Ia datang sembari menggamit seorang remaja yang beberapa bulan lalu baru saja menyelesaikan SMA-nya. Anak yang juga Ia asuh di sanggarnya. Ia mengadu soal bullying yang diterima sang anak. Pasalnya si anak dicap ‘Pengadu’. Mengadukan soal ‘kebijakan’ kepala sekolah yang ‘mendidik’ anaknya untuk memberikan contekan jawaban kepada teman-temannya di UN tahun ini.
Ia berkisah betapa anaknya dirisak guru-guru, kawan-kawan satu angkatan, adik-adik kelas, hingga alumni dan orangtua siswa lantaran dianggap sudah menistakan nama sekolah. Dan membuat masa depan sekolah ‘suram’, bikin adik-adik kelasnya bersiap menerima kesialan.
“Kami mohon agar keadilan ditegakkan. Anak saya ini tidak salah. Justru guru-guru yang memberikan dan mengajarkan contekan itu yang seharusnya ditegur, agar tidak lagi mencemari jiwa anak-anak yang jujur.”
Ia datang dengan lantang. Kali ini kami mencoba mendengarkan lebih seksama. Sebab, rasanya langgam ini tidak lagi asing. Langgam yang terdengar samar-samar, sebab terlalu sering kita kesampingkan…
***
Anda masih ingat kisah masygul Ibu Siami dari Tandes, Surabaya, di tahun 2011? Sang Ibu yang datang hari ini adalah jiwa yang sama. Yang membela anaknya dari ancaman cacat-batin-dini akibat mental-jalan-pintas sebagian besar (lingkungan sosial) kita.
Nasibnya mungkin tidak sedramatis Siami yang mesti diusir dari tempat tinggalnya oleh orang sekampung. Tapi kepiluannya sama.
Betapa tidak? Ia entah mengapa harus menghadapi gelombang besar bernama pejabat jawatan pendidikan serta kepala-kepala dinas yang menyeru kepada seluruh kepala sekolah. Mereka perintahkan kepala-kepala sekolah bersama guru-guru ‘menolong’ murid-murid supaya lulus UN. Dengan cara apapun. Demi tanjakan statistik.
Gelombang besar ini diiringi dengan deru angin-puyuh yang tidak kalah akbarnya bernama murid-murid serta para orang-tua dengan batin rawan yang panik menghadapi ‘hantu’ cap-gagal-lulus-ujian. Keduanya bergegas menjadi badai, menyapu benteng-benteng nurani dan meninggalkan jiwa-jiwa murni berserakan tanpa daya.
“Apalah arti negeri beragama? Apalah makna negara pancasila? Inikah budaya kita?” Lantang, Sang Ibu memapar gugatannya.
Kali ini kami mencoba mendengarkan. Lebih seksama. Suara di dalam hati kami sendiri…