Monthly Archives: September 2013

Lantang

Ia datang sembari menggamit seorang remaja yang beberapa bulan lalu baru saja menyelesaikan SMA-nya. Anak yang juga Ia asuh di sanggarnya. Ia mengadu soal bullying yang diterima sang anak. Pasalnya si anak dicap ‘Pengadu’. Mengadukan soal ‘kebijakan’ kepala sekolah yang ‘mendidik’ anaknya untuk memberikan contekan jawaban kepada teman-temannya di UN tahun ini.

Ia berkisah betapa anaknya dirisak guru-guru, kawan-kawan satu angkatan, adik-adik kelas, hingga alumni dan orangtua siswa lantaran dianggap sudah menistakan nama sekolah. Dan membuat masa depan sekolah ‘suram’, bikin adik-adik kelasnya bersiap menerima kesialan.

“Kami mohon agar keadilan ditegakkan. Anak saya ini tidak salah. Justru guru-guru yang memberikan dan mengajarkan contekan itu yang seharusnya ditegur, agar tidak lagi mencemari jiwa anak-anak yang jujur.”

Ia datang dengan lantang. Kali ini kami mencoba mendengarkan lebih seksama. Sebab, rasanya langgam ini tidak lagi asing. Langgam yang terdengar samar-samar, sebab terlalu sering kita kesampingkan…

***

Anda masih ingat kisah masygul Ibu Siami dari Tandes, Surabaya, di tahun 2011? Sang Ibu yang datang hari ini adalah jiwa yang sama. Yang membela anaknya dari ancaman cacat-batin-dini akibat mental-jalan-pintas sebagian besar (lingkungan sosial) kita.

Nasibnya mungkin tidak sedramatis Siami yang mesti diusir dari tempat tinggalnya oleh orang sekampung. Tapi kepiluannya sama.

Betapa tidak? Ia entah mengapa harus menghadapi gelombang besar bernama pejabat jawatan pendidikan serta kepala-kepala dinas yang menyeru kepada seluruh kepala sekolah. Mereka perintahkan kepala-kepala sekolah bersama guru-guru ‘menolong’ murid-murid supaya lulus UN. Dengan cara apapun. Demi tanjakan statistik.

Gelombang besar ini diiringi dengan deru angin-puyuh yang tidak kalah akbarnya bernama murid-murid serta para orang-tua dengan batin rawan yang panik menghadapi ‘hantu’ cap-gagal-lulus-ujian. Keduanya bergegas menjadi badai, menyapu benteng-benteng nurani dan meninggalkan jiwa-jiwa murni berserakan tanpa daya.

“Apalah arti negeri beragama? Apalah makna negara pancasila? Inikah budaya kita?” Lantang, Sang Ibu memapar gugatannya.

Kali ini kami mencoba mendengarkan. Lebih seksama. Suara di dalam hati kami sendiri…

Loyal

Selain mengganggu anaknya, apa lagi yang membuat singa betina naik darah? Jawabannya; ketika kesetiaannya dipertanyakan.

Untuk itukah kita selalu berupaya menuntut kesetiaan, loyalitas? Atau mengagumi sangat para loyalis?

Kesetiaan adalah sikap mental, kualitas yang membikin kita tidak menggemingkan dukungan dan pembelaan kita pada suatu hal. Kesetiaan atau loyalitas, per kamus, adalah keteguhan hati, ketaatan, atau kepatuhan. Merujuk pada komitmen, janji, pendirian, persahabatan, bakti, hingga perhambaan.

Karena rujukan itu, sifat kesetiaan selalu melibatkan sedikitnya 2 pihak. Pihak-pihak ini bersama-sama membuat komitmen, janji, sumpah, kesepakatan, baik dalam bentuknya persahabatan, kerjasama kerja, pengabdian, atau relasi lainnya. Keduanya sama-sama membuka diri dan saling menaruh kepercayaan.

Loyalitas lebih banyak bersifat emosional, loyalitas adalah kualitas perasaan, dan perasaan tak selalu membutuhkan penjelasan rasional. Loyalitas atau kesetiaan seringkali amat bertalian dengan soal persepsi. Jika para loyalis masih melihat nilai dan lingkungan sosial sesuai dengan ekspektasinya, kesetiaan atau komitmen akan mudah dilahirkan. Dan tentu acap sebaliknya.

Di seberang kesetiaan, ada pengkhianatan, pembelotan, murtad. Saat (salah) satu pihak sudah tidak lagi memegang komitmen atau janjinya, ia dikatakan tidak setia, tidak loyal. Istilahkan singkatnya; khianat. Sebutannya; pengkhianat. Setia dan khianat ibarat 2 kutub ekstrim yang tidak bisa disatukan. Kalau kriteria ‘setia’ paling dicari waktu mencari pasangan, teman, atau mitra dan sebagainya, label ‘pengkhianat’ sebaliknya, ia paling dijauhi. Kita memberi ‘hukuman-pengasingan’ bagi para pengkhianat. Sebisa mungkin tidak dekat-dekat dengan pengkhianat karena ia tidak bisa dipercaya, dan diyakini akan merusak status-quo nilai-nilai yang sudah ada.

Sayangnya kita–para penuntut kesetiaan–juga acap menyimpan makna kesetiaan dalam porsi yang keliru, atau mendudukannya terlampau dekat dengan emosi. Sehingga penyimpangan dianggap pengkhianatan, padahal bisa jadi ia hanya ingin menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengembangkan nilai lantaran konteks yang dinamis. Sehingga berbeda dipandang pembelotan, padahal sangat mungkin ia bermaksud menyegarkan makna yang kadung terbebat rutinitas. Sehingga mogok dinilai pembangkangan, padahal tujuannya untuk mengingatkan bahwa justru yang dituntut adalah loyalitas buta, bukan pada makna nilai yang sebenarnya.

Loyalitas memang perlu dijaga. Namun dengan tidak melupakan prinsip dasar bahwa loyalitas tertinggi harus didedikasikan pada hal-hal yang diyakini sebagai kebenaran.

Sembari saya, anda, kita, siapapun menuntut loyalitas, ada baiknya diri sendiri senantiasa menyegarkan nilai agar ia tak terlanjur menjadi fosil. Karena kita tidak mengharapkan kesetiaan kepada batu…

Aksi Yang Mengilhami

Apa yang diperlukan untuk mewujudkan pelayan publik yang—tidak hanya baik, namun juga berkualitas? Terobosan. Kekakuan dalam birokrasi yang menghambat pelayanan publik perlu dipecahkan dengan berbagai terobosan.

Sebagai sebuah lembaga negara yang relatif baru di Indonesia, Ombudsman dapat dikatakan sebuah terobosan di tengah karut-marut penyelenggaraan pelayanan publik, baik oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non-pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan publik. Pendekatan dan metode yang dilakukan Ombudsman tidak sama dengan lembaga hukum maupun lembaga politik yang hakekatnya sama-sama memiliki tanggung jawab menegakkan norma dan regulasi yang berlaku.

Dalam berbagai kesempatan, Ombudsman sering disemati sebagai “Magistrature of Influence” atau “Magistrature of Persuation”, mengutip istilah Andre Molitor (1979), seorang pakar hukum Belgia. Maknanya, dalam pola penyelesaian Laporan/Pengaduan, Ombudsman memprioritaskan cara Continue reading