Monthly Archives: February 2012

Sylar dan Sistem

Penggemar serial “Heroes” pasti tahu betul tokoh ini: Sylar.

Sylar adalah antagonis. Dia memburu, membunuh, dan ‘membajak’ kemampuan istimewa manusia-manusia lainnya. Keistimewaan Sylar, yang menjadi senjata utama dalam menjalankan aksinya adalah bakat dalam mengenali dan menjiplak berbagai pola dari sistem yang kompleks (the ability to innately understand and manipulate patterns within complex systems). Ini membuat Sylar dapat–pertama-tama yang dijadikan sebagai profesinya–memperbaiki segala kerusakan jenis jam (karena dia tahu bagaimana sistem kerja mesin jam sekompleks apapun, mengenali apa yang rusak, dan memperbaiki dan/atau membuatnya lebih canggih lagi).

Kemampuan Sylar ini pada gilirannya membuat dia mampu mengurai cara kerja kekuatan buruan-buruannya dengan melihat otak sang korban. Sistem otak yang rumit itu dipelajarinya, kemudian Sylar meniru dan membuat dirinya sendiri memiliki kekuatan sebagaimana sebelumnya dimiliki oleh korban yang dia bunuh.

Saya bukan mau bercerita soal Sylar atau serial yang populer sejak pertengahan tahun 2006 ini di TV jaringan NBC . Saya cuma tersadar, kemampuan memahami cara kerja dari sebuah sistem yang kompleks itu sangat penting. Seringkali jika kita tidak paham dengan cara kerja sebuah sistem, kita akan mudah tertipu dan dirugikan, meski itu misalnya sekedar membuat KTP, SIM, atau akta kematian.

Ketidaktahuan ini dimanfaatkan oleh orang-orang ‘pintar’ yang memahami (dan bahkan mungkin merancang dan merekayasa) sistem. Untuk menutupi kemalasan (atau keserakahan) mereka, maka dibuatlah alasan sistemik. Kita ditantang dan diadukan dengan segala macam prosedur dan ketentuan, yang terus terang saja bagi orang awam dan bodoh macam saya, jarang sekali saya ketahui. Apalagi tidak ada informasi yang memudahkan saya atau anggota masyarakat yang lain untuk mengetahui dan memahaminya.

“Maaf, prosedurnya memang seperti ini, Bu.”

“Ini sesuai dengan sistem kami, Pak.”

“Kalau Saudara tidak percaya, silahkan cek. Mekanismenya memang begitu.”

Maka, di negeri ini, proses pun berjalan sulit, lambat, mahal, penuh ketidakpastian.

***

Kemampuan memahami sistem dan cara kerjanya ini juga rupanya penting bagi pejabat dan politisi.Memahami cara kerja sistem penganggaran, kita bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan proyek atau minimal fee dari proyek yang kita bantu dapatkan. Memahami cara kerja sistem penghitungan suara, kita bisa memanipulasi data sehingga perolehan suara kita menggelembung. termasuk, memahami cara kerja sistem pengambilan putusan hukum, akan membuat kita bisa memperoleh keringanan atau bahkan dibebaskan dari segala tuduhan, meski segala bukti dan fakta sudah demikian terang benderang. Jelas, untuk mengambil keuntungan dari sistem, mereka memanfaatkan celah-celah yang ada.

Celah dalam sistem hampir seperti bawaan yang tidak pernah lepas dari sistem apapun. Dalam ranah sosial, ragam manusia membuat kemungkinan hampir tidak terbatas. Meski dalam sebuah sistem kita boleh merancang apa yang seharusnya menjadi input, bagaimana konversi berjalan, serta output untuk mendorong perubahan yang diinginkan, tetap saja manusia dengan keragaman isi kepala, motif, karakter, situasi dan lingkungan pribadi yang menjadi operator atau pelakunya. Sistem sosial dengan demikian selalu dinamis, berkembang, tidak pernah ajeg. Yang ajeg menurut pepatah ya perubahan itu sendiri.

Dengan begitu, memahami sistem dan ‘cacat bawaannya’ itu semestinya membuat lebih banyak kita menyadari, bahwa selalu ada kemungkinan celah itu dimanfaatkan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mengambil manfaat dan keuntungan tertentu. Thomas Hobbes mengingatkan, Homo Homini Lupus; manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Selalu ada Sylar-Sylar yang mengintip untuk memangsa apa yang kita punya saat ini.

‘Cacat bawaan’ sistem tidak selalu berarti negatif. Sebab, bagaimanapun hal tersebut yang membuat kehidupan manusia berkembang hingga saat ini. Pada titik ini, kita boleh bersyukur atas anugerah Tuhan; bahwa manusia bisa senantiasa belajar, termasuk dari kesalahan yang pernah dibuatnya sendiri. Homo Ludens.

