Monthly Archives: December 2012

Berubah?

Aku belum banyak berubah, Sayang. Aku ingin mengatakan itu untuk menjawab tatapanmu pagi ini. Pada detik lensa beningmu bergerak-gerak mencari sesuatu yang tak ku mengerti, di wajahku, dalam mataku. Kau seperti ingin melepas sebuah selubung yang tak ku lihat. Dan, tiba-tiba kau menjaga jarak. Mencipta orbit baru…

Aku masih diri yang suka mendekapmu ketika tidur, atau memainkan jari-jemarimu saat kau sibuk dalam semestamu sendiri. Aku masih suka berkejaran dengan kewaspadaanmu untuk sekedar mencuri kecupan di kening atau pipi putihmu. Dan porsi makan dan minummu pun masih sering ku ‘bantu’ habiskan. Termasuk pagi ini.

Setahuku, tidak banyak perbedaan antara 1 bulan yang lalu dengan hari ini waktu kita kembali didadar dalam satu waktu dan tempat. Rasanya, aku masih penyuka mie ayam seperti yang kau kenal. Aku juga masih sejago waktu piala top-scorer liga jurusan mampir di ruang tamu mungil kita. Oke, mungkin dengan stamina dan agilitas yang lebih ringkih karena tumpukan ‘calon-otot’ di perutku yang kian memanja. Tapi, bukankah kau justru menyukainya karena kini kau bisa meledekku di depan semua orang yang kita kangeni? Kau berlari dari jauh dan memelukku, lantas mengatakan dengan lantang bahwa kini aku makin ‘gembur’.

Apa aku pernah berubah marah? Kau tahu aku tidak senyali itu menghardikmu di depan semua.

Catatan reflektif Cak Nun, Gus Mus, Kang Jalal, Bang Eep masih jauh lebih ku suka tinimbang buku-buku panduan dari Tung Desem Waringin, Ippho Santosa, Andrie Wongso, atau Anne Ahira. Kau tahu itu dari koleksi mini di kamarku. Diam-diam, aku juga percaya, kau maklum kalau aku masih menyimpan ‘coretan-rahasia’ dalam agenda butut berusia hampir sewindu.

Karena kau pun masih sering memakai laptopku untuk ‘pekerjaan-pekerjaanmu’, kau mesti sudah mahfum kesenanganku sejak dulu pada Linkinpark. Grup musik satu-satunya yang lengkap aku koleksi seluruh albumnya di folder musik kita, selain Ebiet G. Ade dan Iwan Fals. Bukan karena aku penganut aliran nu metal atau alternative rockkarena kau tahu aku tuna-nada dan buta-melodi. Tapi, karena aku hanya bisa membedakan mana ‘musik’ yang bisa dipakai sebagai pengantar kontemplasi atau untuk pemanasan sebelum berolah-raga.

Maka, kau memang tak pernah meminta aku bernyanyi, karena memang aku tidak becus meski katanya aku pernah jadi lead-vocal untuk sebuah lagu nashit di SMA.

Semua itu tidak berubah, Sayang…

Pun, aku masih sering cuek dengan hari-hari istimewa-mu: ulang tahun, ujian-ujian di antara dan akhir semester, kenaikan tingkatmu, acara-acara di kampusmu, atau bahkan hari-hari besar bersama yang diwarnai merah pada almanak. Tak pernah aku mengirimmu BBM, atau Whatsapp Message, Tweet, Ping, Buzz, atau apalah. Selain perkakas yang kupunya tidak cukup mumpuni, pada dasarnya memang aku tak cukup acuh untuk mengingat itu semua. Boro-boro menyiapkan kado atau kejutan..

Tapi, angkaramu tak pernah bikin kita begitu berjarak seperti pagi ini, bukan?

Apa kau marah karena aku tak kunjung memenuhi janji kita untuk berkereta bersama? Jika iya, apa yang bisa ku perbuat..

