Monthly Archives: January 2012

Maklumat Untuk Mahasiswa Komunikasi UNSERA: Kisi-Kisi UAS

Agenda UNSERA medio bulan Januari 2012 ini adalah menghelat Ujian Akhir Semester (UAS). Tidak terkecuali fakultas kita tercinta; Fisip. Jika tidak ada aral melintang, UAS untuk Mata Kuliah Public Speaking, Sistem Politik Indonesia, dan Pengantar Ilmu Politik akan digelar serentak pada Jumat, 20 Januari 2012 (sesuai jam kuliah masing-masing).

Sebagai teaser, beberapa pointers materi berikut dapat dijadikan acuan mempersiapkan diri menghadapi UAS nanti:

PUBLIC SPEAKING

  • Kepercayaan diri dan Kecemasan Komunikasi
  • Pilihan dan pengembangan topik PS
  • Perencanaan dan Organisasi pesan PS
  • Modal Dasar PS
  • dll

SISTEM POLITIK INDONESIA

  • Kerangka Kerja Sistem Politik
  • Struktur dan Budaya Politik
  • Sejarah Perkembangan Politik Indonesia
  • Partisipasi Politik
  • dll

PENGANTAR POLITIK INDONESIA

  • Politik; antara teori dan praktik
  • Ideologi; jenis dan perkembangannya
  • Sistem Pemilu dan Kepartaian
  • Lembaga-lembaga kekuasaan dalam negara
  • Pendidikan dan Sosialisasi Politik
  • dll

Ingat, pointers di atas hanya sedikit panduan untuk belajar menjelang tes. Nilai tertinggi tetap diraih dari kualitas pemahaman terhadap keseluruh materi dan analisis yang terlihat dari uraian jawaban kawan-kawan. Baca dan gunakan sebanyak mungkin referensi dan sumber untuk memperkaya. Jadi, bersiaplah baik-baik.

Selamat UAS. Carpediem!

Dibutuhkan: Kabar Baik

Saya ada teman, keturunan Jawa, sarjana Hubungan Internasional dari sebuah Universitas ternama di Jawa Barat. Dalam waktu dekat, dia berniat untuk berganti kewarganegaraan.

Menurutnya, sebagai warga negara dunia ia berhak memilih kewarganegaraan manapun. Sepanjang mampu memperoleh prospek kehidupan yang lebih baik untuknya dan keluarga, dia akan mengupayakannya. Tidak peduli apa negaranya nanti, yang penting katanya, “bukan Indonesia.”

Teman saya berpandangan, Indonesia bukan tempat yang baik untuk mengembangkan diri, secara sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan hampir seluruh dimensi kehidupan. Indonesia, baginya, sudah terlalu brengsek untuk diharapkan membaik. Daripada menunggu kehancuran dan ikut tenggelam, lebih baik segera mencari biduk yang lain, pikirnya.

Ekstrim

Meski tidak sepaham dengan teman saya tersebut, saya kira saya cukup mengerti argumen dibalik pandangan dan rencananya. Siapapun yang melek informasi, pasti mafhum bagaimana Indonesia dijalankan oleh para pemimpinnya hari ini dan bagaiman hal itu mempengaruhi potensi masa depan Indonesia.

Begawan Romo Frans Magnis Suseno dalam sebuah acara bedah buku medio april lalu mengatakan, karakter picik dan opportunistik seakan sudah menjadi daging dari tubuh karakter politik bangsa Indonesia. Derivasinya, budaya politik transaksional, demokrasi yang berhenti pada tatar prosedural, serta oligarki yang siap menghadang–hingga bahkan menjerat kaum idealis untuk entah menjadi pesakitan atau disulap menjadi rekan–menjadi momok yang membuat siapapun frustasi dengan masa depan negeri di garis khatulistiwa ini.

