Saya pernah dapat cerita ini:
“Hoy, mau ke mana, kang? Mancing ya?”
“Ah, ndak. Saya mau mancing, kok.”
“Oh, ya udah. Kirain mau mancing.”
Guru kami menceritakannya, sebagai ilustrasi kegagalan berkomunikasi yang berasal dari mekanisme dan dilektika ketulian. Bahkan, karena ini tidak terjadi sekali-dua pada 1-2 kasus saja, beliau mengistilahkannya dengan ketulian massal. Ketulian massal macam ini menyumbang sekian persen dari kekacauan pembangunan dan kebobrokan keadaan masyarakat kita dan negeri ini.
Banyak sekali kejadian dimana orang memperbincangkan ‘mancing’ dan merasa lega telah berbincang. Padahal mancing yang diobrolkan beda makna antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Obrolan atau diskusi itu bisa terjadi di sebuah forum akademik atau situasi sambil ngopi dan kumpul-kumpul di balai warga.
Terkadang orang atau kelompok-kelompok bertengkar, bermusuhan serius, tawuran, berdebat bertele-tele. Padahal sama-sama tidak pergi ‘mancing’ dan tidak pula setelahnya ada yang dapat ikan.
Salah satu sumber dari dialektuka tuli dan mancing, masih menurut guru kami, adalah kekacau-balauan epistemologi. Misalnya, Nahdhatul Ulama dan Ikatan Cendekiawan Muslim tak pernah terlihat akur dalam tata pergaulan budaya politik nasional. Padahal bahasa Arab-nya Ikatan Cendekiawan adalah Nahdhatul Ulama, dan bahasa Indonesia-nya Nahdhatul Ulama adalah Ikatan Cendekiawan.
Orang pintar dari universitas Islam disebut cendekiawan muslim, orang pintar dari pesantren disebut ulama. Padahal, bahasa Arab-nya cendekiawan muslim adalah ulama, dan bahasa Indonesia-nya ulama adalah cendekiawan muslim. Bank Konvensional di bedakan dengan Bank Syariah. Padahal keduanya sama-sama syariah (jalan, cara, metode) untuk menyimpan dan mengelola harta dan keuangan.
Lembaga pendidikan menyebut dirinya universitas, padahal ia menghasilkan sarjana-sarjana fakultatif, bukan sarjana universal. Tiap sarjana diminta membuat makalah, padahal (jika benar muasalnya dari bahasa Arab) makalah berasal dari kata ‘ma qala‘ yang artinya “apa/sesuatu yang dikatakan”. Jika ingin “sesuatu yang ditulis”, mestinya disebut ‘ma kutiba‘.
Dan ribuan contoh kekacauan epistemologis lainnya.
Acapkali terjadi perselisihan karena ada satu pihak yang memakai makna umum yang sudah terlanjur dipakai, dan pihak yang lain ingin menunjukkan makna sesuai asal katanya. Guru kami misalnya. Ia tidak pernah membuat tulisan ketika ia diundang ke pelbagai acara seminar, lokakarya, simposium, dan sebagainya yang memintanya membuat makalah. Akibatnya, tentu saja panitia dongkol dan berang, apalagi setelah guru saya memakai alasan epistemologis.
Hampir satu tahun yang lalu, persis menjelang akhir Ramadhan, saya mencoba berikhtiar untuk menggenapkan keyakinan (ah, curhat…). Sebagai sebuah upaya unifikasi, kami tentu ‘gelar perkara’ dan mencari petunjuk-petunjuk yang mengarah pada satu kesimpulan.
Setelah menempuh proses selama kurang lebih 2 bulan, saya menyadari, meski kami sama-sama membincangkan soal ‘mancing’, tapi dalam makna yang sungguh sangat tidak bisa disatukan. Saya juga tidak tahu, siapa yang benar-benar pergi memancing atau memperoleh ikan pada akhirnya.
Pertemuan itu memang tidak sampai berujung pada pertengkaran dan permusuhan, meski kami berdebat dengan cukup alot. Saya sendiri belum habis pikir, mengapa kita begitu senang membuat sekat-sekat.
Adakalanya saya menduga ini berkaitan dengan naluri kita yang tidak jarang ingin dipandang, berada, dan/atau merasakan eksklusifitas, perasaan bahwa kita lebih unggul, lebih hebat, lebih besar, lebih benar dari orang lain.
Ataukah justru–seperti yang pernah diungkapkannya–aku sendiri yang memang terlalu bangga pada eksklusifitas umum yang aku miliki sehingga sulit menerima seruan (annida) kebenaran yang datang…