Bisakah aku ganti dengan kegemaran kita yang lain? Semisal kembali memindai pantai dan membangun istana pasir. Memasak nasi goreng kecap dan telur dadar gulung polos. Menertawai Ipin, Upin, dan teman-temannya dalam kaset yang tak bosan kita putar berulang. Atau sekedar berkendara berdua dengan toyota barumu, menyusur jalan tol, bersenandung lagu cinta, dan membiarkan bias senja menimpa kening kita.

Jika kau ingin mengingatkan betapa jarang itu kita lakukan lagi kini, tidak berarti aku berubah. Ini hanya soal teknis saja. Kau pun nampaknya semakin jarang bisa menyediakan waktu untukku. Untuk kita…

Percayalah, aku masih diri yang sama yang kau kenal. Yang lebih suka wangi tubuhmu daripada parfum mahal Adidas atau Hugo Boss yang dipakai temanku kemarin. Yang lebih menyukai tertawa bersamamu tentang apa saja dibanding menonton stand-up comedy, karena aku tak memerlukan topeng apapun ketika melakukannya. Yang selalu merindukan kebersamaan kita, apalagi jika kita cukup lama tak nampak sua.

Aku masih sosok penuh ketakutan & keraguan, Sayang. Aku masih takut mencoba karena lebih memilih kenyamanan yang ku rasakan saat ini ketimbang diselenting rasa yang masih asing. Sedangkan keraguan, mungkin kau sudah lama mengenalnya sebagai nama tengahku.

Namun, di sisi lain aku juga masih yakin dengan masa depan kita. Harus, karena aku diam-diam selalu menaruh do’a khusus untukmu, untuk kita. Pe-erku masih sama agar do’a itu membumi; disiplin, disiplin, disiplin. Dan problemku pun serupa hingga kini; untuk istiqomah, istiqomah, istiqomah.

Barangkali beberapa perubahan membuat kita saling merasa tidak nyaman, pada awalnya. Toh, rasanya ini bukan fase pertama yang kita lalui. Jarak yang sekarang memuai sangat bisa menyumbang rasa tidak nyaman. Frekuensi bertemu yang merenggang juga mungkin berkontribusi pada waktu-berkualitas yang kita miliki. Itu perubahan luar yang mesti kita sikapi berdua dengan arif, dengan dewasa..

Baiklah. Aku ingin katakan bahwa aku tidak berubah. Tapi, kita semua berubah, Sayang. Begitu juga dirimu yang kian mengenal kekayaan warna dan rasa.

Barangkali paling fair kalau aku bilang, sebagianku berubah, sebagianku tidak. Terutama tentang rasaku untukmu.

Jadi, kumohon, lipat dalam-dalam tatapanmu itu. Karena kau yang memandangku asing, lenganmu yang merenda ruang lebar diantara kita, dan diammu yang bergeming itu sungguh mengoyak hatiku…

Terapi Korupsi (Pribadi)

Hari anti korupsi dirayakan secara global setiap tanggal 9 desember–sehari setelah peringatan hari lahir Intifadhoh dan sehari sebelum hari HAM. Termasuk minggu lalu. KPK dan banyak elemen memeriahkannya sebagai bagian dari kampanye global melawan korupsi. Saya juga merayakannya, dengan cara saya sendiri….

Saya membetot memori betapa culas dan jahatnya sikap dan perilaku saya. Sudah tidak perlu dihitung soal berbohong, mencontek, atau menyuap serta gratifikasi. Saya akui juga, SIM A & C di dompet saya hasil nembak. Polantas juga beberapa kali membiarkan saya lolos setelah saya ajak ‘berdamai’ atau saya ‘takuti’ dengan kartu nama tempat saya bekerja. Bahkan, ketika saya datang ke pengadilan negeri untuk menjalani sidang & mengambil SIM C pun, jalan pintas saya tempuh untuk membuat semua proses menjadi cepat.

