Aku belum banyak berubah, Sayang. Aku ingin mengatakan itu untuk menjawab tatapanmu pagi ini. Pada detik lensa beningmu bergerak-gerak mencari sesuatu yang tak ku mengerti, di wajahku, dalam mataku. Kau seperti ingin melepas sebuah selubung yang tak ku lihat. Dan, tiba-tiba kau menjaga jarak. Mencipta orbit baru…
Aku masih diri yang suka mendekapmu ketika tidur, atau memainkan jari-jemarimu saat kau sibuk dalam semestamu sendiri. Aku masih suka berkejaran dengan kewaspadaanmu untuk sekedar mencuri kecupan di kening atau pipi putihmu. Dan porsi makan dan minummu pun masih sering ku ‘bantu’ habiskan. Termasuk pagi ini.
Setahuku, tidak banyak perbedaan antara 1 bulan yang lalu dengan hari ini waktu kita kembali didadar dalam satu waktu dan tempat. Rasanya, aku masih penyuka mie ayam seperti yang kau kenal. Aku juga masih sejago waktu piala top-scorer liga jurusan mampir di ruang tamu mungil kita. Oke, mungkin dengan stamina dan agilitas yang lebih ringkih karena tumpukan ‘calon-otot’ di perutku yang kian memanja. Tapi, bukankah kau justru menyukainya karena kini kau bisa meledekku di depan semua orang yang kita kangeni? Kau berlari dari jauh dan memelukku, lantas mengatakan dengan lantang bahwa kini aku makin ‘gembur’.
Apa aku pernah berubah marah? Kau tahu aku tidak senyali itu menghardikmu di depan semua.
Catatan reflektif Cak Nun, Gus Mus, Kang Jalal, Bang Eep masih jauh lebih ku suka tinimbang buku-buku panduan dari Tung Desem Waringin, Ippho Santosa, Andrie Wongso, atau Anne Ahira. Kau tahu itu dari koleksi mini di kamarku. Diam-diam, aku juga percaya, kau maklum kalau aku masih menyimpan ‘coretan-rahasia’ dalam agenda butut berusia hampir sewindu.
Karena kau pun masih sering memakai laptopku untuk ‘pekerjaan-pekerjaanmu’, kau mesti sudah mahfum kesenanganku sejak dulu pada Linkinpark. Grup musik satu-satunya yang lengkap aku koleksi seluruh albumnya di folder musik kita, selain Ebiet G. Ade dan Iwan Fals. Bukan karena aku penganut aliran nu metal atau alternative rock—karena kau tahu aku tuna-nada dan buta-melodi. Tapi, karena aku hanya bisa membedakan mana ‘musik’ yang bisa dipakai sebagai pengantar kontemplasi atau untuk pemanasan sebelum berolah-raga.
Maka, kau memang tak pernah meminta aku bernyanyi, karena memang aku tidak becus meski katanya aku pernah jadi lead-vocal untuk sebuah lagu nashit di SMA.
Semua itu tidak berubah, Sayang…
Pun, aku masih sering cuek dengan hari-hari istimewa-mu: ulang tahun, ujian-ujian di antara dan akhir semester, kenaikan tingkatmu, acara-acara di kampusmu, atau bahkan hari-hari besar bersama yang diwarnai merah pada almanak. Tak pernah aku mengirimmu BBM, atau Whatsapp Message, Tweet, Ping, Buzz, atau apalah. Selain perkakas yang kupunya tidak cukup mumpuni, pada dasarnya memang aku tak cukup acuh untuk mengingat itu semua. Boro-boro menyiapkan kado atau kejutan..
Tapi, angkaramu tak pernah bikin kita begitu berjarak seperti pagi ini, bukan?
Apa kau marah karena aku tak kunjung memenuhi janji kita untuk berkereta bersama? Jika iya, apa yang bisa ku perbuat..
Bisakah aku ganti dengan kegemaran kita yang lain? Semisal kembali memindai pantai dan membangun istana pasir. Memasak nasi goreng kecap dan telur dadar gulung polos. Menertawai Ipin, Upin, dan teman-temannya dalam kaset yang tak bosan kita putar berulang. Atau sekedar berkendara berdua dengan toyota barumu, menyusur jalan tol, bersenandung lagu cinta, dan membiarkan bias senja menimpa kening kita.
Jika kau ingin mengingatkan betapa jarang itu kita lakukan lagi kini, tidak berarti aku berubah. Ini hanya soal teknis saja. Kau pun nampaknya semakin jarang bisa menyediakan waktu untukku. Untuk kita…
Percayalah, aku masih diri yang sama yang kau kenal. Yang lebih suka wangi tubuhmu daripada parfum mahal Adidas atau Hugo Boss yang dipakai temanku kemarin. Yang lebih menyukai tertawa bersamamu tentang apa saja dibanding menonton stand-up comedy, karena aku tak memerlukan topeng apapun ketika melakukannya. Yang selalu merindukan kebersamaan kita, apalagi jika kita cukup lama tak nampak sua.
Aku masih sosok penuh ketakutan & keraguan, Sayang. Aku masih takut mencoba karena lebih memilih kenyamanan yang ku rasakan saat ini ketimbang diselenting rasa yang masih asing. Sedangkan keraguan, mungkin kau sudah lama mengenalnya sebagai nama tengahku.
Namun, di sisi lain aku juga masih yakin dengan masa depan kita. Harus, karena aku diam-diam selalu menaruh do’a khusus untukmu, untuk kita. Pe-erku masih sama agar do’a itu membumi; disiplin, disiplin, disiplin. Dan problemku pun serupa hingga kini; untuk istiqomah, istiqomah, istiqomah.
Barangkali beberapa perubahan membuat kita saling merasa tidak nyaman, pada awalnya. Toh, rasanya ini bukan fase pertama yang kita lalui. Jarak yang sekarang memuai sangat bisa menyumbang rasa tidak nyaman. Frekuensi bertemu yang merenggang juga mungkin berkontribusi pada waktu-berkualitas yang kita miliki. Itu perubahan luar yang mesti kita sikapi berdua dengan arif, dengan dewasa..
Baiklah. Aku ingin katakan bahwa aku tidak berubah. Tapi, kita semua berubah, Sayang. Begitu juga dirimu yang kian mengenal kekayaan warna dan rasa.
Barangkali paling fair kalau aku bilang, sebagianku berubah, sebagianku tidak. Terutama tentang rasaku untukmu.
Jadi, kumohon, lipat dalam-dalam tatapanmu itu. Karena kau yang memandangku asing, lenganmu yang merenda ruang lebar diantara kita, dan diammu yang bergeming itu sungguh mengoyak hatiku…

Hari anti korupsi dirayakan secara global setiap tanggal 9 desember–sehari setelah peringatan hari lahir Intifadhoh dan sehari sebelum hari HAM. Termasuk minggu lalu. KPK dan banyak elemen memeriahkannya sebagai bagian dari kampanye global melawan korupsi. Saya juga merayakannya, dengan cara saya sendiri….