Monthly Archives: August 2011

Menunggu Kereta

Awalnya tidak disengaja. Kebetulan salah satu keponakan menggunakan gedung salah satu partai besar di Indonesia yang biasa disewakan untuk resepsi berbagai acara. Persis di belakang gedung itu terpampang rel kereta, jalur jakarta merak. Dan untuk pertama kalinya, Daffa menunjukkan antusiasme besar melihat kereta demi kereta lewat. Sampai-sampai Daffa kukuh tidak beranjak dari tempatnya mengamati lalu lintas kereta hingga senja menggelap dan nyaris tak ada seorangpun lagi yang mau menemaninya..

Daffa tertarik pada kereta, bukan cerita baru. Mainan dan tokoh rekaan favoritnya adalah Thomas, si kereta (di samping mobil pemadam kebaran, tentunya). Ini pun bukan kali pertama Daffa melihat langsung kereta. Tapi, untuk jarak sedekat ini, bisa jadi ini pengalaman pertamanya.

Sejak itu, Daffa selalu minta atau bersikeras meminta diajak-serta jika ada siapapun yang jalan-jalan ke serang (kota). Dan tempat favoritnya menunggu kereta melintas adalah di belakang gedung itu, di sisi sebuah beringin yang cukup berumur. Atau kita bisa mengenalinya juga dengan salah satu pintu masuk utama menuju stadion sepakbola Maulana Yusuf Banten.

Sebetulnya, ada hal yang sangat menyenangkan dari menemani Daffa melihat kereta-keretanya lewat. Kami bisa ngobrol tentang apa saja. Soal aktivitasnya di Taman Kanak-Kanak, soal mainan-mainannya, soal tokoh-tokoh rekaan kesukaannya, atau soal berbagai jenis kereta yang dikaitkan dengan warna dan jenis gerbongnya. Daffa juga sering melontarkan pertanyaan yang menurutku agak menggelitik. Daffa mengamati sekelilingnya, kemudian terlontarlah pertanyaan apapun yang kerap tidak terduga. Pertanyaannya seringkali diawali dengan “Yai, boleh nggak…?” atau “Kalau…., boleh nggak?”

Banyak pertanyaan Daffa yang memaksaku untuk menyediakan jawaban sekreatif dan semudah mungkin bisa dicernanya dengan baik. Tidak terlalu panjang, tidak asal jawab, tapi juga tidak mengada-ada.

Karena, jujur saja, bagiku jenis-jenis pertanyaanya imajinatif sekali, out of logic, yang bagi ‘orang dewasa’ mungkin sudah-sangat jelas-hapal-di-luar-kepala rekaan jawabannya, dan ya begitulah yang khas anak-anak seusianya.

“Boleh nggak kereta jalannya mundur?”

“Boleh nggak mobil naik kereta?” atau “Boleh nggak mobil jalan di rel kereta?”

“Yai, boleh nggak anak-anak ngejar-ngejar kereta?”

Atau “Kenapa rel kereta di (ujung) sana kecil, nggak kayak yang di sini, Yai?”

Dan banyak lagi…

Waktu akan terasa berlalu cepat. Jadwal kereta lewat biasanya pagi (menuju jakarta) dan sore menjelang maghrib (menuju merak), atau sebaliknya. Kami selalu menghitung kereta yang lewat di sore hari. Dan untuk meyakinkannya bahwa tidak akan ada kereta lagi yang lewat dan artinya harus segera pulang (karena carenang masih jauh dari kota), kami harus betul-betul menunggu paling tidak setengah jam lebih hingga kereta tidak menunjukkan tanda-tanda ‘kehidupannya’ lagi.

Suatu saat aku ingin mengajak Daffa naik kereta. Betul-betul menaikinya. Meskipun bagiku mungkin masih akan terasa sangat menyiksa…

Saba Eropa – End-Note: At The Heart of Alps

Semua berawal dari Carenang.

Jika bukan carenang, tentu saja ceritanya akan berbeda. Maka cerita ini sudah selayaknya diawali atau ditutup dari carenang. Mengapa carenang? Apa istimewanya carenang? Jawabannya tidak sulit. Carenang adalah tempat lahir dan tumbuhnya penutur cerita ini. Itulah benang merahnya, kata ki dalang parto. Sesederhana itu, se-katro itu.. 😀

Andai saya lahir dan tumbuh di tempat lain, sekali lagi, tentu cerita ini tidak akan menjadi special, setidaknya untuk saya sendiri. Tapi karena carenang yang namanya tidak muncul di peta Kabupaten Serang, yang tidak ada dalam database PT Pegadaian, seorang anak pendek-kurus dengan kulit nyaris hangus memandang dengan syahdu mimpi-mimpi yang berhasil disusunnya di kertas kumal buangan toko fotokopi.

zain inn

Budak Carenang nyaba Eropa” – Golden Roof, at the heart of the alps, Innsbruck Austria, 5 Juni 2011

Dia membuat sekian daftar dan menambahnya setiap menemukan bacaan baru yang menarik; berkunjung ke makam Rosulullah SAW, jadi presiden, jadi dokter, bergelar “prof.dr.ir.eng..dst.” seperti BJ. Habibie, memainkan partai sepakbola besar di stadion utama senayan, punya tahi lalat di bawah bibir seperti artis marcellino pemeran utama dalam ‘arjuna mencari cinta,’ naik pesawat, menginjakkan kaki di Jerman, dan mampir di anfield untuk bermain bola dengan Michael Owen… di antara catatan awalnya.

Dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Tempat dia lahir, orang-orang yang dia kenal di sana, pendidikan, akses informasi, hingga ekonomi di sana hanya memberikan satu petunjuk terang: mimpi-mimpi itu bahkan tidak dikenal di kampungnya sendiri.

Namun, baginya, bermimpi tidak dipungut biaya. Setidaknya hingga saat itu. Jadi silahkan bermimpi apa saja, benaknya. Saat seorangtua-berilmu memberi tahunya bahwa mimpi juga bisa menjadi do’a dan Allah Ta’ala Maha Pengabul segala do’a, si bocah semakin bersemangat. Siapa tahu Allah ada memperkenankan mimpi-mimpinya terwujud ketika dia masih disilahkan menghuni bumi ini.

Maka ketika satu per satu mimpi-mimpi itu termanifestasi dalam berbagi episode hidup yang dijalaninya, dia semakin yakin Allah Maha Pemurah kepada munajat yang baik. Mimpinya yang terakhir terwujud beberapa hari lalu adalah  mengunjungi sebuah negera yang bertetangga dengan Jerman di benua biru Eropa, Austria. Negeri yang berada di jantung pegunungan Alpen. Dengan sungai jernih yang mengalir membelah menjadi nadinya.

Sekedar catatan, tidak ada satu pun mimpinya yang terwujud persis seperti apa yang dia bayangkan. Mimpi-mimpi yang terwujud itu ‘hanya’ mendekati gambaran yang pernah dia imajikan. Tapi, bukankah di sana letak kemurahan Allah? Dia dekatkan mimpi-mimpi itu dengan kita. Menumbuhkan kepercayaan diri bahwa kita memang bisa jika kita mau bermimpi dan berusaha… Allah might not always gives us what we want, yet Allah persistently gives us what we exactly need.

Sekarang, tinggallah foto yang terpajang sederhana di dinding rumah. Teteh dan alo-alo sering dengan bungah bercerita soal petualangan si bungsu pada handai tolan dan saudara yang berkunjung, tanpa diminta.

Ya, 2 buah foto, satu-satunya cinderamata yang kubawa…