Rasa frustasi itu kian meluas dan mendalam dengan semakin terbuka dan mudahnya akses terhadap informasi. Kelakuan culas dan korup para pemimpin yang diharapkan menjadi teladan masyarakat secara telanjang ditampilkan melalui media elektronik, cetak, hingga internet hampir setiap detik. Korupsi, lakon politik golongan, immaturitas elit, banalitas, hingga binalitas elit terpampang demikian vulgarnya. Membuat bangsa ini seperti sedang mengupas bawang saja; semakin tahu, semakin terbuka, semakin memerihkan.

Ditambah lagi, masyarakat tidak memiliki petunjuk apapun kapan situasi seperti ini akan berakhir atau siapa yang mampu diharapkan dapat merubahnya. Maka lengkap sudah prasyarat yang menyilahkan publik untuk frustasi, bahkan jatuh depresi.

Namun, tentu saja bagi saya keputusan berganti kewarganegaraan tetap sebuah cermin dari pandangan yang cenderung ekstrem, yang memandang Indonesia sepenuhnya buruk, yang tanpa catatan kebaikan sama sekali, yang tidak mungkin diharapkan ada perbaikan.

Kesabaran Revolusioner

Indonesia, jika kita mau sedikit saja sabar menengoknya ke beberapa sudut yang selama ini kurang mendapat porsi layak di media mainstream (arus utama), mampu menggurat rekam positif dalam mensejahterakan masyarakat. Banyak hal memang belum berasal dari pusat kebijakan, namun sudut-sudut daerah tersebut buat saya adalah sinyal bahwa masyarakat Indonesia tidak begitu saja menyerah kepada keadaan.

Kita nampaknya berkewajiban menguak pernak-pernik kearifan di sudut-sudut yang selama ini jarang terekspos demi menyebarkan lebih banyak kabar baik. Kabar baik penting untuk memekarkan kembali optimisme. Optimisme dibutuhkan sebagai energi positif dalam membangun. Dalam teori pembelajaran dan keterampilan hidup, energi positif (gairah) adalah elemen mutlak penunjang kesuksesan di samping visi dan tindakan.

Indonesia, dan Banten tentu saja, memiliki harapan asal ada kemauan yang kuat dan kebersamaan. Daerah-daerah yang selama ini berhasil mengembangkan inisiatif dan meningkatkan perekonomian daerahnya melalui kebijakan inovatif dan pelayanan publik yang efektif bukan berada di dunia lain. Mereka menghadapi persoalan dan kondisi yang sama yang dialami oleh seluruh daerah di Indonesia; regulasi yang tumpang tindih, pemerintah pusat yang kurang responsif, kebijakan setengah hati, pembajak anggaran, masyarakat yang jenuh, dan birokrasi yang berkarat.

Catatan Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP), The Asia Foundation (TAF),  USAID serta beberapa organisasi/lembaga lain sejak awal dekade lalu menunjukkan daerah-daerah yang sudah dapat memperbaiki kekurangan dan cacat-cacat di birokrasi dan praktek-praktek politiknya. Ada juga beberapa pemimpin daerah yang lebih mengedepankan kepentingan masyarakat di tengah maraknya kecenderungan untuk mengeruk uang negara sebanyak-banyak untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Benar-benar sumur inspirasi-inspirasi yang berasal dari daerah. Sulit memang menilainya, tapi dengan bekal husnudzan dan optimisme, kita bisa sebut Solo, Sragen, Jembrana, Solok, Cimahi, dst.

Banten pun bisa; bisa menyusun prioritas pembangunan yang jelas; bisa memperbaiki kinerja SKPD dalam isu strategis seperti pengentasan kemiskinan, kebodohan, pengangguran, dan kesehatan; bisa memiliki tata kelola pemerintahan yang efektif dan lebih ramah dan melayani. Persis yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh daerah-daerah lain, yang dalam beberapa hal, sebetulnya tidak memiliki sumberdaya alam dan manusia yang lebih baik dari yang dimiliki oleh banten.

Intinya, tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk memproduksi lebih banyak kebaikan dan kabar gembira. Selamat meresapi kabar baik dan memupuk kembali optimisme untuk Banten thoyyibah di tahun-tahun yang akan datang… 🙂