Monthly Archives: June 2013

Cantik

 

“Semua perempuan cantik sudah menikah.”

Entah dimana saya pernah mencuri dengar atau numpang baca kalimat itu. Awalnya berpikir, itu bisa menambah koleksi jawaban yang cukup bagus kalau ada yang mulai menggoda lagi dengan pertanyaan soal nikah-menikah, kawin-mengawin, pasang-memasang.

Untungnya, yang bertanya mayoritas gadis-yang-sudah-bersuami. Lebih banyak yang tersipu tinimbang yang tersinggung.

Tapi, tentu saja sipuan itu hanya sesaat dan tidak menghentikan misi mereka memeriksa dan mengorek keterangan saya. Masih dengan rona merah jambu di pipi, biasanya mereka langsung menaikkan derajat sifat keibuannya.

Dengan segala kedewasaan mereka yang saya bisa cerna, mereka terlihat berupaya membantah (meski saya tahu mereka keras mengamininya) dan menasehati agar tidak putus asa. Lalu tersenyum, atau menepuk pundak, atau menyentuh lengan, dan melenggang. Masih dengan sisa rona merah di pipinya.

Dalam situasi dimana Continue reading

Sin-tak-dir

“Jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah dalam catatanNya (arah gerak angin, tiap butir hujan yang menimpa bumi, bahkan daun yang jatuh sekalipun) lantas untuk apa kita berusaha? Untuk apa kita berdo’a? Apakah itu berarti, misalnya, suami-istri yang bercerai juga sudah ditetapkan oleh Allah harus bercerai?”

Hah? Saya bengong. Kang Donny, begitu saya memanggilnya, berkisah soal temannya yang galau dan mengajukan pertanyaan di atas.

Kang Donny ini sarjana ilmu komputer. Atau informatika. Saya kurang paham. Yang pasti, salah satu kebisaannya adalah membetulkan OS (operating system) di komputer kantor kami atau laptop inventaris jika ada masalah.

Dan cara Kang Donny menjawab pertanyaan temannya yang galau itu menurut saya tidak biasa. Saya susah menyebutnya luar biasa karena saya cuma sok-paham dengan penjelasannya. Daripada Continue reading

It’s Back!!

Mau percik-percik kegembiraan sedikit; Akhirnya blog kami kembali. Alhamdulillah…

Setelah berminggu-minggu, berhari-hari, dan berkali-kali submit ticket, bikin pengaduan, persis hampir jam 7 petang kemarin dapat tanggapan dari support-teamnya. It sez:

Hello,

Your blog was unfortunately marked as spam by mistake by our anti-spam system.

We are truly sorry for the inconvenience, and we are working everyday on improving the efficiency of the anti-spam analysis to provide a better Blog.com experience.

Your blog has been restored and you can use it again. Some images might not appear for a couple of hours, until the cache expires.

Thanks!

Best regards,
Andreia Mota
--
Blog.com | Support Team

……………..

Syukurlah. Tidak ada yang berkurang atau hilang. Cuma jadi berpikir untuk lebih serius bikin cadangan.

Beberapa spare sempat dibuat kemarin. Maklum, akhirnya harus diakui bahwa host ini memang belum andal. Sering down, sibuk, error, layanan kurang tanggap. Tapi, tetap dia lebih keci. Barangkali lantaran sudah lebih terbiasa.

Kalau memang lain luang blog ini ngadat ketika ingin mampir, mangga silaturahim ke: simplyzain.wordpress.com ( agak ribet ya? belum biasa aja 🙂 )

Apapun, semoga tetap lancar jaya..

Manis

Di depan jembatan. Kau menjegal langkahku dengan ujaran.

“Mulanya aku pikir kamu itu manis. Lama-lama kamu terdengar selalu sinis. Lalu kusadari kau ternyata sarkastis.”

Hening.

“….Awalnya aku kira dirimu bilang begitu itu sarkastis. Lalu kupikir mungkin cuma sinis. Tapi, akhirnya… kurasa itu manis.”

Menuju rumah, aku meniti jembatan. Kau pun pulang. Melalui jalan lain.

Kapten Juara

Beckham Belum Pensiun

Lupakan drama isak tangis di Parc des Princes 19 Mei yang lalu. Beckham belum akan menyudahi laganya di lapangan hijau. Malah, Beckham baru memulai karirnya yang terlihat cemerlang. Buktinya, Beckham meraih 2 (dua) penghargaan bergengsi sekaligus; Best Player dan Top-Scorer. Meski hanya berakhir sebagai runner-up bersama timnya tahun ini, siapapun yang menyaksikan sepak-terjangnya sepanjang putaran final tak akan ragu berdecak kagum.

