Kemarin, aku memang sudah tak kuasa menahan diri. Pak Wira yang masih dengan ramahnya bertutur soal opsi-opsi tempat yang masih bisa kami singgahi sebelum pewasat kami lepas landas, buru-buru kusela.
“Pak Wira, Maaf, Pak..”
“Ya, Pak?” Sahutnya, dengan keramahan yang tak berkurang sedikitpun.
“Pak, dengan keindahan alam yang besar magnetnya seperti ini, pasti banyak dong yang ingin datang atau bahkan tinggal di sini. Bagaimana masyarakat bersikap menghadapi gelombang manusia yang otomatis juga membawa nilai dan kebudayaannya? Bagaimana bisa ya, walaupun ‘digempur’ berbagai budaya luar, masyarakat di sini masih nampak tak tergoyahkan menjalankan tradisi dan memegang nilai-nilai adat?”
Itu pertanyaan yang kuaju-ajukan terus sepanjang sisa hari kami di Pulau Bali. Lebih banyak ke beberapa kawan seperjalanan. Jawabannya Continue reading