Ini sepotong cerita tentang Yumna, Yusuf, Kholil, dan Yahya berlebaran di kampung Umi. Tahun ini.
***
Fragmen Itikaf
Usai mengambil putaran di depan gerbang selatan masjid, kami masuk ke pelataran parkir. Ada 1 mobil sedan dan 1 minibus di sana. Satu SUV terlihat baru meninggalkan area masjid. Di selasar, ada beberapa orang tengah mengobrol. Tiga remaja di tangga masuk terlihat menertawakan sesuatu. Satu orang berdiri bertelekan tiang beranda, fokus dengan telepon genggamnya.
Kami memarkir mobil tak jauh dari pintu masuk selatan. Persis di depan tempat wudhu luar. Nampak meja-meja bundar dengan taplak putih biru dijajarkan rapih di selasar utama dekat pintu masuk timur.
Aku masih perlu mengambil tas di kursi belakang, untuk persiapan. Tak menyadari Uda, Yusuf, dan Kholil malah langsung mengitari masjid setelah mentas dari mobil hanya untuk mencari pintu masuk. Padahal kami parkir tak jauh darinya.
Aku dan Daffa jadi mengikuti Uda dan anak-anak. Sempat bertanya kepada Daffa, dijawab hanya dengan gerakan bahu dan wajah bingung. Aku menunjuk pintu masuk yang kumaksud, Daffa lagi-lagi merespon dengan cengiran. Aku maklum, Daffa juga baru pertama kali ke sini.
Setelah mendapati diri kami berada di Continue reading