Monthly Archives: October 2014

Potret

“Character, like a photograph, develops in darkness.” kata Yousuf Karsh-seorang fotografer legendaris abad 20. Suatu waktu saya mengutipnya untuk sekedar mengupdate status dan terlihat keren. Lalu, dengan cerdasnya ada yang bertanya: “Dengan kamera digital, ‘karakter’ berkembang seperti apa?”

Saya tertegun dan ndak bisa langsung menjawab. Kena batunya saya. Lagi-lagi lantaran sok tahu.. 😀

Buat para master di dunia fotografi, sebetulnya soal itu bisa dijawab dengan mudah. Masalahnya saya cuma ‘imigran-muallaf’ yang cuma paham secuil-cimit soal konten, konteks, dan komposisi sebuah foto. Pertanyaan yang begitu teknis seperti itu jujur saja out-of-my-league. Niat saya di awal juga sebetulnya bukan mau bahas soal fotografi. Lebih ingin memungut analogi soal karakternya saja.

Tapi pertanyaan cerdas itu tidak hanya memancing rasa ingin dan sok tahu saya soal pengembangan karakter di era digital. Mau ndak mau, sebelum berani menjawabnya, saya perlu mengerti soal cara kerja kamera digital. Karena ternyata saya juga kurang paham soal mekanisme kamera analog, saya juga mesti balik ke zamannya kamera lahir untuk perbandingan.

Pada prinsipnya, Continue reading

Idiotlogy

Wawasan saya yang cetek soal film-film India selain sejumlah tontonan khas drama percintaan melou yang lebai, bikin saya punya persepsi terbatas. Silver lining-nya, saya kebagian efek surprised setelah menyaksikan sinema-sinema India yang mengusung ruh ‘berbeda’. Mulai dari di antaranya ‘Lagaan’ (2001), ‘Black’ (2005), Rang De Basanti’ (2006), ‘Taare Zameen Par’ (2007), 3 Idiots’ (2009), ‘Peepli Live’ (2010), …. Maaf, ‘Gandhi’, ‘Bend It Like Beckham’, dan ‘Slumdog Millionaire’ masuk film produksi Inggris.

Dan di antara generasi di atas 2000-an, ‘3 Idiots’ disebut-sebut terobosan paling berpengaruh, sekaligus yang paling banyak ditonton. Bukan karena tekniknya yang baru, tapi karena temanya yang tidak mengarus-utama dan disampaikan dengan telak, meski tetap a la bollywood…

Trofi

Saya cukupkan puji-pujian buat film yang dibintangi aktor ‘awet-muda’ Aamir Khan ini. Alasan saya mengulas film ini adalah karena hiburan yang baik dalam standar saya harus melibatkan inspirasi dan gagasan. Dan tentu saja saya lebih menaruh respek kepada siapapun yang bisa menyampaikannya dengan humor, dengan menyenangkan, dengan imbuhan contoh, ketimbang selalu serius.

Bayangkan, kita hidup di zaman yang mengagungkan pencapaian. Sejumlah standar dan berbilang trofi dipajang untuk dilombakan serta diperebutkan. Kita diajarkan dan dididik untuk dapat memenuhi standar dan meraih trofiitu. Sebab, jika tidak, jangan salahkan siapapun jika tersingkir nantinya dalam kehidupan.

Nah, pertanyaan lahir dari situ. Pertama, benarkah harus ada yang tersingkir dalam persaingan hidup? Siapakah yang berhak menentukan standar dan menganugerahkan trofi? Atas dasar apa ia mendapat hak itu? Dan apakah standar-standar itu diberlakukan sama untuk semua, sementara Tuhan saja menciptakan kita berbeda-beda? Tidak bisakah manusia hidup tanpa bersaing satu sama lain, dan bahwa persaingan sesungguhnya adalah melawan dirinya sendiri? Tidak dapatkah manusia dihargai dengan keunikan-keunikannya, bukan kemampuannya untuk mencapai atau menyamai standar umum? Bukankah sebagai manusia kita dikreasikan Tuhan tak ada yang identik?

Saya cuma melamunkan, mungkin pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan itu yang menjadi gagasan sekaligus pesan yang ingin disampaikan film besutan Vidhu Vinod Chopra dan Rajkumar Hirani ini.

Jadilah, film ini salah satu hiburan inspiratif, tidak terkecuali bagi banyak orang Indonesia. Terutama karena ia hadir di tengah geliat materialisme yang semakin menggurita.

Esktra

Tidak mudah berjalan dengan arah berlawanan kebanyakan orang. Apalagi kemudian anda menyatakan bahwa selain anda, yang lain melangkah ke arah yang keliru. Butuh keberanian selain keyakinan ekstra. Jika tidak punya, mungkin bisa dicoba dengan membekap syaraf malu dan menghayati peran gila atau orang bodoh. Menjadi ‘manusia-pandir’.

Jika masih takut menjadi ‘bodoh’, pertimbangkan hasil studi psikologi ini (Ullen et al., 2010); ada kemiripan antara orang jenius dan orang bodoh atau gila. Satu; keduanya berpikir di luar (kotak) aturan atau ketentuan yang ada. Teknik ini memungkinkan pemecahan masalah secara kreatif, terutama untuk menyelesaikan persoalan pelik yang sulit dipecahkan oleh ‘rumus’ umum. Dua; mereka membuka pikirannya, menyenangi pengetahuan baru, belajar hal-hal baru.

Haus ilmu dan selalu merasa tidak banyak tahu apa-apa. Jadi, jangan gemetar dulu kalau anda merasa bodoh atau gila.

Lafalkan saja, aal izz well…. 🙂

Farhan Qureshi[after finding out Rancho topped their exam] That day we learned, when your friend flunks, you feel bad, when he tops, you feel worse.

(3 Idiots, 2009)