Sampai diskusi terakhir kami malam ini, aku katakan padanya bahwa aku belum sepenuhnya ikhlas dengan putusannya pindah ke daerah. Namun, aku tahu–dan masih kecewa berat karena–aku ndak akan bisa mencegahnya lagi. Yang sedikit membuat ringan hati, sehafalku, dia bukan profil yang mengambil keputusan tanpa menimbangnya dengan amat baik. Aku percaya, pasalnya pasti sudah sangat kuat.
Dia memang akhirnya menceritakan alasan di balik kepindahannya. Beberapa poinnya dia ulang dari percakapan kami dulu ketika pertama kutahu dia punya rencana pindah. Pada gilirannya, seperti beberapa hal yang juga jamak kami obrolkan, kami ndak mesti selalu setuju. Kami juga bisa sepakat untuk ndak sepakat. Meski, sekali lagi, itu ndak melunturkan rasa hormatku padanya.
Seperti banyak petang atau malam yang kami (atau tepatnya aku ‘memaksa’nya tinggal lebih lama untuk) habiskan jika kebetulan kami sama-sama pulang agak larut, kami nikmati lagi petang hingga malam ini di ruangannya untuk diskusi atau ngobrol dan bercanda tentang banyak hal. Tentunya sehabis dia selesai melayani teman-teman lain yang sendiri atau berkelompok mengekspresikan kegundahan mereka. Ya, pastinya aku bukan satu-satunya di kantor ini yang akan merasakan kehilangan.
Dibanding hal lainnya, mungkin aku akan paling merindukan Continue reading