Saat ini saya percaya, tiap orang memiliki (atau dibekali) kapasitas untuk memilih. Tak perlu berlebihan meyakinkan atau bahkan memaksa orang lain agar percaya dan satu pemikiran. Ketika orang lain berbeda pandangan, saya cenderung mencoba untuk belajar terlebih dulu, apa yang menjadi latar pandangannya itu. Saya tetap membuka diri untuk salah, meski sebelum terbukti salah saya akan mempertahankan apa yang saya yakini benar.
Sekarang saya berpikir, dari sekian banyak sumber informasi, pengetahuan, dan ilmu yang bisa saya gali tak ada satupun yang betul-betul bisa menjamin kebenaran. Tiap lapisan wawasan ternyata ada celah tafsir. Dan di antara celah-celah itu, berjajar berjuta-juta kemungkinan dan pilihan untuk sampai pada kesejatian. Saya merasa belum punya cukup filter untuk menyaring mana yang pantas disingkirkan dan mana yang harus digamit. Terkadang saking frustasinya, saya manfaatkan jembatan-jembatan keledai dan jalan-jalan pintas.
Saya menyadari betul pilihan itu. Oleh karenanya, saya takut mengajak orang lain untuk mengikuti pandangan saya.
Hati adalah tempat kita meminta fatwa. Saya menyukai sesi-sesi curhat bersama hati. Meski saran dan usulan-usulan hati masih sering saya abaikan, saya tetap bebal dan selalu menghampirinya saat merasa letih dan tidak berdaya.
Hati tak pernah marah, saya hanya merasa malu sendiri.