Beckham Belum Pensiun
Lupakan drama isak tangis di Parc des Princes 19 Mei yang lalu. Beckham belum akan menyudahi laganya di lapangan hijau. Malah, Beckham baru memulai karirnya yang terlihat cemerlang. Buktinya, Beckham meraih 2 (dua) penghargaan bergengsi sekaligus; Best Player dan Top-Scorer. Meski hanya berakhir sebagai runner-up bersama timnya tahun ini, siapapun yang menyaksikan sepak-terjangnya sepanjang putaran final tak akan ragu berdecak kagum.
Tapi, kali ini bukan tendangan atau umpan melengkung yang selama ini kita ingat. Beckham beraksi bak Christiano Ronaldo dipadu-siamkan dengan Neymar. Gesit, cepat, liat, berteknik tinggi. Personanya di luar lapangan pun kuat. Mengingatkan kita betapa bintang selalu memiliki penggemarnya sendiri.
Air mata Beckham memang meluruh ketika timnya gagal mengangkat tropi utama. Sama seperti beberapa pengagum yang hatinya yang ikut tersayat melihat Beckham tersungkur dan berderai di tengah lapangan. Timnya kalah adu penalti di partai puncak. Semua ikut merasa kehilangan karena tidak bisa melihat Beckham melaju ke Wembley.
Tapi, barangkali inilah fase dimana Beckham harus belajar rendah hati dan menerima kekalahan. Justru ketika diri dan timnya berada di atas angin, menjadi unggulan karena berhasil menyingkirkan tim lain dengan digdaya hingga mencapai babak puncak.
Beckham, seperti pesan sang menteri, mungkin masih perlu belajar lebih banyak tentang kerjasama dan kepaduan tim. Sangat sulit tim bergelimang bintang bisa juara, tanpa ada soliditas. Tidak ada mega-bintang manapun yang bisa melawan 11 pemain (atau pada saat ini, 9 orang pemain) hanya dengan seorang diri.
Dan ketika pelajaran tersebut sudah ia pahami, Beckham memang jauh dari kata pensiun. Dia justru baru mengawali karir gemilangnya. Melanjutkan tradisi Ramang, Bambang Nurdiansyah, Ricky Jakobi, Widodo C. Putro, Kurniawan Dwi Julianto, dan Bambang Pamungkas. Atau sesama alumni dari kompetisi ini, misalnya; Andik Vermansyah.
Umar
Yang mengalahkan Beckham dan kompatriotnya adalah sebuah tim yang solid. Melihat mereka bermain dengan kaos birunya, seperti menonton Italia berlaga. Taktis, disiplin bertahan, mengandalkan penyerang dengan naluri tinggi, dan seorang pemimpin yang punya aura luar biasa; kapten mereka.
Soal kapten ini, aku teringat Umar. Dia kapten tim kami. Sampai sekarang. Awalnya, entah karena dia paling dekat dengan pembina kami (yang hampir selalu menggunakan jasa Umar untuk mengantarkannya), atau karena ia yang modal membeli Ban Kapten (dan akhirnya memakainya sendiri), atau karena posisinya berada di gelandang (pusat permainan kami yang bertumpu pada sektor tengah yang kuat untuk menopang para striker dan mem-back-up para defender), atau karena namanya yang cuma Umar itu (tidak ada depan atau belakangnya menurut ijazah).
Yang jelas, Umar memang istimewa dan punya kharisma. Salah satu buktinya, hanya Umar yang berhasil menggaet kakak kelas kami. Atau hanya Umar yang nyaris selalu jadi solusi untuk persoalan keuangan kami. Dan Umar benar-benar selalu berada di tengah-tengah kami. Tidak ada tipe pemain lain seperti dirinya; Sang flamboyan sejati.
Aku tersenyum mengingat itu semua, karena pada moment adu penalti itu, karakter flamboyan sang kapten tim biru, tim juara, memancar dengan derasnya.
Sang kapten sudah berhasil memompa semangat kawan-kawannya bertahan dari gempuran Beckham dan 8 pemain luar biasa lainnya selama 2 x 10 menit, plus perpanjangan waktu. Tidak mudah, karena mereka terus tertekan. Tapi sang kapten seperti tidak pernah kehabisan energi untuk mengomandoi rekan setim agar tetap disiplin, meski tenaga mereka terkuras setelah 2 hari berturut-turut harus bertanding pada putaran final nasional.
Semua itu tidak mengurangi ke-flamboyanan-nya ketika akan mengambil tendangan penalti yang menentukan. Ayunan langkahnya yang menawan, beradu drama dengan kiper lawan sebelum menandang, dan selebrasinya yang jumawa tapi tidak berlebihan. Ia masih ingat lawan yang sudah ia kalahkan. Ia masih sempat menunjukkan simpati kepada Beckham yang terkulai di tengah lapangan.
Dan puncaknya, saat ia memimpin rekan satu timnya menerima piala utama. Gestur dan (khsususnya) posturnya membuat aku ingat Umar.
Meski Umar tak pernah mengangkat piala untuk kami, Ia sudah memenangkan hati kami sejak pertama ia melingkarkan ban kapten di lengannya sendiri, di pertandingan pertama kami. Dan dan kami tak perlu menjadi juara untuk mengingat maupun membanggakan itu semua.

Kapten Juara