Monthly Archives: May 2010

Fotografi dan Perjalanan

Pertama, dua hal di atas –fotografi dan perjalanan– katakanlah hobi, sekaligus obsesi. Memang tidak hanya hobi, karena aku berminat untuk terus bertambah terampil hingga benar-benar prigel. Walau untuk saat ini, obsesi itu berarti kembali memiliki the gadgets.

Kenalan dengan DSLR

Fotografi aku temukan di sela kejenuhan setelah cukup lama lepas dari lapangan hijau. Sepakbola sejak lama kuanggap merupakan moment yang baik untuk menyehatkan jiwa dan raga (ini serius). Dan ketika intensitas berkeringat dan berkompetisi itu menurun jauh, bahkan nyaris terhenti sama sekali, aku benar-benar mulai berpikir untuk mencari ‘permainan’ lain.

Pada perhelatan pileg 2009 yang lalu, untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan jenis kamera baru. Sekarang aku sudah cukup familiar menyebutnya: DSLR (Digital Single-Lens  Reflex). Nikon D100 adalah DSLR pertama yang aku sentuh dan kemudian banyak gunakan di berbagai kesempatan di tengah hiruk-pikuk pileg 2009.

Jujur saja, yang aku tahu saat itu hanya menekan tombol rana saja, persis ketika aku gunakan jenis kamera biasa. Tidak ada yang mengajariku untuk mengembangkan teknik-teknik tertentu atau menggunakannya lebih jauh lagi.

Dari kesempatan potret-memotret itulah aku mulai menyukai fotografi. Aku mulai mencari informasi mengenai bidang ini dan–tentu saja–kamera lebih jauh. Perkenalanku dengan kamera  membawaku bertemu dengan kelas prosumer, satu kelas ‘di bawah’ DSLR yang juga ternyata punya beberapa stratifikasi lagi. Aku hanya belajar fotografi makro dari yang aku pahami (kemudian waktu, aku tahu yang aku coba lakukan ternyata bahkan tidak mendekati fotografi makro sama sekali). Aku cukup puas bisa mengambil gambar berbagai jenis fauna serangga atau bunga secara close-up. Meski kualitasnya bahkan tidak mendekati contoh fotografi makro yang aku ingin tiru.

Meski cukup berkesan, aku tidak puas dengan kamera prosumer. Lantas aku menggali lagi fotografi dan kamera lebih jauh. Setelah survey kecil dan bertanya pada beberapa suhu atau fotografer berpengalaman yang aku kenal, serta tentu saja menghitung kedalaman saku, aku memutuskan membeli salah satu DSLR entry level (untuk pemula). Dengan sok menimbang ini dan itu, aku membeli Canon Kiss X2 atau Rebel Xsi (di Indonesia lebih dikenal dengan seri 450D) dari salah seorang partner di surabaya melalui bursa fotografer.net.

Sehari sebelum lebaran  Iedul Fitri 1430 H, si eneng (panggilan sunda untuk gadis, begitu aku menyebutnya) sampai ke alamat kantorku di Bandung. Dan di bawah ini beberapa korban percobaannya 🙂


Elan is Alone (copyright 2010 zain)

Visiting the Past (copyright 2010 zain)

"Accompany the Silence" (copyright 2009 zain)

Fotografi VS Perjalanan

Omong-omong soal fotografi dan traveling, temanku pernah sekali berkomentar; Bagaimana kedua hobi itu bisa berjalan bersamaan dengan baik? Bukankah jika kita sibuk membingkai dan mengabadikan moment dengan kamera maka perjalanan itu sendiri tidak bisa kita nikmati secara penuh, karena kita sibuk cari angle, komposisi, mencari tema, menentukan lensa yang tepat, mengatur aperture, men-set shutter speed, dan mengukur iso, sampai melakukan spot metering, dll?

Untuk yang condong ke mazhab menikmati perjalanan, fotografi akan menghabiskan terlalu banyak waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menggali esensi perjalanan itu sendiri. Seperti mendapatkan nuansa dan kekayaan bathin yang bisa diperoleh dari orang-orang, budaya, kuliner, dan kearifan tempat yang dikunjungi. Kita merelakan waktu mengunjungi lebih banyak tempat, mengobrol dengan lebih banyak orang, menikmati lebih banyak nilai masyarakat sekitar, dan menangkap keunikan suasana sepanjang perjalanan. Trinity (the naked traveler) juga bercerita lewat tulisan yang ini.

Sebaliknya, bagi penggemar fotografi –meski jenisnya juga beragam; mulai dari profesional mentok sampai narsis jeblok– ada kepuasan tertentu dengan bisa mengabadikan perjalanan melalui gambar. Bisa disimpan sebagai kenangan untuk dinikmati pribadi, dijadikan bukti kepada handai tolan bahwa kita pernah menjejaki tempat itu (sombooong :D), atau bahkan dikomersilkan. Yang jelas, karya fotografi juga memerlukan keterampilan dan punya kelas seni tersendiri. Termasuk untuk menyebarluaskan pandangan atau keyakinan kita seperti cerita yang ini.

Bagi saya, gaya atau aliran manapun yang kita pakai, asal kita bisa enjoy dan —lagi-lagi seperti Bu Mila bilang—bisa ambil hikmahnya, tidak jadi persoalan.

Dan bukankah dengan begitu kita bisa berbagi dan memperkaya hati?

Selamat menjelajah dan memotret.