Awalnya tidak disengaja. Kebetulan salah satu keponakan menggunakan gedung salah satu partai besar di Indonesia yang biasa disewakan untuk resepsi berbagai acara. Persis di belakang gedung itu terpampang rel kereta, jalur jakarta merak. Dan untuk pertama kalinya, Daffa menunjukkan antusiasme besar melihat kereta demi kereta lewat. Sampai-sampai Daffa kukuh tidak beranjak dari tempatnya mengamati lalu lintas kereta hingga senja menggelap dan nyaris tak ada seorangpun lagi yang mau menemaninya..
Daffa tertarik pada kereta, bukan cerita baru. Mainan dan tokoh rekaan favoritnya adalah Thomas, si kereta (di samping mobil pemadam kebaran, tentunya). Ini pun bukan kali pertama Daffa melihat langsung kereta. Tapi, untuk jarak sedekat ini, bisa jadi ini pengalaman pertamanya.
Sejak itu, Daffa selalu minta atau bersikeras meminta diajak-serta jika ada siapapun yang jalan-jalan ke serang (kota). Dan tempat favoritnya menunggu kereta melintas adalah di belakang gedung itu, di sisi sebuah beringin yang cukup berumur. Atau kita bisa mengenalinya juga dengan salah satu pintu masuk utama menuju stadion sepakbola Maulana Yusuf Banten.
Sebetulnya, ada hal yang sangat menyenangkan dari menemani Daffa melihat kereta-keretanya lewat. Kami bisa ngobrol tentang apa saja. Soal aktivitasnya di Taman Kanak-Kanak, soal mainan-mainannya, soal tokoh-tokoh rekaan kesukaannya, atau soal berbagai jenis kereta yang dikaitkan dengan warna dan jenis gerbongnya. Daffa juga sering melontarkan pertanyaan yang menurutku agak menggelitik. Daffa mengamati sekelilingnya, kemudian terlontarlah pertanyaan apapun yang kerap tidak terduga. Pertanyaannya seringkali diawali dengan “Yai, boleh nggak…?” atau “Kalau…., boleh nggak?”
Banyak pertanyaan Daffa yang memaksaku untuk menyediakan jawaban sekreatif dan semudah mungkin bisa dicernanya dengan baik. Tidak terlalu panjang, tidak asal jawab, tapi juga tidak mengada-ada.
Karena, jujur saja, bagiku jenis-jenis pertanyaanya imajinatif sekali, out of logic, yang bagi ‘orang dewasa’ mungkin sudah-sangat jelas-hapal-di-luar-kepala rekaan jawabannya, dan ya begitulah yang khas anak-anak seusianya.
“Boleh nggak kereta jalannya mundur?”
“Boleh nggak mobil naik kereta?” atau “Boleh nggak mobil jalan di rel kereta?”
“Yai, boleh nggak anak-anak ngejar-ngejar kereta?”
Atau “Kenapa rel kereta di (ujung) sana kecil, nggak kayak yang di sini, Yai?”
Dan banyak lagi…
Waktu akan terasa berlalu cepat. Jadwal kereta lewat biasanya pagi (menuju jakarta) dan sore menjelang maghrib (menuju merak), atau sebaliknya. Kami selalu menghitung kereta yang lewat di sore hari. Dan untuk meyakinkannya bahwa tidak akan ada kereta lagi yang lewat dan artinya harus segera pulang (karena carenang masih jauh dari kota), kami harus betul-betul menunggu paling tidak setengah jam lebih hingga kereta tidak menunjukkan tanda-tanda ‘kehidupannya’ lagi.
Suatu saat aku ingin mengajak Daffa naik kereta. Betul-betul menaikinya. Meskipun bagiku mungkin masih akan terasa sangat menyiksa…