Tapi, kali ini bukan tendangan atau umpan melengkung yang selama ini kita ingat. Beckham beraksi bak Christiano Ronaldo dipadu-siamkan dengan Neymar. Gesit, cepat, liat, berteknik tinggi. Personanya di luar lapangan pun kuat. Mengingatkan kita betapa bintang selalu memiliki penggemarnya sendiri.

Air mata Beckham memang meluruh ketika timnya gagal mengangkat tropi utama. Sama seperti beberapa pengagum yang hatinya yang ikut tersayat melihat Beckham tersungkur dan berderai di tengah lapangan. Timnya kalah adu penalti di partai puncak. Semua ikut merasa kehilangan karena tidak bisa melihat Beckham melaju ke Wembley.

Tapi, barangkali inilah fase dimana Beckham harus belajar rendah hati dan menerima kekalahan. Justru ketika diri dan timnya berada di atas angin, menjadi unggulan karena berhasil menyingkirkan tim lain dengan digdaya hingga mencapai babak puncak.

Beckham, seperti pesan sang menteri, mungkin masih perlu belajar lebih banyak tentang kerjasama dan kepaduan tim. Sangat sulit tim bergelimang bintang bisa juara, tanpa ada soliditas. Tidak ada mega-bintang manapun yang bisa melawan 11 pemain (atau pada saat ini, 9 orang pemain) hanya dengan seorang diri.

Dan ketika pelajaran tersebut sudah ia pahami, Beckham memang jauh dari kata pensiun. Dia justru baru mengawali karir gemilangnya. Melanjutkan tradisi Ramang, Bambang Nurdiansyah, Ricky Jakobi, Widodo C. Putro, Kurniawan Dwi Julianto, dan Bambang Pamungkas. Atau sesama alumni dari kompetisi ini, misalnya; Andik Vermansyah.

Umar

Yang mengalahkan Beckham dan kompatriotnya adalah sebuah tim yang solid. Melihat mereka bermain dengan kaos birunya, seperti menonton Italia berlaga. Taktis, disiplin bertahan, mengandalkan penyerang dengan naluri tinggi, dan seorang pemimpin yang punya aura luar biasa; kapten mereka.

Soal kapten ini, aku teringat Umar. Dia kapten tim kami. Sampai sekarang. Awalnya, entah karena dia paling dekat dengan pembina kami (yang hampir selalu menggunakan jasa Umar untuk mengantarkannya), atau karena ia yang modal membeli Ban Kapten (dan akhirnya memakainya sendiri), atau karena posisinya berada di gelandang (pusat permainan kami yang bertumpu pada sektor tengah yang kuat untuk menopang para striker dan mem-back-up para defender), atau karena namanya yang cuma Umar itu (tidak ada depan atau belakangnya menurut ijazah).

Yang jelas, Umar memang istimewa dan punya kharisma. Salah satu buktinya, hanya Umar yang berhasil menggaet kakak kelas kami. Atau hanya Umar yang nyaris selalu jadi solusi untuk persoalan keuangan kami. Dan Umar benar-benar selalu berada di tengah-tengah kami. Tidak ada tipe pemain lain seperti dirinya; Sang flamboyan sejati.

Aku tersenyum mengingat itu semua, karena pada moment adu penalti itu, karakter flamboyan sang kapten tim biru, tim juara, memancar dengan derasnya.

Sang kapten sudah berhasil memompa semangat kawan-kawannya bertahan dari gempuran Beckham dan 8 pemain luar biasa lainnya selama 2 x 10 menit, plus perpanjangan waktu. Tidak mudah, karena mereka terus tertekan. Tapi sang kapten seperti tidak pernah kehabisan energi untuk mengomandoi rekan setim agar tetap disiplin, meski tenaga mereka terkuras setelah 2 hari berturut-turut harus bertanding pada putaran final nasional.

Semua itu tidak mengurangi ke-flamboyanan-nya ketika akan mengambil tendangan penalti yang menentukan. Ayunan langkahnya yang menawan, beradu drama dengan kiper lawan sebelum menandang, dan selebrasinya yang jumawa tapi tidak berlebihan. Ia masih ingat lawan yang sudah ia kalahkan. Ia masih sempat menunjukkan simpati kepada Beckham yang terkulai di tengah lapangan.

Dan puncaknya, saat ia memimpin rekan satu timnya menerima piala utama. Gestur dan (khsususnya) posturnya membuat aku ingat Umar.

Meski Umar tak pernah mengangkat piala untuk kami, Ia sudah memenangkan hati kami sejak pertama ia melingkarkan ban kapten di lengannya sendiri, di pertandingan pertama kami. Dan dan kami tak perlu menjadi juara untuk mengingat maupun membanggakan itu semua.

Kapten Juara