Category Archives: Embara

Melintang Malang [side-B]

Malang buatku kota yang cukup tenang. Tidak terburu-buru seperti Jakarta–atau sekarang, Bandung, Surabaya, dan Makassar juga.

Menemukan suasana kota seperti ini yang kulamunkan sejak ingin menginjakkan kaki di Malang. Bertahun-tahun yang lalu.

Sekarang, ketika tiba di Abdur Rahman Saleh, jalan melewati kebun-kebun tebu, sawah, serta ladang sebelum memutuskan memakai jasa ojek online dan mulai memasuki kota, aku bersyukur menyengajakan diri mengunjungi Malang tanpa embel-embel dinas.

Toraja on Syphon

Mas Rendy, sang ojek, dengan senang hati mengajakku town-seeing dulu sebelum mengantarku ke homestay di Bareng (dibaca seperti Gareng, salah satu punakawan). Mas-nya juga yang membujukku untuk gunakan jasa ojek untuk jalan-jalan seputaran Malang. Atau sekedar mengantarkan makanan ke penginapan, katanya.

“Ke Batu juga bisa kok, Mas.”

Tapi, aku sudah terlanjur meminta bantuan Mbak Yoshi mencarikan sepeda untuk kubawa berkeliling Malang dan sekitarnya. Mbak Yoshi pun memenuhinya. Mudah saja rupanya untuk destinasi Wisata seperti Kota Batu dan Malang ini.

Rumah singgah di Bareng adalah opsi kedua setelah Mbak Ajeng (dibaca seperti Bareng yang artinya sama-sama) di Karangploso bilang kalau Omah-nya sudah penuh minggu ini.

Pasca memulihkan hape yang sekarat, plus menyimpan bawaan secukupnya di kamar, Mas David dan aku mengambil sepeda sewaan dari salah satu jejaring trip-organizer-nya. Dalam perjalanan, Mas David memberiku orientasi rute sekitaran pusat kota Malang. Juga beberapa lokasi makan, ngopi, atau pusat keramaian yang dijadikan pilihan tamasya warga kota atau tujuan para pelancong.

“Ya paling ndak, supaya lebih mudah hapalin jalan balik ke penginapan,” Katanya setelah kami Continue reading

Melintang Malang [side-A]

Kenapa Malang?

Random aja, kok. Mungkin memang sudah waktunya. Kan di mana-mana kalau sudah waktunya ya sembahyang..

Tiket yang sudah dicetak sejak akhir Mei lalu kusimpan dalam saku. Gojek sedang dalam perjalanan. Masih jam 6 kurang.

Jalanan sepi. Rasuna Said yang biasanya macet walau tanpa pekerjaan proyek LRT, lengang dan terasa lapang. Terlihat berantakan, tapi tenang. Ndak ada hiruk pikuk seperti biasanya. Atau keramaian lantaran hari ini Indonesia merayakan hari jadinyaMungkin beda jika nanti sedikit siang.

Itu alasannya aku memutuskan berangkat lebih dini.

Dan sesuai ekspektasi, aku sampai terlalu pagi. Bahkan gerbang penerbangan pun belum tersedia. Yang ada, hanya banyak ruang untuk dikunjungi imajinasi.

Dari tiap lekuk dan lengkung bangunan. Di masing-masing sudut serta pojokan, arsip dokumen dan foto-foto tua tentang cerita persiapan kemerdekaan. Dari figur-figur yang diam dan berjalan. Dari warna-warni dan macam-macam sandang. Sahutan pun percakapan yang terdengar sepenggalan. Pada aroma serta wangi-wangian. Bentuk jejak juga percikan. Decik serta derit benda-benda yang digerakkan..

Semua menyilakan dirinya untuk Continue reading

Senandika Negeri Jingga (Palet 1)

Aku masih ingat, betapa kau sangat menyukai cerita. Sampai-sampai satu hal yang diminta dariku saat kau pulang nanti adalah hadiah buku-buku cerita. “Apa aja. Pokoknya Yumna suka buku cerita,” Ujarmu dengan keceriaan yang meluap.

Senyumku tak berhenti mengembang. Ia pun pernah memantul tepat pada saat aku ditanya, “Kualitas apa yang anda punya untuk mendukung keikutsertaan anda dalam pelatihan ini?” Jawabanku singkat dan pasti; “I love stories!!”

Ya, aku juga menyenangi cerita. Mendengarkannya, membacanya, merasakannya, menyelaminya, memerankannya, kadang ikut tersesat di dalamnya. Seperti menjelajahi dunia-dunia yang tak dikenal sebelumnya.

Semoga perasaan kita sama. Sebab, untuk itulah aku bercerita untukmu kali ini.

***

Hari I; Tiba

Kami tiba di Schipol sekira pukul 8 pagi. Sudah 25 Oktober rupanya. Selain merasakan lelah perjalanan panjang dari Kuala Lumpur selama 10 jam lebih, rasa lega dan gembira juga mendominasi. Akhirnya kami tiba juga di Belanda. Negeri jingga yang kubayangkan akan kaya warna saat musim gugur tiba.

