Keluar dari pertemuan di Atlet Century sore ini, berniat menjemput kirana di parkiran. Langkah tergesaku yang dipacu janji bertemu di Istora dengan seorang peserta Konferensi Tokoh Umat tersandung bunyi-bunyi yang terasa familiar.
Aku menemukan sumber suara di sebuah booth petugas parkir persis belakang hotel. Ada lelaki paruh baya kuperhatikan tengah berusaha menyenandungkan (?) sesuatu. Bergumam, mengeja, berkejar-kejaran dengan sumber suara lain yang berasal dari sebuah tape dalam booth-nya. Awalnya, aku kira ia tengah bersenandung dangdut. Mimik penuh perasaan seperti itu sering aku lihat tatkala penyanyi lagu melayu ceria beraksi. Mimik khidmat penuh penghayatan. Nampaknya beliau tengah asyik sekali sampai nyaris tak terusik dengan lingkungan sekitarnya.
Semakin dekat jarak, aku semakin meragukan sendiri dugaanku. Itu bukan syair dangdut. Bukan pula langgam musik melayu. Untuk meyakinkan, aku terus berusaha menghampiri dengan sebisa mungkin tidak mengganggunya. Dan, aku menangkap samar potongan ayat dari surat Al-Waqi’ah yang dibawakan salah satu Imam Besar Masjidil Haram; Syaikh Abdul Rahman As-Sudais.
Gusti…
Lelaki itu tengah menikmati bisikan ramadhan yang penuh rayuan.
***
Aku tersenyum pada kirana di tempat parkir. Berisyarat meminta kesediaannya menemaniku menembus pengap senja Jakarta sepulang dari istora nanti. Berdua saja. Menikmati kembali perbincangan hening dalam keriuhan kota besar. Dan, jika diperkenankan, mencemburui lelaki itu…