Monthly Archives: August 2012

Sekedar Suka

Ah, saya tidak banyak tahu soal apa-apa. Tidak bisa menulis dengan baik dan cukup humanis. Tidak pula memiliki keterampilan menuturkan sesuatu dengan struktur yang baik atau sistematis. Yang pasti, saya juga masih mesti banyak belajar supaya punya penjiwaan yang baik ketika bekerja atau melakukan apapun.

Saya hanya suka dengan pengetahuan. Menyenangi tulisan yang enak dibaca dan perlu. Gemar sekali dengan perbincangan yang substansial, mendalam, dan dipaparkan dengan rapih-berurut. Saya benar-benar mudah jatuh cinta pada pekerjaan apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati atau karya yang dibuat dengan totalitas jiwa. Dan saya angkat topi, amat respek kepada siapapun yang memiliki atau mampu melakukan hal-hal diatas.

Tapi, bukan berarti saya bisa kalau saya suka, bukan?

Saya lebih mirip orang yang sok-tahu. Baru sedikit baca judul, saya bilang sudah baca seluruh isi bukunya. Baru mendengar beberapa patah kata secara selintas, saya mengaku sudah khatam dan memahami seluk-beluk bab yang dimaksud. Baru melihat seorang tokoh di kejauhan, saya woro-woro sudah pernah berguru padanya. Padahal berpapasan saja tidak.

Beberapa kali saya berimajinasi punya ilmu Laduni, yang bisa tahu banyak hal tanpa harus belajar. Tapi, faktanya jauh panggang dari api. Karena saya memang cuma sok-tahu. Kalau ditanya lebih dalam, pasti saya bilang: “Perkara ini perlu diterima penjelasannya dengan kesiapan mental dan ruhani yang lebih tinggi. Saya jelaskan nanti kalau bapak-bapak, ibu, dan saudara sudah saya anggap lebih siap.” Sembari setelahnya segera saya buka google.

Saya juga menulis dengan banyak kutipan (atau menyalin) dari penulis-penulis favorit saya ketimbang menuangkan gagasan, pendekatan, diksi dan redaksi yang genuine. Yang orisinal mungkin tulisan saya di buku diary, yang isinya asli ratapan saya yang galau atau curhatan saya yang alay.

Saya tidak cukup rajin dan memiliki energi untuk membuat tulisan dengan pondasi filosofis yang jernih, bangunan data yang valid, pilar rujukan yang lengkap, struktur dan gaya tulisan yang mengerti kejiwaan manusia sehingga tidak membosankan dan terkesan menggurui saat dibaca. Bahkan, meski sekedar menulis sebuah catatan dengan kesimpulan yang jelas pun, saya payah. Apalagi sampai punya magnum-opus. Jauh.

Kalau sedang ngobrol atau diskusi, saya malah lebih sering menunjukkan gejala kepandiran; seperti nyeletuk dengan gurauan yang kurang pantas, ber-argumen diluar konteks dan relevansi bahasan, mengacau-balaukan struktur kalimat supaya lawan debat (dan ujungnya saya sendiri) tersesat dalam alam pemikiran saya, dan/atau terlalu mendominasi pembicaraan ketimbang lebih banyak mendengarkan dan menguntai hikmah dari cerdas-cendekia yang lebih paham makna rendah hati. Saya juga kerap sok-menyimpulkan, sekedar buat mempertegas bahwa saya menang-argumen dan akhirnya tetap paling pintar diantara yang hadir.

Kalau saya tidak paham dengan diskusi yang sedang berlangsung akibat pendeknya nalar saya, saya berbisik-nyinyir ke orang yang di samping saya supaya saya tidak kelihatan bloon: “Pasti ini diskusi pesanan dengan agenda-agenda terselubung. Ada sponsornya. Saya ada janji menghadiri pertemuan yang lain nih. Titip salam buat semua ya.” Lalu saya ngacir setelah menghabiskan segelas kopi dan krim plus mengantongi makanan ringan yang tersedia, berharap diundang lagi.

Yang lebih parah, sampai hari ini saya masih sering bingung menunjuk mana pekerjaan atau profesi yang sungguh-sungguh serius saya jalani. Apatah saya ini pengajar, aktivis, politikus, pengamat, mahasiswa, imam mushalla di kampung, konsultan, staf kantoran, pemain bola, atau penggerutu?

Rasanya tidak ada satupun diantaranya yang saya lakukan dengan mengerahkan seluruh daya yang saya punya. Istilah sepenuh hati atau melakukan dengan cinta sama sekali tidak berlaku untuk hal-hal yang saya perbuat itu. Kebanyakan saya lakukan biasa-biasa dan, yang penting, gaya. Numpang eksis saja.

Menyedihkan, bukan?

Demi Allah yang kekuasaan-Nya tidak pernah berkurang sedikitpun, apalagi dengan kesombongan yang saya miliki, saya jelas tidak bangga dengan kondisi seperti itu. Maksudnya, pada dasarnya saya pun ingin menjadi ‘abid yang lebih baik. Kalau semua hal di atas dimaknai sebagai ibadah, tentu saya ingin melakukannya dengan lebih baik, atas nama cinta.

Guru saya pernah berkata–inipun saya sejujurnya cuma ngaku-ngaku murid–hidup itu soal sudut pandang. Ketika Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Ar-Ra’d: 12: “Allah memperlihatkan kepadamu halilintar untuk menimbulkan ketakutan dan harapan. Allah pulalah yang membentuk awan mendung itu,” Ia sesungguhnya sedang bertamsil. Betapapun halilintar atau petir itu begitu menyilaukan mata dan memekakkan telinga kita, betapun awan mendung itu begitu kelam dan menakutkan, kesan itu akan hilang dengan sendirinya berganti sukacita ketika air turun sebagai hujan, sumber kehidupan.

Halilintar atau petir itu dapat menimbulkan ketakutan, dan pada saat yang sama melahirkan harapan. Realitasnya satu: Halilintar. Tapi penfasiran atas realitas itu tidak tunggal. Tergantung dari sudut mana kita memandang.

Saya sih ingin menerima dan memaknai kondisi saya yang pandir ini sebagai sebuah kesempatan buat saya untuk terus belajar. Andaikan satu-satunya hal serius yang saya lakukan dengan segenap cinta dalam hidup ini adalah menjadi pembelajar, saya pun tidak akan menyesal.

Dengan begitu, saya berharap tidak akan terjerumus pada rasa sombong dan merasa paling benar karena “Al-Haq min Rabbika…”. Ilmu adalah cahaya yang semestinya menjadi pelita untuk tiap sudut-sudut yang gelap, bukan obor yang mengancam membakar-musnah sembarang benda. Lagipula, siapatah kita yang layak mengenakan jubah-Nya?