Aku tidak sabar untuk merasakan sajian berikutnya. Tapi kami mesti mengantri untuk menerima uang saku kami selama di sini. 600 euro. Ditambah 50 euro uangku sendiri yang kutukar di Jakarta.

Setelah semua menerima sangu untuk 3 minggu itu, kami ber-20 dikawal Marise dan si mungil Anais keluar bendara. Akhirnya kami merasakan angin dan hawa dingin pertama. Dan tentu saja menyaksikan Schipol dari sudut pandang yang berbeda. Bukan jajaran toko-toko atau lapisan gerbang dan garbarata, tapi bangunannya secara keseluruhan. Seperti yang kubayangkan, modern dan tentu saja canggih dan tertata rapih.

Foto-foto, update status, check-in, atau apalah, wajib urusannya. Sebagian yang sudah membeli sim-card lokal mudah sekali melakukannya. Yang belum, atau yang berniat mengandalkan koneksi wi-fi saja, harus rela bersabar sampai bisa terhubung dengan jaringan dan dunia maya.

Kami masuk bis yang kukira sudah lama tiba. Paul kelak kutahu nama sopirnya. Kami pun menuju Haarlem, kota kecil yang asri tak begitu jauh dari Amsterdam, ibukota Belanda. Tak lama kami tempuh perjalanan, mungkin tak sampai satu jam. Sekira jam 10 waktu setempat kami sudah tiba di depan hotel. Haarlem Hotel Suites. ‘Tersembunyi’ lobinya, kecil saja. Dengan beberapa pegawainya yang bisa kulihat. Semua kaum hawa.

Lantaran kami sampai terlalu dini, kami diminta menunggu selagi kamar disiapkan. Kafe Seymour di seberang lobi hotel jadi tempatnya. Sajian stropwaffel dan kopi/teh hangat sebagai compliment. Enak dan hangat tentunya. Kami membutuhkannya karena udara sudah terasa dingin. Suhu mungkin di sekitar 10-12 derajat. Di luar, kami sudah perlu memakai pakaian berlapis.

Habis kopi dan snack yang tersaji, setelah urusan soal koper dan pembagian kamar tuntas, kami baru dipersilahkan masuk ke kamar setelah jam 1 siang. Maka, ada kira-kira 3 jam bebas kami melakukan apa saja buat membunuh waktu. Tak perlu menunggu, kami semua bertebaran mencari hal-hal (dan tentu saja spot untuk foto) yang menarik di Haarlem.

Kami pakai peta yang kami dapat dengan cuma-cuma di hotel guna memandu. Tak perlu lama, kami berpencar. Asep dan aku akhirnya berdua saja. Menyusuri kota dan menyisir kanal-kanalnya. Sambil menahan dingin dan mengumbar takjub. Serta shutter-count tentunya. Pakai Ipod saja cukup kami kira.

Hit It Haarlem

Haarlem; Hit It

Sepanjang jalan aku masih berpikir, tak perlu terobsesi dengan foto-foto atau dokumentasi. Ekstrimnya, foto hanya untuk memori lemah. Ingatan kuat tak perlu foto. Daripada habiskan banyak waktu untuk berpose-ria, lebih baik manfaatkan masa untuk menjelajah dan benar-benar melihat serta merasa nuansa. Lagipula, jika ingin bernostalgia, tinggal kembali saja dan nikmati ulang suasananya secara langsung.

Kukira, itu alasan yang bagus. Alasan untuk lupa membawa kamera. Juga alasan jika ingin kembali ke sini.

Kembali soal Haarlem, pusat kotanya memang bisa dijelajah dengan berjalan kaki seharian. Tapi hari pertama berjalan 3 jam saja sudah terasa pegalnya. Dalam 3 jam itu kami menemukan banyak bangunan tua yang kokoh dan megah. Terutama gereja dan gedung-gedung bersejarah atau milik pemerintah. Rumah-rumah pula nampaknya. Setia dengan khittahnya.

Toko-toko fashion juga. Berderat banyak di pusatnya. Tampilan luarnya boleh antik. Di dalamnya penuh penghangat plus koleksi dengan desain busana terkini juga trendi. Dan mahal untuk ukuran kedalaman saku yang kupunya.

Yang paling menyolok mataku, banyak lalu-lalang sepeda di sini-sana. Jauh lebih banyak dari kendaraan bermesin. Tua-muda, lelaki-wanita, anak-anak juga, baik yang dibonceng di depan dengan bak khusus atau mengayuh sendiri sepedanya. Dengan baju-baju tebal, syal atau scarf di leher melingkar, rambut pirang dan kemerahan, kulit pucat, postur tinggi dan besar proporsional (trembelane, bagaimana mereka melakukannya?!).

Seperti parade model saja.

