“Kau tahu mainan favoritku waktu kecil? Bola. Sampai sekarang pun masih.. Tapi, pada gilirannya kita semua menua. Begitu katanya cara waktu bekerja. Sialan (kau waktu)!” — F. Totti, 28 Mei 2017
‘Pangeran Roma’ itu memang bukan sedang melakukan selebrasi–kendati ia amat berhak. Keberadaannya di tengah lapangan, di dalam sebuah stadion yang memuat puluhan ribu pendukung fanatik, dengan kaus kebanggaan yang masih kering lantaran menit bermainnya yang sedikit, dan dengan puluhan juta pasang mata yang menontonnya dari televisi, akan menandakan akhir dari sebuah periode dalam hidupnya.
Lelaki yang menghabiskan 28 tahun–lebih dari separuh hidupnya–bersama satu klub itu mengedarkan pandangan ke seantero stadion yang penuh sambil memegang pelantang. Berusaha menahan segala macam pikiran dan emosi yang deras di dadanya. Sudah bukan berkaca-kaca lagi, matanya ruah dengan air sebelum sempat mengucapkan apa-apa. Mungkin saja itu yang membuatnya merasa perlu mempersiapkan sebuah naskah. Naskah yang bahkan awalnya ia minta kepada gadis kecilnya untuk bacakan.
Pelbagai perspektif memaknai peristiwa hari itu. Dari sudut pandang Sang Legenda sendiri tentu saja. Dari mata istri dan ketiga anaknya. Dari Continue reading