Saya banyak tersenyum sendiri karena, seingat saya, begitu sering menemukan kebetulan yang sama dengan the naked traveler, Trinity, dalam cerita-cerita perjalanan di buku pertamanya. Antara lain;
- Soal jadwal terbang ke Eropa yang umumnya selalu tengah malam atau dini hari, karena jarang sekali pesawat dari Indonesia yang terbang langsung ke Eropa alias harus transit terlebih dulu. Entah di Singapura, Dubai, atau negara lainnya. Akibatnya, saya harus ‘memaksa’ teteh untuk mengantar dan menemani saya menunggu jadwal boarding hingga hampir jam 12 malam di Soekarno-Hatta. Akses transportasi publik dari Serang-Cengkareng terbatas pagi (keberangkatan) dan sore (kepulangan). Lewat dari jam 6 atau 7 malam, pilihan pulang ke Serang harus melalui terminal di Jakarta atau taksi yang tentu ongkosnya berlipat-lipat. Travel pun setali tiga uang, belum sinkron dengan jadwal penerbangan ke benua biru.
- Soal maskapai dan pesawat, khususnya Emirates, yang–meskipun saya belum bisa membandingkan–nampaknya memang istimewa. Emirates memang punya concern khusus menyangkut halal-haram makanan yang disajikan. Di samping tentu rasanya–dalam standar saya yang cuma membagi makanan ke dalam 2 rasa; enak dan uueenak–cukup memuaskan. 8 disambung lagi 5 jam perjalanan setelah transit tidak terlalu terasa melelahkan (lain waktu saya tahu, karena saya hanya terlalu excited). Apalagi ternyata, saya tahu setelah turun di Dubai, bahwa saya duduk bersebelahan dengan seorang perwira di satuan khusus POLRI yang sedang akan berlatih di Belanda. Haha.. aman..
- Soal Dubai International Airport; luasnya, fasilitasnya, toko-toko mewahnya, multikultural-nya, pemeriksaan keamanannya yang mengharuskan calon penumpang melepas ikat pinggang, sepatu, dan mengeluarkan semua isi tas dan dompet. Saya tidak melihat ada random-check (pemeriksaan menyeluruh untuk beberapa orang yang dipilih secara acak oleh petugas keamanan) di Dubai. Saya menemukannya di Vienna, karena ternyata saya yang terpilih (waduh, padahal rasanya jenggot saya sudah cukup klimis hehe.. Alhamdulillah, untungnya lolos karena memang tidak ada barang berbahaya selain isi dalam tempurung kepala saya yang tidak terdeteksi mesin scanner). Saya sering juga menemukan orang Indonesia, selain TKI, di Bandara Dubai. Rata-rata mereka juga menunggu pesawat berikutnya yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan; tempat lainnya di Asia, Eropa, Amerika, atau Afrika. Saya sedikit menyesal kurang banyak ngobrol karena keasyikan mengelilingi Bandara selama 4 jam penantian pesawat ke Vienna. Padahal mungkin banyak informasi yang saya bisa dapat dari mereka yang lebih sering bepergian ke Eropa tentang banyak hal yang belum saya tahu dari buku. Biasanya, tentang tips perjalanan yang lebih hemat tapi cukup nyaman buat standar orang Indonesia. Saya masih belum ikhlas dan mencari-cari alternatif lain untuk menggantikan ‘wajib’-naik-kereta-dari-Vienna-ke-Innsbruck. Hanya satu orang yang memberi saran. Itupun hanya mengangguk dan bilang, “Kamu sudah benar. Saya rasa pilihan kereta itu bagus.” Saya nyengir kuda, siapa juga yang pilih kereta..
- Soal kelakuan TKI / TKW selama di bandara dan di pesawat yang ‘seru’. Ini saya temui dalam perjalanan pulang. Saudara-saudara kita itu bergerombol, baik ketika menunggu di gate, antri masuk pesawat, sampai di pemeriksaan imigrasi. Saya sebetulnya ingin banyak ngobrol dengan beberapa di antaranya. Siapa tahu ada info lowongan buat sarjana Ilmu Pemerintahan (hehe..). Saya ketemu Kang Agus, dari Jatinangor. Aih, Dunia ini memang sudah dilipat-lipat. Jauh-jauh ke Eropa ketemunya orang dari kaki-bukit-geulis lagi. Kang Agus baru saja ambil cuti dari kantor tempat dia bekerja sebagai desainer interior di perusahaan waralaba makanan-cepat-saji. Sudah 2 tahunan ini, dia pulang ke tanah air setiap 3 atau 6 bulan sekali. Dan dalam siklus itulah dia bertemu anak dan istrinya. Saya juga sempat ngobrol dengan Mbak (aduh saya betul-betul lupa namanya) asal Cirebon. Awalnya, menebak dari bahasanya, saya kira dia sama-sama orang Serang. Dia bekerja di kuwait dan ini kepulangan pertamanya. Bawaannya luar biasa heboh. Mungkin oleh-oleh buat tetangga di kampung halaman. Saya maklum. Malah saya malu, karena saya tidak banyak bawa oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di tanah air. Habis, bagaimana, wong panitia-nya cuma fasilitasi ongkos sama akomodasi aja, ndak ada dapat uang jajan (curhat rampokan…). Selebihnya, saya lebih banyak tidur dan ngobrol dengan 2 orang kakak-adik (?) se-bangku dari Iran, dengan bahasa tarzan…
- Soal transportasi di Eropa yang sangat punctual (tepat waktu, jadi repotlah jika kita memakai budaya jam-karet a la Indonesia. Bisa ketinggalan kereta terus. Karena di sini kereta cuek sekali, saudara-saudara.. hehe), aman dan rata-rata nyaman. Masalah transportasi ini memang tidak bisa lepas soal kereta yang jadi salah satu penghubung utama negara-negara di Eropa, dari Moskow di timur hingga Lisbon, Portugal di barat. Gambarannya mirip dengan scene dalam film Before Sunrise (1995). Dan saya memang masuk ke dalam gerbong kompartemen, 6 orang, dalam 1 ruangan mungil, saling berhadapan. Saya pun, akhirnya, untuk pertama kalinya sepanjang hidup, dengan tiada maksud kesengajaan, tanpa diberikan pilihan lain (haha.. berlebihan), menginjakkan kaki dan duduk di kereta….. Bayangan filmis Juned dan satu kakinya dalam Tragedi Bintaro (1987) langsung menyerbu saya. Membuat tidak saja tangan saya, namun, di dahi dan punggung mengalir keringat dingin. Ah, nasib memang menghantarkan jamuan dengan cara yang tak terduga…
To be continued…
Selanjutnya: Melewatkan kesempatan berkenalan dengan seorang guru bahasa inggris yang cantik di kereta…