Kaki-kaki mereka berjalan cepat. Lebih cepat dari kami yang barangkali tentu tak mengejar apa-apa dan kagum-kagum saja kerjanya. Dinginnya udara dan adaptasi iklim rasanya pekerjaan jasmani yang lambat. Tak begitu kami sadari sampai kulit terasa kering dan bibir pecah dan perih rasanya.

Kanal-kanal yang bersih kukira airnya. Jalan-jalan dari batu-bata merah tua yang kuat, granit yang tangguh, dan besi-besi tebal yang terkadang digunakan sebagai pembatas atau penghalang. Aspal yang hanya ada di jalan raya. Pohon-pohon berderet rapih terutama di pinggir kanal. Sebagian besar masih hijau warnanya. Sebagian menguning, menjadi jingga, hingga mulai ada yang merah dan berguguran helai demi helai. Di taman juga. Tak kalah juara pemandangannya.

Ambooooi. Puitis seperti yang kubayangkan di tanah air dengan noraknya.

Hit It Haarlem 2

Non-Words

Bagian kanal dan taman adalah bagian jelajah kami yang terakhir. Hari ini. Ada monumen kincir angin yang kuminta Asep fotokan denganku ada di dalamnya untuk kukirim segera ke Cairo. Setelahnya, memakai kembali peta kami kembali ke titik di mana kami mulai. Lobi Hotel Haarlem.

Kami diantar Lisa, salah satu staf Hotel yang manis rupa, ke lokasi yang berbeda. Aku di Entrance 2, Asep di tempat lain yang tak kutahu namanya.

Di sini lah jadinya, Kleine Hout 1 dengan Ramon teman sekamarnya. Untuk 2 minggu ke depan di Haarlem setidaknya. Ruang asri di lantai 2, di atas sebuah cafe, dengan teras luas untuk menyapa musim dingin yang segera tiba, kamar tidur dengan kasur tambahan, dapur lengkap, jaringan tv berbayar, sepasang kursi sofa, serta ruang kerja mungil yang terpisah di pojok sana.

—Kukabari dia sekarang tidak ya? 😉

Sorenya, sebagaimana Marise minta, kami berkumpul dekat sebuat tempat di pinggir kanal. Rupanya kami diajak untuk berperahu bersama. Merasakan bagaimana Haarlem direguk sore hari dari sulur-sulur kanalnya.

Kemudian: Hari II; Perkenalan

Air Bergemuruh

Dua terjemahan yang berbeda. Satu dari delapan tepi kutub laluan para pejalan. Dan jutaan gradasi dan motif warna yang dilukisNya di tiap sayap rama-rama dan dinding gua.. Terpujilah.

Sisa waktu tinggal sepenggal hari sebelum bersama garuda kembali kembali ke jawa. Apapun, pikir kami, kesempatan layak tak dilewatkan.

Kali ini simpangan yang kami ambil adalah sebuah kawasan dengan titel Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan yang membentang di dua kabupaten di Sulawesi Selatan; Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Lokasi yang populer sebagai wisata keluarga dan tak sukar dijangkau. Sekira satu jam lebih perjalanan mobil dari pusat kota Makassar. Lebih hemat setengah waktu perjalanan jika langsung ambil langkah dari bandar udara Sultan Hasanuddin. Ya, sepenggal hari bisa sangat berharga.

Dibanding opsi lain yang juga mungkin, aku memang lebih memilih Bantimurung. Sederhana, karena kupikir ini saatnya untuk masuk goa.

“Mau cari wangsit, kamu?” Continue reading

Gala Krakatau – laman 1

Mungkinkah laut setenang itu? Mungkinkah seteduh itu? Sehening itu?

SUNJAYA 1 melaju mantap menuju ke Dermaga Canti. Sesekali terayun-ayun dibuai gelombang yang terhantam. Angin nampaknya sedang kuat. Kukira karena menjelang pergantian musim.

“Saya pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari sekarang,” Bang Sapoy, jimat perjalanan kami kali ini kembali berkisah. “Waktu itu ombaknya tinggi, hampir 2 meter. Perahunya sama persis perahu kita ini. Malah lebih tua umurnya. Hampir semua yang ikut trip waktu itu jackpot. Udah kayak kena badai. Ga karu-karuan lah.”

“Ini bukannya normal ya, Bang?” Sembari sedikit merubah posisi duduk, dengan mata tetap terpejam dan telinga yang menggantang angin, aku meladeni ucapannya. Lumayan, mengusir bosan dari 2 jam perjalanan.

“Ombak memang sedang besar belakangan. Trip kemarin juga hampir sama kuat gelombangnya kayak sekarang. Tapi, biasanya air di sini tenang,”

Tenang? Maksudnya?

“Kayak di danau.” Jawabnya tanpa didahului pertanyaanku.

Aku menoleh. Bang Sapoy tidak sedang meracau. Jelas bukan tanda-tanda ia akan Continue reading