Kalau itu masih dianggap ‘wajar’ dan tidak tergolong ‘kejahatan’, saya mungkin harus paparkan ini…

Dalam satu bulan, katakan saya pulang pergi jakarta-serang menggunakan bus umum kurang lebih 3 kali. Berarti sekira 36 kali dalam setahun. dalam setiap perjalanan pulang pergi itu, saya lebih sering naik & turun di jalan tol. Kalau acuannya Pasal 63 Ayat (6) UU Nomor 38 Tahun 2004, artinya ada sekitar 72 kali pelanggaran. Tiap pelanggaran dikenakan pidana kurungan 14 (empat belas) hari atau denda paling banyak Rp. 3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Ritus bolak-balik jakarta-serang ini sudah kujalani kira-kira 2 tahun. Jadi, semestinya saya sudah dapat hukuman penjara 2.016 hari atau kurang lebih hampir 5,5 tahun atau denda Rp. 432.000.000,00, andaikan setiap kali pelanggaran dipergoki oleh petugas/polisi.

Itu contoh pidana ‘kecil’ yang saya lakukan. Belum termasuk puluhan pelanggaran lalu lintas yang variasi hukumannya mulai dari yang paling ringan; kurungan 15 hari atau denda Rp. 100.000,00 (seratus ribu)  karena tidak menyalakan lampu utama pada siang hari, sampai penjara 5 tahun atau denda hingga Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) menurut Ketentuan Pidana dalam UU Nomor 22 Tahun 2009. Mudah-mudahan yang terakhir sangkaan saya saja.. 🙂

Perkara (yang berpotensi) pidana lainnya sudah makin sulit saya urai. Saya (mungkin–sengaja atau tidak, sadar atau tidak–pernah) diantaranya memenuhi delik dalam pasal 164, 165, 207, 310, 362, 372, 378 KUHP atau UU No. 11/PnPs/1963 di zaman orde baru yang ancamannya sampai pidana mati.

Itu baru yang pidana. Kasus perdata bisa jadi tidak kurang banyaknya, baik dari wanprestasi atau yang digolongkan perbuatan melawan hukum seperti termaktub dalam Pasal 1365 KUHPerdata maupun berjenis perkara hutang. Andai denda ganti rugi disubsider, saya mungkin akan mendekam tidak kurang dari 1 tahun lagi di balik jeruji besi. Hanya sampai saat ini saya beruntung belum ada yang menggugat dan menyeret saya ke lapangan, eh meja hijau.

Karena saya bukan pejabat negara atau tentara, saya jelas belum dimungkinkan digugat ke PTUN atau Pengadilan Militer.. berlebihan 🙂

***

Saya kemudian menyadari, saya bukan pribadi yang bersih-bersih amat. Artinya, krediblitas dan integritas saya minim sekali untuk menyuarakan Anti-Korupsi, bergabung dengan Intifadhoh, atau berteriak tentang perlindungan HAM, sebagai contoh. Kalau slogan yang digaungkan dalam peringatan anti-korupsi tahun ini adalah: “Jujur Itu Hebat!”, maknanya saya payah banget.

Tapi, saya tidak bangga. Saya tidak bangga.

Memulas ingatan mengenai keculasan dan kejahatan saya adalah cara untuk mengukur kontribusi mini saya terhadap perjuangan melawan korupsi. Tidak hanya soal Indonesia, namun untuk skala kemanusiaan yang lebih besar lagi. Dan ternyata, barangkali, saya lebih banyak menyumbang katup bagi kesuksesan kawan-kawan yang lain.

Aku benci korupsi. Namun, di sisi lain saya menjadi bagian darinya. Atau bahkan mengekalkannya. Paradoks. Tapi, mungkin pada dasarnya ini hanya kompleks diri yang dengan legit diutarakan Kahlil Gibran sebagai pribadi: “Yang berpikir idealis untuk orang lain, namun berpikir praktis untuk  kepentingan diri sendiri.”

Sahabat baik saya tersenyum ketika saya mengatakan hal ini. Dia bilang, saya tinggal memilih antara tenggelam dalam kompleks diri seperti itu atau memakluminya sebagai bagian dari sifat dasar kemanusiaan. Menurutnya, sifat-sifat dasar kemanusiaan aslinya hanya hamba dari kita sebagai tuannya, dan bukan sebaliknya. Sebagai tuan atau majikan, sudah semestinya kita yang memiliki kendali.

