Monthly Archives: July 2014

Victor!

Agus Noor mengatakan bahwa setidaknya ada tiga moment belakangan yang terasa saling berkait dengan terma kemenangan; Piala Dunia, Pemilu Presiden dan wakil Presiden, serta Ramadhan. Tapi, apa makna kemenangan sebenarnya?

Apakah kegembiraan karena tim negara lain yang kita jagokan keluar sebagai kampiun piala dunia? Atau lantaran calon presiden dan wakil presiden yang kita dukung dinyatakan KPU sebagai pemenang pemilu?Ataukah keberhasilan kita melewati Ramadhan hingga menginjak kembali bulan Syawal? Apa makna kemenangan bagi saudara-saudara kita di Palestina yang di tiap detik hidupnya secara konsisten diancam serangan mematikan israel?

Saya tidak bermaksud merusak pesta. Tapi, sejak wacana soal kemenangan diangkat, hemat saya sebaiknya kita bisa merefleksikan dan meletakkan pemaknaan kemenangan secara lebih sungguh-sungguh.

Sekiranya saya diberikan kesempatan mengutarakan arti kemenangan, maka akan saya katakan bahwa kita menang jika bisa berpartisipasi di piala dunia mendatang karena penyelenggaraan kompetisi dan pola pembinaan bibit-bibit unggul yang tertata. Saya tidak bermimpi Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Tiago Silva, Mario Goetze, atau James Rodriguez berpindah kewarganegaraan dan berpaspor garuda. Cukuplah melihat PSSI lebih serius membenahi niat dan ikhtiar agar Timnas kita kelak mampu berbicara banyak di level dunia.

Kita juga boleh Continue reading

Ilusi Realitas

Ada yang merayakan kegemilangan Jerman yang jadi kampiun Piala Dunia. Sebagian yang lain mungkin tengah sibuk menghapus mengganti angka-angka dalam formulir C1 remah Pilpres 9 Juli. Ada juga yang barangkali tekun menelusuri ayat demi ayat cinta Ilahy dan tersedu-sedan di atas sajadah menghiba ampunan serta rahmatNya. Ada yang mengatur lalu lintas dan menggunting dahan. Mengukus kue dan mengemudikan pesawat. Mengikat tiang pancang dengan kawat serta memasukkan angka-angka ke dalam kertas kerja. Menalikan sepatu dan menyuntikkan obat-obatan ke dalam tubuh.

Di belahan bumi lainnya, sangat mungkin banyak yang cemas menanti di mana rudal berikutnya akan jatuh dan meluluhlantakkan segala.

Saat bola melesak dan merobek jaring gawang Argentina, sorak sorai membahana, ratusan suara hilang dimanipulasi, buah-buah masak dan telur menetas, profit dipanen, proyektor di bioskop dinyalakan,  ketukan palu menandakan putusan ditetapkan, air mata taubat berderai di pipi, di penjuru dunia lainnya, sebutir peluru atau proyektil mengakhiri satu kehidupan tanpa belas kasih…

Piala Dunia, Ramadhan, Pemilihan Presiden, Tragedi di Gaza, Kehidupan. Apa kita menyebutnya?

Media massa seperti televisi, jejaring berita online, atau ragam teknologi sosial media memungkinkan kita meringkusnya dalam satu genggaman. Lincah berpindah-pindah hanya dengan beberapa sentuhan. Menjadikan kita tetap mampu mengikuti situasi terkini dari sumber utama.

Tapi benarkah kita sudah menjaring dan memaknai realitas yang sesungguhnya?