Monthly Archives: October 2010

Marantau di Nagari Minang – Tragedi Sambal dan Bendera Jerman

Aria pernah menyebutkan jika sebetulnya Hotel Garuda berada di jalur yang, sebelum gempa terjadi, mirip dengan kawasan Dago di Bandung. Sayangnya, hari ini kawasan tersebut jadi kumuh dengan barisan PKL yang tidak tertata. Upaya Pemko Padang belum berhasil merapihkan dan mengembalikan kenyamanan pengunjung yang sebelumnya biasa berbelanja di toko-toko sepanjang jalan. Toko-toko yang dulu berjajar megah dan ramai pun kini banyak yang gulung tikar. Sepi pengunjung yang tidak lagi merasa nyaman berpelesir di wilayah ini.

Pagi ini, aku berkesempatan jalan-jalan lagi. Hotel Garuda berada di pusat keramaian Kota Padang, persisnya di samping Pasaraya yang masih belum kembali rapih pasca gempa. Ke arah utara, belok kiri sedikit ada Balaikota (yang sekarang digunakan untuk ruang kantor walikota dan wakil walikota) dan Alun-alun. Di barat, terdapat Plaza Andalas (PA) yang sudah beroperasi kembali 3 bulan terakhir setelah gempa setahun yang lalu. Ada juga Bioskop lokal satu-satunya di Padang, tidak jauh dari Hotel. Meski sebagian besar film yang ditayangkan sudah sangat ketinggalan, tapi aku cukup memuji karena “Sang Pencerah” ternyata sudah ikut diputar di sini.

Aku sempatkan mencicipi jajanan pasar. Beberapa potong bika (yang jauh berbeda dengan bika ambon) aku beli. Tadinya mau mencicipi lontong padang dekat bundaran sesuai saran Aria. Tapi aku ingat di hotel pun disediakan sarapan. Aku tunda dulu.

***

Marantau di Nagari Minang – Tangan Abang yang Dingin

30 September punya arti sejarah lain, khususnya untuk masyarakat Sumatera Barat. Hari ini tepat 1 tahun peringatan Gempa Sumbar. Berita tadi malam dan pagi ini di media lokal (Padang TV, padangtoday.com, dll) dan media nasional (TV One rencananya akan meliput langsung peringatan ini)berulang menghimbau kepada warga Kota Padang untuk turut menghadiri peringatan yang dipusatkan di Taman Melati. Masyarakat juga diseru untuk mengenakan pakaian putih-putih.

Sebagai penghormatan, hari ini aku juga mengenakan baju putih.

***

Bang Irsyad ada waktu untuk ditemui hari ini. Jadi, aku putuskan untuk check-out dari Mayangsari. Semua bawaan sudah kembali masuk ransel dan koper. Termasuk emping dan ceplis titipan dari keluarga di Serang untuk Abang juga Papa & Ibu di Payakumbuh. Tidak banyak. Sekedar untuk pengingat.

Karena waktu pertemuan direncanakan sore hari, dan rasanya tak mungkin aku langsung mengangkut barang-barang dan menembak Bang Irsyad di tempat dengan memintanya menampungku selama di padang ketika nanti kami bertemu, maka diputuskan ranseld an koperku disimpan sementara di kontrakan Aria.

Kabar baik datang. Honda rental akhirnya tersedia, setelah kemarin gagal kami langsung bawa-pakai. Siang itu juga, setelah urusan administrasi mayangsari selesai, aku minta honda menjemputku dulu di penginapan. setelah urusan panjar selesai, Aria lantas mengangkutku ke simpang haru, untuk menyimpan bawaan.

Langit Padang senantiasa bermurah hati. Nyaris setiap hari hujan atau gerimis. Sebelum berangkat menemui Abang di Kelurahan Air Dingin, Koto Tangah, kami putuskan untuk membeli jas hujan.

Jalur yang ditempuh kali ini melalui jalan By Pass. Dari simpang Lubuk Begalung, kami belok kiri. Aria masih harus bertanya untuk memastikan alamat pesantren Arrisalah. Setelah beberapa keterangan, di simpang Lubuk Minturun, kami belok kanan. Jalur pendakian.

Teteh pernah cerita bahwa dari Arrisalah laut padang bisa terlihat. Analogi Teteh, “Mirip asrama ade waktu di cisarua yang bisa lihat Kota Bandung. Arrisalah juga di kaki bukit letaknya.”