Guru saya pernah berujar, “Jika hanya orang baik dan benar yang boleh mengingatkan dan mengajak berbuat baik dan benar, tentu dunia kita akan senyap dari hal-hal baik. Perkenankanlah seruan dan ajakan baik dari siapapun. Karena sebagiannya, ia juga tengah mengingatkan dan mengajak dirinya sendiri…”.  Meski kita belum sepenuhnya atau 100 persen orang baik atau benar, kita tidak kehilangan hak (dan tanggung jawab) untuk berbuat atau bahkan sekedar mengingatkan diri dan orang lain untuk berbuat baik kepada sesama serta memberantas korupsi yang membudaya dan sistemik.

Fokus pada tujuan, bersabar dengan proses, jujur kepada diri sendiri. Saya tidak bangga dengan keburukan saya. Membuka aib seperti ini bisa jadi cara saya (yang belum tentu cocok untuk orang lain) memberikan terapi kejut; bahwa saya tidak berhak sombong atau menganggap remeh siapapun saat saya melantangkan anti-korupsi, berjihad, atau meneriakkan HAM, atau ketika sekedar mengantarkan materi di kelas-kelas yang saya ampu; dan bahwa masih lebih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri sendiri sembari mengajak yang lain untuk berbenah, untuk memupus korupsi (minimal) dari diri sendiri.

Itulah mungkin yang bisa saya katakan sebagai–paling tidak–salah satu kontribusi saya: Sekedar rasa malu yang amat sangat mini. Rasa malu yang sering saya kembalikan ketika menghadap Tuhan. Seraya berharap, jauh lebih baik ditelanjangi di hadapan manusia dibanding dipermalukan di hadapanNya.

Harapan terbaik saya, mudah-mudahan saya tetap bisa menjaga kehormatan di depan keduanya…

Atap

Agak sukar merunutnya lagi. Entah sejak kapan aku menyukai tempat-tempat yang tinggi. Aku baru menyadarinya saat kecewa sekali tidak bisa naik ke atap gedung tempatku sekarang banyak beraktivitas.

Pucuk pohon, puncak bukit/gunung, tiang menara pemancar, atap rumah atau gedung ternyata memberi pengalaman unik yang membuatku selalu merasa rindu. Terlepas sedang jenuh tingkat tsanawiyah atau sekedar galau, aku selalu suka berusaha mendaki ke tempat-tempat tinggi.

Ketika bermain bola ditemani imajinasi di pekarangan rumah, aku suka berlama-lama berada di genting setelah mengambil bola yang ku tendang sendiri tinggi-tinggi. Berkali-kali pun aku tidak merasa berat. Tubuhku yang kecil justru memudahkan memanjat dinding warung di samping rumah untuk mencapai atap rumah, tempat bola plastikku sering nyangkut.

Kalau sedang jadi ranger merah yang mengendalikan t-rex, aku melesat ke pucuk dahan tertinggi akasia (tentu saja yang mampu menahan bobot tubuhku) dan memimpin triceratops, brontosurus, mammoth, dan ptereodactil di bawah melawan monster besar lamtoro-gung. Setelah berhasil melumpuhkannya, kami mengumpulkan ghonimah dan menikmati aroma wewangian dari buah petai jawa yang kami makan.

Awal tahun 1990-an, telepon satelit masuk kampungku. Ditandai dengan menara pemancar yang menjulang tinggi di belakang kantor kecamatan lama. Pulang sekolah atau menjelang maghrib, ku titi menara itu hingga ke tingkat tertinggi dan memandang ke bawah dengan duapertiga ngeri. Kesenanganku buyar kalau staf kecamatan sudah mengomel dan memintaku dan beberapa teman turun.

Masa SMA di dataran tinggi bandung membuat kesenanganku terpuaskan. Hampir setiap hari aku bisa menikmati perasaan berada di atas awan, di atas kota bandung yang semakin genit. Sesekali aku naik gunung bersama teman-teman. Ada burangrang dan tangkuban perahu dekat asrama. Yang mudah-mudah saja.

