Danish dan Dihya menunggu Mamah selesai menyisir dan memilah kangkung di beranda belakang. Bagian yang ndak akan ikut dimasak, dikumpulkan dalam satu wadah yang sudah disiapkan. Kadang, lantaran ndak sabar menunggu, kakak-beradik ini merajuk–kepadaku atau Bunda yang memang jago memanjat–diambilkan seri atau kersen merah dari pohon yang tumbuh di belakang rumah.
Kalau sedang semangat seperti minggu ini, Danish mengambil tali tambang dari warung dan membangun entah-apa-untuk-naik-pohon-seri-sendiri. Kendati akhirnya sia-sia gegara konstruksinya acak dan ndak cukup menunjang Danish untuk memotek pucuk, ranting, dan buah yang diincarnya.
Sambil menggeramus seri-serinya, mereka mengumpulkan remah kangkung dan menambahkannya dengan sayur (atau buah) lain yang masih mungkin. Wortel, kol, jambu air, atau apalah.
Lepas Mamah memaklumkan bakal penganan itu, Dihya dengan antusias membopong periuk plastik yang sudah penuh isi ke rumah Jokowi dan keluarganya. Ndak begitu jauh, cukup dengan Dihya terpeleset saja kami sudah sampai di teras kediaman mereka.
Ndak ada seremoni menyuapi satu per satu anggota famili Jokowi memang. Dihya, dibantu Danish, cukup menyuguhkannya melalui celah pintu atau jendela yang tersedia.
Jokowi dan keluarga adalah pengganti pasangan yang lenyap beberapa bulan yang lalu. Sebab hilangnya ndak jelas. Bisa jadi Continue reading