Kalau saja seorang teman kerja saya tidak begitu semangat mempromosikan film keluaran 2009 ini, mungkin saya tidak akan pernah menontonnya. Ia kebetulan ibu dari 2 orang anak perempuan.
Katanya, seluruh keluarganya yang beberapa akhir pekan yang lalu memirsa film ini bersama-sama, tak kuasa menahan air mata. Saya cuma senyum-senyum. Membayangkan apakah efek dramatisasi musik atau penderitaan seorang pengidap kanker yang jadi penyebab tangis-berjamaah itu.
“Tonton deh, Kang. Bagus loh,” katanya, masih berpromosi. “Ceritanya bukan soal perjuangan hidup melawan kanker aja. Tapi si bungsu yang merasa dia lahir hanya buat menyelamatkan kakaknya.”
“Oh ya?” Mendengar kata bungsu, ketertarikan saya bertambah.
Emansipasi
Mukaddimah film ini menggiring memori saya ke beberapa tahun silam, saat saya begitu membanggakan status saya sebagai bungsu. Bungsu umumnya punya citra kolokan, sehat menggemaskan, menyenangkan, haus perhatian, pemberontak, dan emosinya mudah labil. Mitos lain di sekitar sifat bungsu adalah bahwa ia mudah populer, kreatif, ceroboh, serta gampang puas atau dipuaskan.
Saya masih sering menilik-nilik sifat bungsu saya. Sepertinya lebih banyak bagian yang menyebalkan 🙂
Tapi, ‘My Sister Keeper’ memang bukan cerita soal anak bungsu. Narasi si bungsu, Andromeda ‘Anna’ Fitzgerald (Abigail Breslin) di awal film, saya kira masuk ke dalam bagian sutradara untuk membuat twist yang kelak akan dimunculkan dalam bagian lain di film ini.
Hingga menjelang akhir, kita bisa percaya bahwa tuntutan Anna untuk memperoleh medical emancipation (emansipasi-medik; kebebasan untuk menentukan apakah ia akan menyumbangkan bagian tubuhnya untuk membantu orang lain) murni adalah pikirannya sendiri.
Donor
Pikiran seorang belia berusia 11 tahun. Yang sejak pertama kali ia lahir, telah menjadi donor bagi kakak perempuannya, Kate Fitsgerald (Sofia Vassilieva) yang menderita Leukimia (kanker darah dan sumsum tulang belakang). Bahkan, Anna sesungguhnya dilahirkan dengan tujuan untuk menjadi donor kakaknya.
“I was engineered, born to save my sister’s life,” ujarnya.
Dan jika bukan untuk tujuan itu, ia barangkali tidak akan pernah lahir ke dunia. Keinginan orangtuanya, terutama sang ibu, Sara Fitzgerald (Cameron Diaz) yang pantang menyerah dan siap menempuh berbagai upaya untuk membantu kesembuhan Kate memang salah satu faktor Anna dilahirkan.
Mengetahui bahwa Sara dan suaminya Brian tidak bisa menjadi donor buat Kate, mereka menerima usul dokter untuk ‘menghadirkan’ donor yang 100 persen cocok. Hanya dengan mendesain perpaduan gen yang cocok melalui keturunan mereka selanjutnya, harapan untuk Kate masih akan ada.
Maka, dari Anna pertama keluar dari rahim ibunya, satu persatu bagian dari tubuhnya dialihkan untuk membantu Kate tetap bertahan hidup dengan baik. Organ tubuh, darah, serta jaringan tubuh Anna diambil.
Terkadang, melalui proses operasi yang menyakitkan buat Anna.
Menjelang operasi pengambilan ginjalnya yang dibutuhkan oleh sang kakak, Anna pergi menemui seorang pengacara dan memintanya untuk memperjuangkan haknya. Ia tidak ingin dipaksa orangtuanya untuk mendonorkan organnya lagi bagi Kate.
Nuansa
Biasanya, menjadi debat yang seru jika sebuah film diangkat dari sebuah novel sukses. Apalagi jika dalam film terdapat perbedaan mendasar dari novelnya. Seperti ending dari film ini. Saya sendiri belum baca novelnya.
Tapi, penceritaan film ini hemat saya sudah sangat baik mengungkapkan pesan serta nuansa yang ingin disampaikan. Gambaran profil penderita leukimia, seorang ibu yang berjuang demi anaknya, hubungan antara anggota keluarga, pandangan orang umum terhadap para penderita kanker.
Semuanya diikat dalam suasana kebatinan yang halus dan dalam. Salah satu karakter yang menjadi imej umum buat anak bungsu, saya kira juga terlihat dalam film ini; Altruis.
Anda bisa percaya, boleh tidak. Kalau saya, sebagai bungsu, saya menyukai altruisme… 🙂
Taylor Ambrose: I’m Taylor. AML.
Kate Fitzgerald: I’m Kate. APL.
Taylor Ambrose: Oh, a rarity.
(My Sister Keeper, 2009)