Kuliah, pengalamanku naik ke tempat-tempat tinggi bertambah. Kujalani juga dengan beberapa kawan sesama amatir pemuas kesenangan. Kami menciptakan sistem insentif ‘tanda bintang’ sebagai tanda setiap gunung (atau bukit 🙂 ) yang sudah kami naiki. Tapi, tidak selalu serius, penggembira saja. Kesenangan utamaku waktu kuliah tetap main bola.

Lulus sarjana, pengalaman yang paling berkesan adalah naik ke atap gedung wakil rakyat di Jakarta. Akses yang cukup bikin aku bebas melakukannya kapan saja. Sendiri, atau mengajak teman yang berminat. Ketika berlangsung demonstrasi besar menolak rencana kenaikan BBM tahun ini, berdua dengan seorang kawan magang kami ngobrol di lantai 25 nusantara 1 yang terbuka, lengang dan cocok untuk kafe itu. Ditingkahi gerimis kecil dan matahari yang membelai malu-malu, kami bicara soal mimpi, cinta, dan realita politik yang berlangsung di bawah sana. Persis di bawah bokong kami.

Aku membayangkan tanggung jawab besar Presiden (yang katanya) republik ini memimpin 240 juta orang yang setiap detik menuntut kesejahteraan dan terpuasnya kebutuhan. Atau tidak perlu presiden, Gubernur Jakarta saja. Bagaimana 10 juta orang di sana bisa diatur agar macet, banjir, bahkan kemiskinan bisa enyah. Aku membayangkan sambil memutar pandangan 360 derajat dari atap gedung. Aku bisa melihat semua penjuru jakarta hingga gunung salak yang juga memisahkan Sukabumi dan Bogor. Bangunan tinggi dan rendah, menarik dan kumuh, siluet lampu kendaraan, orang lalu-lalang, ular besi yang melontarkan raungan memekakkan di telinga para pedestrian..

Apa yang bisa dilakukan di atas? Kalau cukup kondusif, aku teriak-teriak. Kalau bawa gadget cukup oke, ambil foto. Kalau ada bekal kopi hitam, ya ngopi. Ada handset, ya denger musik atau murattal (biar kesannya saya sholeh). Kalau bisa bikin catatan, ya nulis. Kalau ndak ada apa-apa, ya berdiri atau duduk saja sudah lebih dari cukup…

Kemarin sore, aku merindukan suasana itu. Jadi, aku turun dari lantai 6 ke lantai 4 karena pintu tangga di sana tidak dikunci. Naik ke lantai 8 (ya, tempat baruku ini hanya 8 lantai dengan puncaknya) dan mendapati ternyata pintu atap digembok dengan takzimnya. Tidak ada cara yang kutemukan untuk menerobos. Jadi, aku turun ke lantai 4 untuk naik kembali ke lantai 6 menggunakan lift. Mungkin bukan hari ini, kupikir…

Kenalanku pernah menyarankan agar aku ikut olahraga udara atau aero-sport macam paralayang, paramotor, gantole, atau terjun payung dan bergabung dengan FASI. Aku juga berniat menabung untuk itu, setelah cicilan yang lain beres tentunya hehe.. Sementara ini cukuplah sesekali menikmati pemandangan dari atas pesawat jika kebetulan bepergian dengan kapal terbang.

Oh ya, beberapa waktu lalu saya membuat catatan soal rumah. Dengan nekat, aku menambah spek cakar-ayam supaya kelak rumah itu bisa dibangun lebih dari satu lantai. Paling tidak, mengamankan jika nanti bisa menjadi sedikit lebih tinggi.

Tapi, kubatasi diri dengan tidak membuat kesenangan ini menjadi obsesi. Cukup rasa rindu yang mencubit sesekali. Meski sejak 3 tahun belakangan ini yang kucari setiap masuk gedung baru adalah jalan menuju atap…

Belum sejago beliau... (sumber foto: tempo.co)