Monthly Archives: December 2013

Tentang Kebodohan (Lagi)

Baik, sebelum berganti almanak baru, saya ingin sedikit saja menyentil lagi soal kebodohan. Istimewanya yang saya idap.

Saat saya gagal atau keliru mengerjakan sesuatu–seperti meninggalkan kuliah, memilih investasi yang buruk, mengendapkan naskah, salah memahami perintah atasan hingga kerja jadi berantakan, lena memindai calon istri, meleset dalam memilih gubernur atau presiden–biasanya muncul dalam pikiran saya: Apakah saya bodoh?

Jika jawabannya iya, sebodoh itukah saya? Padahal saya sudah belajar sampai jadi sarjana dan ikut berbagai kursus serta konferensi…

Kawan-kawan saya yang bijak tertawa. Yang tidak bijak tentu tertawa lebih keras. Beberapa bilang (sekedar untuk menghibur), tidak ada orang bodoh. Yang ada, orang yang tidak mau berusaha/belajar, termasuk belajar dari kesalahan. Yang lain berujar, tidak ada orang bodoh, yang ada cuma orang yang belum ketemu guru yang tepat. Teman yang lain membahasnya lebih rumit. Katanya, tidak ada orang bodoh. Yang ada pembodohan yang dilakukan secara sistematik-struktural untuk mempertahankan kekuasaan atau hegemoni, dalam politik, ekonomi, agama, atau kelompok sosial tertentu.

Agak susah saya mencerna yang terakhir. Nampaknya saya memang bodoh. Masih bodoh…

Bodohnya (kata teman saya tadi), kenapa saya Continue reading

Godaan Kuasa

Apa yang mungkin jadi masalah dengan menjadi; muda, cerdas, idealis, bersemangat, berbakat, usia menjelang 30, sarjana politik, punya pikiran mengambil-alih dan merubah dunia menjadi lebih baik, punya beberapa pengalaman praktis di bidang politik, dan baru saja melakukan kesalahan–yg cukup mengguncang, tapi tidak parah-parah amat alias masih bisa dibaiki?

Seperti yang baru saja dialami Stephen Meyers (Ryan Gosling)…

Ada yang mengatakan, problemnya bukan soal kesalahan yang ia buat. Tapi lantaran segala hal yang melingkupi kemudaannya itu. Ketika ia telah tahu arti naif–dan tidak ingin dicap orang begitu–pada saat yang bersamaan ia justru mendapati dirinya baru saja dibodohi karena keluguannya hingga membuat kekeliruan. Tidak hanya soal kekeliruan, ia juga menyebabkan masalah. Lebih parahnya lagi, ia ‘diposisikan’ menanggung segala konsekuensi atas kesalahan dan kekacauan itu. Alasannya; “to cut the losses”, atau “for the better good”.

Mari kita tebak Continue reading

Klausa Klise

Hari menjauh dalu. Mata saya hanya bisa menatap layar. Bukannya mengetuk cembul-cembul di papan ketik, jari-jari saya malah saling bertaut di depan mulut. Pikiran saya; apa yang ingin saya catat sebagai perayaan hari lahir ke-29 kalinya ini?

Ada banyak lema yang hilir mudik di kepala. Sebagian besar mendorong saya untuk membuat catatan. Ada juga pikiran yang menahannya. Misalnya; “Buat apa? Mau berpongah-ria dengan capaian-capaianmu lagi? Mau merajuk supaya dapat simpati? Mau bikin pledoi atas apa yang belum juga kau raih sampai menginjak usiamu yang makin sepuh ini?”

Tentu saja maksud saya bukan begitu. Tapi, kalau anda terlanjur Continue reading