasil lulus dari jurusan sastra (bahasa) di SMA, saya sudah merasa kiri. Dengan lugunya saya lalu hampir selalu berlaga kekiri-kirian, atau kadang kekanan-kananan, sekedar untuk mencitrakan diri saya tahu soal isu-isu sosial dan politik.

Kata seorang kawan saya yang selalu terus terang, sebenarnya tak ada pantas-pantasnya pun dilihat.

Ikhtiar saya tidak berhenti meski dapat cemoohan. Di sela-sela hobi main bola dan blusukan dari kosan ke kosan, saya selalu sempatkan main ke kawan-kawan saya yang sudah jelas kiri atau kekiri-kirian. Biasanya buat pinjam buku-buku progresif (yang sulit sekali saya mengerti), atau numpang nonton film-film perjuangan kaum proletar (yang cuma bikin saya jadi sedih dan sentimentil).

Upaya itu pun masih belum memadai ternyata. Nah, di tahun 2005, ada momentum bagus. Film yang mengangkat kisah hidup legenda kawan-kawan aktivis Indonesia di tahun 60-an dirilis. Saya pun menontonnya, dan berharap wawasan kekirian saya bakal melejit. Seperti yang saya rasakan paska memirsa AADC…

Demo

‘Gie‘ (nama panggilan dari kawan-kawan dekatnya) adalah tafsir dari hidup singkat Soe Hok Gie, seorang mahasiswa dan alumnus jurusan sejarah di Universitas Indonesia. Sejak belia, ia sudah melahap bacaan-bacaan berat, macam karya-karya Marx, Tolstoy, Tagore, dll.

Karena kegemarannya itulah, ia tumbuh menjadi remaja yang gelisah dan selalu mencari cara untuk menyalurkan kegelisahannya. Itu berlangsung hingga ia studi di perguruan tinggi.

Gambar-demo-UI-11Kampus menyuburkan hasrat Gie. Di lingkungan ini, ia menemukan jeram yang pas untuk membagi kegelisahan dengan sahabat-sahabat dan rekan yang sama-sama memiliki semangat dan energi untuk mewujudkan perubahan.

Kegelisahan Gie menjadikannya unik, berbeda dalam arti positif di antara teman-temannya. Kegelisahan itu pula yang mengantarkannya menjadi seorang demonstran serta pecinta alam. Meski jiwanya penentang, Gie tetap menghormati harmoni dengan semesta. Untungnya, Gie juga suka menulis.

Rasa gelisah, pemikiran, serta lintasan-lintasan dalam benaknya tertuang dalam sebuah buku harian. Di tahun 1983, empat belas tahun setelah ia meninggal akibat menghirup gas beracun di puncak Gunung Semeru, LP3ES menerbitkan jurnal hariannya yang kemudian ditajuki, ‘Catatan Seorang Demonstran’.

Dari buku itulah, sebagian besar Riri Riza membuat tafsiran terhadap hidup Gie. Riri mungkin bermaksud menyulut kembali gairah dan inspirasi anak-anak muda dengan semangat dan pemikiran Gie. Riri pun menambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Tercatat beberapa nama tokoh dalam film yang tidak dikenal dalam kehidupan nyata Gie. Mungkin diambil dari beberapa sosok, namun tidak sama persis seperti yang ditera dalam film.

Misalnya, tokoh Tan Tjin Han (kawan sejak kecil Gie yang ketika peristiwa penangkapan besar-besaran penggiat PKI ikut diciduk dan tidak jelas nasibnya), Tokoh Ira (yang menerima surat terakhir Gie sebelum berangkat ke semeru), Sinta (pacar Gie dari kalangan jetset), Denny (sahabat Gie di kampus bersama Herman Lantang), dan Jaka (aktivis kampus yang kemudian kehilangan idealismenya ketika menjadi anggota legislatif).

Pada Festival Film Indonesia 2005, ‘Gie’ memenangkan tiga Piala Citra, masing-masing untuk kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).

Asing

Dalam sebuah adegan, sahabat Gie, Herman Lantang, bertanya kepadanya ketika berhadapan dengan politik kampus serta situasi negara yang sama sekali jauh dari impian dan harapan Gie dan kawan-kawan; “Untuk apa semua perlawanan ini?”

Pertanyaan yang dijawab dengan kalem oleh Gie. Ia bilang, untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya.

Sampai kemerdekaan dan hak-hak itu terwujud, perlawanan harus senantiasa dikobarkan. Meski tubuh didera pedih, walau perasaan ditimpa perih karena mengambil jalan yang jarang dilalui kebanyakan orang. Sebab, jika menyerah, siapatah lagi yang akan memperjuangkannya? Siapa yang akan menyuarakan nurani dan kejujuran? Siapa yang akan melawan kedzaliman yang nyata?

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,” bagi Gie itulah harga yang jika perlu akan ditebusnya.

Semangat heroik itulah yang kini menjadi inspirasi, semboyan, dan ikon bagi anak-anak muda yang menyebut dirinya aktivis. Cap ‘kiri’ melekat karena mereka seakan amat merdeka, tak terkekang apapun. Hanya idealisme saja untuk memperjuangkan hak-hak asasi yang terampas.

Saya setuju, anak muda harus berpandangan kiri. Dalam artian, punya semangat perubahan, kritis, berani, atau bahkan nekad.

Mendapati keadaan negeri yang dikendalikan oleh segelintir elit ekonomi dan politik yang rakus, harus ada anak muda yang tidak takut memberontak terhadap pengekangan daya pikir karunia tuhan. Harus ada belia yang maju untuk mengingatkan gerontokrasi akan perubahan zaman serta periode mereka yang segera berakhir. Harus ada yang generasi pelanjut estafet yang bersuara ketika mendapati arah yang dituju bangsa dan bahkan umat manusia ini telah jauh disetir ke tujuan yang keliru dan banal.

Otak

“…Tapi, kalau tua masih kiri, tidak punya otak.” Rupanya pesan senior saya masih punya kelanjutan. Haha..

Lanjutannya itu sampai sekarang selalu jadi diskusi seru di antara teman-teman saya. Kadang saya mengambil pihak tertentu untuk dibela. Lainnya, saya cuma mendengarkan sambil mengangguk-angguk.

Pura-pura paham…

“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.”

– Soe Hok Gie,Catatan Seorang Demonstran, 1983.