Monthly Archives: May 2014

Ajak

Saat ini saya percaya, tiap orang memiliki (atau dibekali) kapasitas untuk memilih. Tak perlu berlebihan meyakinkan atau bahkan memaksa orang lain agar percaya dan satu pemikiran. Ketika orang lain berbeda pandangan, saya cenderung mencoba untuk belajar terlebih dulu, apa yang menjadi latar pandangannya itu. Saya tetap membuka diri untuk salah, meski sebelum terbukti salah saya akan mempertahankan apa yang saya yakini benar.

Sekarang saya berpikir, dari sekian banyak sumber informasi, pengetahuan, dan ilmu yang bisa saya gali tak ada satupun yang betul-betul bisa menjamin kebenaran. Tiap lapisan wawasan ternyata ada celah tafsir. Dan di antara celah-celah itu, berjajar berjuta-juta kemungkinan dan pilihan untuk sampai pada kesejatian. Saya merasa belum punya cukup filter untuk menyaring mana yang pantas disingkirkan dan mana yang harus digamit. Terkadang saking frustasinya, saya manfaatkan jembatan-jembatan keledai dan jalan-jalan pintas.

Saya menyadari betul pilihan itu. Oleh karenanya, saya takut mengajak orang lain untuk mengikuti pandangan saya.

Hati adalah tempat kita meminta fatwa. Saya menyukai sesi-sesi curhat bersama hati. Meski saran dan usulan-usulan hati masih sering saya abaikan, saya tetap bebal dan selalu menghampirinya saat merasa letih dan tidak berdaya.

Hati tak pernah marah, saya hanya merasa malu sendiri.

Roman

“Akang, ndak kebayang deh kalau anakku pacaran sama akang.”

“Lho, kenapa, Mbun?”

“Kasian anakku.”

“Kok, bisa?”

“Iya, habis dirimu terlalu pake logika sih.”

Saya belum benar-benar paham maksudnya sampai dia menjelaskan beberapa hari kemudian—tentu saja setelah saya desak berulang-ulang. Dia bilang, waktu sulungnya sedih berlebihan karena tidak bisa memenuhi ekspektasi guru matematikanya di SD, dia sebetulnya menerima saranku soal apa sebaiknya yang bisa dilakukan seorang ibu untuk ‘memperbaiki’ cara berpikir sulungnya itu.

“Betul, Kang. Aku sepakat dengan saranmu. Aku juga hargai bagaimana kamu katakan bahwa saranmu cuma alternatif, tawaran… yang kalau bisa dipertimbangkan dengan sangat—haha..tetep kamu mah..,” Urainya dengan mimik serius yang tetap lembut-keibuan. “Tapi, Kang, the way you deliver your logic-advise itu loh…”

“Lho, memangnya kenapa?”

“Harusnya dirimu rekam waktu kamu ngomong, lihat sendiri deh. Buktinya kamu pernah bikin anak gadis orang nangis juga kan lain waktu kamu mulai kasih saran logismu itu…”

Aku tak menyangkal. Dan jadi tertarik untuk merekam bagaimana rupa atau ekspresiku kalau sedang menasihati orang. Tapi, nanti ndak alami dong…

“Dan satu lagi kang, Continue reading