Monthly Archives: October 2012

Rumah

Aduh, aduh. Aku tidak tahu jawaban dari hampir semua pertanyaan yang kau ajukan. Salah sendiri bertanya kepada pandir-bergelar: Meski aku punya gelar yang memberiku status dan kedudukan di mata masyarakat, pada dasarnya aku tetap pandir. Sebesar apapun gunung es, ia tetap es yang paham kengerian berhadapan dengan lup dan mataharinya.

Kalau aku ini pun tahu, kemungkinan besar malu dan ego-ku tak akan bikin aku mudah buka mulut. Masalahnya aku memang suka takut ngomong, yang aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku omongkan. Kalau toh aku kelepasan banyak ngomong, ya itulah sisa-sisa kejahiliyahanku (yang ternyata masih kental sekali).

Jadi, daripada terus membincangkan soal jalannya kekuasaan, dinamika sosial, pertunjukan kepemimpinan, laku keber-agama-an aku, kita, dan/atau mereka, saya sekarang lebih suka kita bicara soal rumah. Rumah yang sedang saya ingin bangun.

Lantai Pertama

Saya lagi overwhelmed dengan gambar bestek, ceker ayam, sloof beton bertulang, besi banci, dinding-bata ekspose, batu padas-dipancang ulin, pasangan batu kali, rabat beton, bata-bakar-matang, dan seterusnya, dan seterusnya.

Entah apa hubungan mereka dengan imajiku soal rumah yang ingin aku tempati nanti. Apa mereka akan berebut menyesaki ruang seluas 120 meter persegi ini? Seperti apa mereka nanti menampakkan (atau menyelinapkan) diri? Ataukah justru mereka satu sama lain saling bersaing untuk eksistensi (A menegasi M, B menyingkirkan O, Y mengindahkan Z, dst); Pilihan?

Saya bertanya dan berkonsultasi pada teman saya yang arsitek sekaligus pemborong. Dan setelah obrolan sok-serius itu saya jadi punya prasangka sok-yakin bahwa selain koruptor dan pengacara, pengembang dan pemborong akan banyak mengantri di jalur neraka. Anda boleh tertawa dan mengatakan dengan keras di depan muka saya bahwa prasangka saya itu bias perspektif dan sarat dengan kepentingan. Tapi, saya ingin tegaskan di sini sekarang; Apa yang anda katakan itu benar.

Bakal

Dari dulu saya selalu penasaran, bagaimana caranya sebuah rumah bisa berdiri dengan indahnya? Apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu? Apa yang tidak boleh tidak dilakukan ketika membangun rumah? Bahan apa yang paling bagus untuk dasar, dinding, pintu & jendela, serta atap atau aspek lainnya? Jika membangun rumah memerlukan tim, berapa banyak divisinya? Siapa mengerjakan apa dan kapan? Apakah mengerjakan pondasi tidak boleh bersamaan dengan sesi pengerjaan atap? Bagaimana jika bentuk bangunan tidak mirip dengan sketsa atau desain awal rumah? Apa elemen paling penting di sebuah rumah yang membuatnya benar-benar ideal sebagai tempat tinggal? Bagaimana menyisipkan kelenturan dalam bangunan rumah agar ia tetap kekar dan cantik ketika kita membangun elemen tambahan/perubahan di kemudian hari?

Mengingat daftar pertanyaan di atas, saya selalu beranggapan bahwa membangun rumah itu adalah seni. Yang dapat mewujudkan sebuah rumah dalam bantuk bangunan utuh yang aman, nyaman dipandang dan untuk ditinggali (tidak melulu mesti ‘ideal’), tentu bukan orang sembarangan. Apalagi jika mampu mengimbuhi ketinggian estetika berbaur dengan kesadaran etik, sosial, ekonomi, humaniora, hingga spiritualitas. Itukah juga yang membuat profesi arsitek dan bidang real-estate sepertinya luar biasa bergengsi?

Banyak tamsil yang menggunakan rumah sebagai perumpamaan: agama, negara, kehidupan keluarga, sistem ekonomi, dan seterusnya. Oleh karenanya, pemahaman yang baik tentang rumah–kriteria rumah yang baik & sehat, cara membangun rumah, merawat rumah, mempercantik rumah, menghembuskan kehidupan dalam rumah–akan membantu kita memahami banyak hal dengan lebih baik.

Kita lebih menyadari pentingnya sebuah rencana, bahkan, visi. Kita lebih memahami perlunya memilah bahan terbaik. Kita lebih mengerti arti pembagian tugas dan kerjasama. Setidaknya.

Kita juga mungkin belajar lebih baik tentang apresiasi. Terhadap impian kita, terhadap hasil upaya banyak orang, terhadap proses, terhadap sesuatu yang sudah kita bangun.

Saya diharuskan mengenal istilah-istilah ‘alien’ untuk lebih memahami apa yang yang saya hadapi dan kerjakan (juga supaya tidak jadi korban fatal kedzaliman pengembang dan/atau pemborong). Dan ini menariknya, saya teringat sesuatu, mungkin ini juga salah satu wujud cita-cita dalam kertas-lusuh-bekas-fotokopi-dokumen-antah-berantah yang pernah saya simpan bertahun-tahun yang lalu di kios fotokopi tempat saya bekerja.

***

Fase 1

Untuk apa saya membangun rumah pribadi? Mengapa saya mengikat diri saya semakin banyak dengan materi dan kebendaan? Lebih jauh, mengapa saya sekarang begitu peduli dengan kepemilikan?

Meski pertanyaannya tergolong dalem, saya hanya bisa menjawabnya secara dangkal. Jadi, anda hanya perlu khawatir jika anda tidak bisa menjawabnya sendiri.

Jawabannya: Saya perlu tempat untuk pulang.