Monthly Archives: October 2015

Menunggu Titik dan Jawaban Setelahnya

”Bukan ketidakberdayaan benar yang membuatku tergugu. Sebab sekuat apapun kita, suatu saat kita akan merasakan bahwa ada kekuatan lain yang tidak bisa kita lawan. Bukan kematian pula yang membuatku terpaku. Sebab sekreatif apapun kita, ada waktu dimana kita menemukan batas dan kepastian…

Kita semisal kalimat yang tengah menanti sebuah tanda baca: Titik. Di situlah nasib mendapati kesendiriannya masing-masing. Namun, meski titik kita nantikan sebagai satu-satunya kepastian, kita pun masih kerap berkemul tanya: Setelah titik, apa?”

Masih ingat dialog ‘rekonsiliasi’ Cinta dan Rangga di AADC (2002)? Keduanya mengutip satu fragmen dalam kehidupan Chairil yang digambarkan dalam buku/naskah skenario yang tadinya akan disutradarai oleh Sumandjaya.

Keduanya duduk di sebuah kursi setelah Cinta ‘mengembalikan’ buku Rangga yang ‘hilang’.

“Pas Chairil merasa ia berjalan di atas pasir,” kata Cinta…

“Dan ia merasa ada sosok Ida di sebelahnya,” Rangga menyahuti.

Lalu keduanya sama-sama melafalkan dialog Chairil; “Bukan maksudku merubah nasib. Nasib adalah kesendirian masing-masing…”

Kita bisa punya terjemahan masing-masing atas puisi dan sajak-sajak Chairil Anwar, sang penyair legendaris, si ‘Binatang Jalang’. Termasuk ungkapan Chairil soal nasib di atas.

Saya mengingatnya ketika kemarin mengunjungi saudara yang tengah kritis akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Kabar dari dokter, sudah tidak ada lagi upaya medik yang bisa dilakukan.

Kali ini, tinggal berpulang ke Yang Maha Menentukan.

Krisis 

Saya ingat kisah Will Reiser soal rasanya berada di ambang hidup dan mati. Ceritanya kemudian diangkat ke layar lebar di tahun 2011. Awalnya film produksi yang skenarionya ditulis sendiri oleh Will langsung itu akan diberi judul, ‘I’m with Cancer’, lalu diganti dengan ‘Live with It’. Ujungnya, tajuk film ini ditetapkan menjadi ‘50/50′.

Sosok Will Reiser–dalam film ini bernama Adam–diperankan oleh aktor Joseph Gordon-Levitt. Sedangkan Seth Rogen yang memerankan sahabat Adam dalam film ini, Kyle, dalam kehidupan nyata ia pun mendampingi Will selama proses pemulihannya. Dasarnya, Seth memerankan dirinya sendiri.

Adam yang divonis menderita kanker dan harus menjalani kemoterapi, tahu bahwa kanker adalah sesuatu yang serius. Peluangnya untuk bertahan ‘fifty-fifty’. Ia bisa saja bertahan hidup lebih lama, atau meninggal dalam waktu dekat.

Kyle, sahabat dengan pembawaannya yang serobeh–hingga bahkan Adam berpikir Kyle tak menganggap serius penyakitnya–selalu berusaha menjadi pelipur untuk Adam. Ia menemani Adam saat memerlukan semangat untuk bertahan, termasuk ketika kekasih Adam memilih untuk menjalani kehidupannya sendiri, atau menghadapi ibunya terlalu protektif, serta ayahnya yang menderita demensia. Kyle juga yang mengajaknya untuk lebih menikmati hidup, seandainya itu hal terakhir yang bisa dilakukan.

Di tengah rasa frustasi dan gejolak yang masih tak kunjung ia mengerti, Adam berpikir, memang apa salahnya menuruti saran Kyle? Konsultasi dengan psikolognya, Khaterine (Anna Kendrick), pun awalnya tak membantu.

Bukan saran kejiwaan yang akhirnya menolong Adam pada saat-saat krisis batinnya. Tapi justru relasi dengan sang psikolog, yang cantik, muda–dan karenanya kurang berpengalaman–serta menyukai Adam.

Di akhir kisah, Adam harus menjalani operasi setelah terapinya dinyatakan gagal. Ia kini harus benar-benar menghadapi situasi fifty-fifty yang sebenarnya di meja bedah.

Titah

Cerita yang berakhir bahagia adalah harapan hampir semua orang. Namun, kita juga tahu bahwa tidak semuanya mendapatkan akhir yang indah sesuai versinya masing-masing.

Lazimnya, kita berkehendak agar agar kita dapat membekaskan rindu bagi semua orang yang kita tinggalkan, dan menorehkan senyum karena kita yakin telah melakukan yang terbaik sesuai titah Tuhan.

Ada satu saran arif yang pernah saya terima. Kelak, apapun yang kita lakukan, Tuhan tidak akan bertanya, “Apa yang sudah kau hasilkan?” Namun, Ia akan meminta kita untuk menjawab, “Seberapa keras kau berjuang?”

Adam: That’s what everybody’s been saying: You’ll feel better and don’t worry and this is all fine and it’s not.

Katherine: You can’t change your situation. The only thing that you can change is how you choose to deal with it. (50/50, 2011)