Memahami sistem dan cara kerjanya memang penting. Sebab kita memang merancang sistem untuk memudahkan, bukan sebaliknya. Dan dengan memahami hal ini, kita juga berpeluang untuk mengingatkan satu sama lain dari kelalaian atau kekeliruan dalam bersikap dan bertindak, dari ketiadaan malu dan gairah untuk dedikasi pada pekerjaan dan melayani sesama manusia. For a better world…

Keprigelan Introspektif

Satu malam di sebuah rumah.

Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring, sedangkan ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu.

Mendadak, dari arah dapur terdengar suara piring yang pecah, kemudian sunyi senyap. Sang anak memandang ke arah ayahnya dan berkata, “Pasti ibu yang memecahkan piring itu.” “Bagaimana kamu tahu?” kata si Ayah. “Karena tak terdengar suara dia memarahi orang lain,” sahut anaknya.

Kita semua sudah terbiasa menggunakan standar yang berbeda melihat orang lain dan memandang diri sendiri, sehingga acapkali kita menuntut orang lain dengan serius, tetapi memperlakukan diri sendiri dengan penuh toleran. Kahlil Gibran membahasakannya dengan, “Berpikir idealis untuk orang lain, berpikir praktis untuk diri sendiri.”

Kita juga mungkin punya pengalaman yang mirip dengan cerita di atas. Kita tahu, seringkali Ibu (atau siapapun pada dasarnya) akan mudah tersulut jika melihat kesalahan orang lain di rumah. Seakan-akan selain dirinya tidak ada orang lain yang mengerjakan sesuatu dengan benar.

Saya sedang belajar untuk lebih banyak menahan diri untuk melepas temper. Misalnya jika menemukan sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan saya. Biasanya saya akan marah. Ada yang menyalip kendaraan saya secara serampangan; saya marah. Ada yang tidak mengantri dengan tertib; saya marah. Ada yang menerapkan tarif semena-mena; saya marah. Ada yang datang terlambat, sangat terlambat; saya marah. Ada yang membatalkan janji; saya marah. Banyak hal ternyata yang mudah memicu saya marah. Astaghfirullah… 🙂

Nah, saya mencoba untuk mengurangi. Saya mengintervensi kemarahan saya sebelum dia meletup. Caranya dengan melakukan proyeksi seperti ini: “Jika saya dalam posisi dia, apa yang mungkin saya rasakan? Apa yang akan saya lakukan? Apa pembenaran logis maupun menusiawi yang bisa saya berikan atas tindakan saya itu?”

Alhamdulillah, walau masih gagap, saya merasa teknik ini cukup mempan buat meredam temper saya. Saya berikan satu ilustrasi untuk membantu memperjelas. Masih ingat cerita ini:

Sebuah bus yang penuh dengan muatan penumpang sedang melaju dengan cepat menelusuri jalanan yang menurun, ada seseorang yang mengejar bus ini dari belakang. 

Seorang penumpang melihatnya dan merasa heran. Karena terdorong rasa kasihan dan kesal karena orang itu tidak berhenti mengejar padahal bus sudah melaju makin kencang, penumpang itu mengeluarkan kepala dari jendela bus dan berkata kepada orang yang terus berlari itu, “Hai kawan! Sudahlah Anda tak mungkin bisa mengejar!” 

Orang tersebut menjawab, “Saya harus mengejarnya . . .” Dengan nafas tersenggal-senggal dia berkata, “Saya sopir bus ini!” 

Saya tambahkan satu cerita lagi:

Seseorang sedang mengemudikan mobil berjalan di jalan pegunungan, ketika dengan santai menikmati pemandangan yang indah, mendadak dari arah depan datang sebuah truk barang. 

Si sopir truk membuka jendela dan berteriak dengan keras, “Babi!” Mendengar suara ini ia menjadi emosi. Dia juga membuka jendela dan balas memaki, “Kamu sendiri yang babi!” 

Baru saja selesai memaki, dia telah bertabrakan dengan gerombolan babi yang sedang menyeberangi jalan. 

Ada potensi merugikan dari bersikap reaktif (bukan responsif, itu 2 hal yang bebeda). Semua kejadian pasti ada sebabnya, ada alasannya. Dan jika sebelumnya kita bisa melihat kekurangan kita sendiri, melihat ke dalam diri kita sendiri, mencari jawaban dengan berefleksi sejenak, maka reaksi kita pasti berbeda ketika melihat ‘kesalahan’ orang lain..