Monthly Archives: November 2014

Gala Krakatau – laman 1

Mungkinkah laut setenang itu? Mungkinkah seteduh itu? Sehening itu?

SUNJAYA 1 melaju mantap menuju ke Dermaga Canti. Sesekali terayun-ayun dibuai gelombang yang terhantam. Angin nampaknya sedang kuat. Kukira karena menjelang pergantian musim.

“Saya pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari sekarang,” Bang Sapoy, jimat perjalanan kami kali ini kembali berkisah. “Waktu itu ombaknya tinggi, hampir 2 meter. Perahunya sama persis perahu kita ini. Malah lebih tua umurnya. Hampir semua yang ikut trip waktu itu jackpot. Udah kayak kena badai. Ga karu-karuan lah.”

“Ini bukannya normal ya, Bang?” Sembari sedikit merubah posisi duduk, dengan mata tetap terpejam dan telinga yang menggantang angin, aku meladeni ucapannya. Lumayan, mengusir bosan dari 2 jam perjalanan.

“Ombak memang sedang besar belakangan. Trip kemarin juga hampir sama kuat gelombangnya kayak sekarang. Tapi, biasanya air di sini tenang,”

Tenang? Maksudnya?

“Kayak di danau.” Jawabnya tanpa didahului pertanyaanku.

Aku menoleh. Bang Sapoy tidak sedang meracau. Jelas bukan tanda-tanda ia akan Continue reading

Lamar

Kawan saya tak pernah percaya dengan cerita yang satu ini… Suatu waktu saya memberanikan diri datang ke rumah seorang gadis yang kusuka. Akhirnya.

Kutemui ibunya. Saya minta izin kepada si gadis agar bisa bicara hanya berdua dengan ibunya saja. Gadis keberatan. Ibunya juga enggan. Saya senyum, dan mengatakan kalau pembicaraan dengan ibu ndak akan membahayakan.

“Kalau tidak berbahaya, kenapa mesti rahasia?” Gadis bersikukuh. Ah, saya sudah duga dan makin suka padanya.

Saya ganti strategi dengan membujuk ibu. Ibu akhirnya berkenan. Gadis menyingkir perlahan dengan tetap keheranan. Mungkin juga kesal dan penasaran.

Saya duduk menghadap ibu. Ibu memusatkan pandangannya pada saya. Tanpa suara, saya menyesap dulu teh yang tersaji sejak datang. Membasuh bibir yang lantas mengering. Dan kerongkongan yang mendadak kerontang.

“Ibu.. hatur nuhun sudah diizinkan bertemu dan berbicara langsung. Saya sebetulnya mau bercerita dulu, sebelum saya utarakan maksud saya. Boleh ya, Bu?”

Senyum. “Mangga..” Continue reading