Aria pernah menyebutkan jika sebetulnya Hotel Garuda berada di jalur yang, sebelum gempa terjadi, mirip dengan kawasan Dago di Bandung. Sayangnya, hari ini kawasan tersebut jadi kumuh dengan barisan PKL yang tidak tertata. Upaya Pemko Padang belum berhasil merapihkan dan mengembalikan kenyamanan pengunjung yang sebelumnya biasa berbelanja di toko-toko sepanjang jalan. Toko-toko yang dulu berjajar megah dan ramai pun kini banyak yang gulung tikar. Sepi pengunjung yang tidak lagi merasa nyaman berpelesir di wilayah ini.
Pagi ini, aku berkesempatan jalan-jalan lagi. Hotel Garuda berada di pusat keramaian Kota Padang, persisnya di samping Pasaraya yang masih belum kembali rapih pasca gempa. Ke arah utara, belok kiri sedikit ada Balaikota (yang sekarang digunakan untuk ruang kantor walikota dan wakil walikota) dan Alun-alun. Di barat, terdapat Plaza Andalas (PA) yang sudah beroperasi kembali 3 bulan terakhir setelah gempa setahun yang lalu. Ada juga Bioskop lokal satu-satunya di Padang, tidak jauh dari Hotel. Meski sebagian besar film yang ditayangkan sudah sangat ketinggalan, tapi aku cukup memuji karena “Sang Pencerah” ternyata sudah ikut diputar di sini.
Aku sempatkan mencicipi jajanan pasar. Beberapa potong bika (yang jauh berbeda dengan bika ambon) aku beli. Tadinya mau mencicipi lontong padang dekat bundaran sesuai saran Aria. Tapi aku ingat di hotel pun disediakan sarapan. Aku tunda dulu.
***