Monthly Archives: June 2010

Pria dan Drama

Pria itu masih menatap wanita dewasa yang duduk persis di hadapannya. Meski mata keduanya bertemu, Pria itu sama sekali tidak mendengarkan dengan baik. Telinganya tidak berfungsi, dadanya beberapa saat nyaris sesak. Takjub.

“Mas?”

“Mmm.. Ya?”

“Mas tidak mendengarkan saya.”

“Oh, maaf,” Pria itu kembali membetulkan posisi duduknya. Kali ini matanya penuh perhatian.

Senyap.

Menyadari situasi yang tidak seharusnya, Pria itu berusaha memecah keheningan. Setelah mengumpulkan ruhnya, dia menatap wanita yang  dikenalnya beberapa tahun terakhir itu dan berkata,

“Andai kau belum bersuami, tentu aku akan melamar dan menikahimu sekarang juga.”

Wanita itu sejenak menatap tak percaya. Menarik nafas dan menyandarkan punggung di kursi. “Mas mulai lagi.”

“Sungguh, Putri. Tapi, itu memang tidak mungkin. Kau pun tahu, aku sudah memiliki istri dan seorang anak laki-laki yang luar biasa.”

Angin dari beranda kafe menerbangkan ujung jilbab biru langitnya. Wanita itu menatap tajam dan memainkan pena di ujung tangan kanannya. “Sampai kapan kita akan menyelesaikan ini, Mas?”

“Kita masih memiliki waktu. Jangan terburu-buru. Bukankah tujuan kita kemari untuk menikmati senja dan mengenang masa lalu?”

“Ya, tapi…”

“Sudahlah. Itu masih bisa kita kerjakan lain waktu.” Ujung kalimat putri terpenggal oleh kata-kata dan tangan pria di hadapannya. Map dan agenda binder Putri ditutup, disimpan di tepi meja mahoni. Putri tak kuasa menampik. Ia hampir selalu tak bisa melawan argumentasi pria yang tengah memandangnya dengan binar sempurna itu.

Tangan pria itu lalu menjulur dan menggenggam lembut jemarinya yang dipaksa menanggalkan pena. Genggaman tangan yang selalu ada untuk meredam kesedihannya di tahun-tahun dia begitu terpuruk. Genggaman yang hangat dan secara jujur selalu ia rindukan.

“Sekarang, katakan padaku bahwa kau juga mencintaiku.”

Putri menghela nafas. Ia sudah cukup mengenal pria di depannya ini. Yang tak bosan mengumbar cintanya lewat kata dan sikap setiap hari. Salah satu daya tarik besar untuk putri yang memiliki sifat berkebalikan.

Putri tersenyum kecil pada dirinya sendiri, kemudian menatap pria itu. Membangun kembali kumparan energi dan keberanian.

“Baik. Tapi saya tetap tak mungkin menikah lagi. Saya sangat mencintai suami dan putra yang mencintaiku dan jadi keluargaku sekarang. Itu sudah cukup.”

“Darimana kau yakin bahwa suamimu juga mencintaimu?”

“Mas, sudahlah.” Putri semakin jengah.

“Putri, aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku hingga akhir hayat nanti.”

“Mas, aku tahu. Hampir tiap hari kau mengabariku itu.” Putri putus asa.

“Hampir?”

“Oke, setiap hari. Aku memang tak ingat ada hari dimana tak ada ucapan itu darimu, meski hanya lewat SMS.” Putri di jurang batas kesabarannya. Laki-laki dewasa di depannya ini sudah membuatnya nyaris kesal. Ini sudah berlebihan. Hari ini dia sudah cukup hectic dan ajakan pria itu siang tadi sangat tidak dia duga. Dan bukankah seharusnya dia masih di luar kota?

“Mas, aku mencintaimu. Dan cintaku yakin bahwa kau juga mencintaiku.” Putri melepaskan genggaman tangan. Dia tidak punya energi dan ekspresi tambahan. Pria itu tersenyum. Putri tidak tahu siapa yang menang dalam hal ini.

“Sekarang, sudah hampir waktu berbuka. Kita mau pesan apa? Farhan sudah terlalu lama kita tinggal bersama uwa-nya.” Putri mengedarkan pandangan, mencari pelayan.

“Lho, sore ini kan mas bilang kita niatkan waktu untuk berdua saja. Biar Farhan bersenang-senang di rumah Uwa. Nanti kita bawakan dia dan sepupu-sepupunya martabak yang dia suka.”

Putri mengalah lagi. Hari ini dia memang sudah cukup penat.

“Aku pesan es podeng dulu buat ifthar. Mas mau apa?”

“Apapun yang kamu suka, duniaku.”

“Oke. Aku pesankan air putih saja ya?”

“Ada kamu, itu sudah sangat manis buat, Mas.”

“Aaah, Mas udahan ah. Gombalnya dah akut tuh. Aku bisa meledak nanti.”

“Hahaha…”

Putri melambaikan tangan pada pelayan. Pelayan mendekat ke meja yang mereka tempati berdua.

“Oh iya, Bunda. Aku lupa bilang…”

“Lupa apa, Mas?” Putri menoleh lagi, menunda pesanan yang siap dicatat pelayan.

“Terima kasih telah bersedia Allah kirim dari surga untuk menjadi istriku dan bunda Farhan. Selamat hari lahir. Aku cinta kamu.”

Pelayan mencatat. Putri dan air mata.

Carenang, Early Sept 2010.