Baik, sebelum berganti almanak baru, saya ingin sedikit saja menyentil lagi soal kebodohan. Istimewanya yang saya idap.
Saat saya gagal atau keliru mengerjakan sesuatu–seperti meninggalkan kuliah, memilih investasi yang buruk, mengendapkan naskah, salah memahami perintah atasan hingga kerja jadi berantakan, lena memindai calon istri, meleset dalam memilih gubernur atau presiden–biasanya muncul dalam pikiran saya: Apakah saya bodoh?
Jika jawabannya iya, sebodoh itukah saya? Padahal saya sudah belajar sampai jadi sarjana dan ikut berbagai kursus serta konferensi…
Kawan-kawan saya yang bijak tertawa. Yang tidak bijak tentu tertawa lebih keras. Beberapa bilang (sekedar untuk menghibur), tidak ada orang bodoh. Yang ada, orang yang tidak mau berusaha/belajar, termasuk belajar dari kesalahan. Yang lain berujar, tidak ada orang bodoh, yang ada cuma orang yang belum ketemu guru yang tepat. Teman yang lain membahasnya lebih rumit. Katanya, tidak ada orang bodoh. Yang ada pembodohan yang dilakukan secara sistematik-struktural untuk mempertahankan kekuasaan atau hegemoni, dalam politik, ekonomi, agama, atau kelompok sosial tertentu.
Agak susah saya mencerna yang terakhir. Nampaknya saya memang bodoh. Masih bodoh…
Bodohnya (kata teman saya tadi), kenapa saya Continue reading