Saat-saat kehabisan kata adalah saat yang menarik. Tidak selalu menyenangkan, tetapi selalu mengesankan.
Aku masih menunggu momen itu. Saat bersamamu.
Sudah terlalu banyak cerita dan sejarah masing-masing kita bagi. Tak penting-penting amat mungkin. Lebih untuk menegaskan kita hadir dan mencoba punya arti untuk satu sama lain.
Lalu di ujung kawat diam menutup tawa lepas. Atau kemudian helaan nafas hanya satu-satunya yang menghubungkan keberadaanmu di seberang meja sana. Atau kursi di sampingku bersandar.
Aku merasa saatnya sekarang mendengar cerita atau apapun yang kau ingin kemukakan. Dan kau barangkali mengira aku bakal menambah ujaran, berusaha untuk melucu (lagi). Atau sebaliknya.
Aku tak percaya jika canggung, rikuh, kikuk, dan risih bisa sangat begitu berkesan hanya karena disela lengang. Semuanya terjadi dengan termin yang sejenak kemudian menjadi abadi. Dikekalkan oleh denyut nadi yang selaras atau bahasa pandangan yang bertemu dalam cawan tafsir yang sama. Diantarkan segala hal yang membuat kita (berupaya dan tertatih-tatih) menjadi dewasa.
Kita selalu merasa masih ada celah lagi untuk diisi. Pun, yang tak pernah kita tuntas menuanginya. Celah itu selalu ada di sana.
Keheningan terkadang dijadikan juga duta untuk mewakili rasa. Bisa jadi ketika–lagi-lagi–kata tak dapat melakukannya. Beberapa detik jeda yang senyap mengungkap ribuan kalimah pada semesta tunggal yang kita huni saat ini.
Kita membaca, mendengarnya, juga (coba) memaknai. Menikmatinya pada saat-saat tak terduga.
Karena tak ada cukup kata yang akan bisa menggambarkan rasa. Tak ada istilah, idiom, ungkapan, atau frasa yang sempurna untuk mewakilkan nuansa. Mendekati, iya. Tetapi persis?
Maka, bahasa lisan menjadi bahasa hati.
Aku tak percaya karena pernah menertawakannya lebih dari sekali. Kupikir sungguh konyol dan ndak bisa dirasionalisasi. Sampai semuanya kualami sendiri.
Ternyata resepnya hanya; Kita. Dan waktu saja, berapapun jumlahnya. Sisanya, ndak perlu ada kata lagi.