Monthly Archives: September 2010

Marantau di Nagari Minang – part 2

Hari ke-2.

Siang itu, kami kelar membuat janji dengan pemilik rental motor di Jl. Wahidin daerah tarandam yang rencananya akan kami gunakan untuk mendukung mobilitas selama di padang. Honda (panggilan masyarakat padang untuk motor, segala jenis  dan merek motor) ternyata masih di luar dan baru bisa kami pakai menjelang ashar.

Kami putuskan untuk kembali ke pemondokan di Jl. Jend. Sudirman Depan BI Padang untuk sementara sambil menyusun beberapa rencana.

Kami naik oto (istilah umum di padang untuk mobil), angkot tepatnya. Uniknya, angkot-angkot di padang sejak lama berlomba menghias diri dan menjadi yang paling sophisticated. Tidak aneh jika kita menemukan angkot yang ‘meriah’ dan ‘mewah’  baik eksterior maupun interiornya. Misalnya di bawah ini.

LCD TV; Salah Satu contoh kecil ‘Kemeriahan’ Angkot Kota Padang

Karenanya, setiap naik angkot di padang, aku akhirnya memperhatikan dan membandingkan juga fasilitas di tiap angkot. Seorang sopir taksi yang sempat kami tanya tentang ‘adat’ angkot di padang ini menjelaskan bahwa modal untuk mempercantik angkot itu sebagain besar dari saku sopir-sopirnya, bukan pemilik. Itu sengaja dilakukan agar penumpang yang faktanya memang didominasi oleh kaum muda-pelajar mau menggunakan jasa mereka. Bahkan beberapa angkot memiliki pelanggan khusus karena memiliki fasilitas yang wah; misalnya untuk interior, LCD TV, Full Stereo Sound System/Sub-Woofer, lampu chrome yang blink-blink, bar, Kursi penumpang khusus seperti navigator mobil balap, dll. Sang penumpang pun rela menunggu angkot tsb datang alih-alih angkot lain yang lebih dahulu melintas.

Kali ini kami naik angkot biru yang akan melintas dekat pemondokan. Bunyi musik techno dari speaker besar di mobil menyambut kami. Kami duduk dekat kursi sopir, di belakang sopir persisnya.

“Uda, maaf ya tadi. Saya lupa,” tiba-tiba teman saya menegur sopir sebelum angkot melaju.

“Iyo, Indak papa, Bang,” sahut sopir.

Dahiku berkerut. Maksud maaf tadi apa?

Temanku melihat kebingunganku. “Tadi saya berhentikan angkot dengan tangan kiri. Saya betul-betul lupa. Kebiasaan. Di Bandung atau tempat lain kan jamak-jamak saja.”

“Biasanya angkot di sini tidak akan berhenti jika kita menyetop dengan tangan kiri. Tidak sopan,” jelasnya lebih lanjut. “Padahal saya di sini sudah lebih dari 3 bulan, tapi masih sering lupa.”

Aku mengangguk-angguk. Pantas tadi seorang bapak tampak-terdengar menegur kami ketika akan naik angkot. Aku kira awalnya dia hanya ingin memberi tahu kami tentang arah angkot.

So, stopping a public transportation using left hand considered impolite in padang. That’s some lesson. Menarik, jadi tidak hanya saat makan.

Oh ya, omong-omong makan, di padang (atau minang secara umum), aku juga diberitahu. Ada adat khusus untuk menggunakan kobokan (tempat cuci tangan). Jangan langsung mencelupkan tangan untuk ber-kobok jika kobokan tidak tersedia untuk setiap orang. Cara yang lebih sopan adalah menuangkan sebagian air kobokan di atas piring bekas makan anda sambil mencuci tangan, secukupnya.

Untung, rasanya, di rumah makan padang yang pernah aku datangi–di luar padang–semua orang dapat kobokan masing-masing.

Marantau di Nagari Minang

Setelah delay selama 40 menit, pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan Y6-583 tiba di Bandara Minangkabau jam 13.20. Alhamdulillah, lancar. Sayang di pesawat tidak bisa menikmati pemandangan Kota Padang dari atas. Kursiku ada di tengah, dan hampir sepanjang perjalanan aku tidur. Letih juga setelah kemarin nyaris full di kampus sampai setengah 10 malam. Demi padang… 🙂

Sesuai petunjuk dari Aria Permana–kawan selama di padang nanti, asli pengalengan yang dapat istri dari padang panjang–aku naik bus tranex (salah satu bus bandara selain Damri) yang rutenya melintas jalan Khatib Sulaiman. Turun di GOR H. Agus Salim dan ketemu di Soerabi Enhai.

Soerabi Enhai? Familiar?? Ternyata memang surabi anu ngepop di bandung tea.

Halah.. Jauh-jauh Ambo Marantau ke Padang, basiroboknyo surabi banduang juo :D

Anggap saja sebuah adaptasi.

***

Menginjak Ranah Minang untuk yang pertama kalinya, terus terang meski terdengar norak, merupakan mimpi jadi nyata. Persisnya aku memang lupa sejak kapan punya mimpi untuk itu. Tapi, rasanya dengan kegembiraan yang sangat seperti ini, aku percaya ia hadir sudah cukup lama. Jauh sebelum aku mengenal secara langsung macam apa itu urang awak sendiri.

Kesyukuran yang hadir ketika menginjakan kaki, menghirup udaranya, berbincang dengan langgam minang untuk pertama kali, menyaksikan sendiri rima masyarakat dan alamnya, atap bagonjong yang asli.. ah betapa sangat aku nikmati. Berlebihan? Ndak jadi masalah untuk kali ini…

Aku beruntung dapat pemandu (dan kelak ternyata ia juga menjadi jimat kami selama di Padang) yang meski bukan minang asli, tapi dengan 3-4 bulan saja sudah cukup jeli dan kritis untuk mempelajari A sampai Z kebudayaan dan kebiasaan masyarakat minang dengan hati. Aku memang tidak mendapatkan perspektif genuine orang minang, tapi sudut pandangnya sebagai orang sunda yang menikah dengan anggota salah satu suku/klan minang (koto) justru memberikan pengaruh menarik dalam mengkatalisasi aku untuk bisa mem-blend diri ke dalam nunsa minang.

Setelah makan siang di surabi enhai dan memberikan beberapa opsi penginapan sebelum rencanaku ‘mondok’ di pesantren Abang Irsyad di Arrisalah, Aria mengantarkan aku ke Jl. Jend. Sudirman. Tepatnya ke wisma mayangsari yang sudah lazim dipakai sebagai penginapan umum. Di depan mayangsari, persis berdiri dengan kharismanya atap bagonjong gedung BI Sumbar. Dari balkon lantai 2, kegagahannya yang bermandi senja makin lezat dinikmati.

Waktu ternyata sudah cukup sore. Kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan menjalankan beberapa opsi rencana yang kami susun sambil makan siang tadi di esok hari. Aria kembali ke kediamannya di daerah simpang haru, menggunakan angkutan umum.

Namun, aku berpikir, setelah dapat informasi bahwa pantai padang tidak begitu jauh dari lokasi wisma, dan nampaknya senja ini tidak berlanjut hujan meski siang tadi kami sempat diguyur gerimis, aku nekat memburu senja ke pantai.

Setelah unpacking dirasa cukup, aku memutuskan pergi. Keluar wisma, belok kiri hingga persimpangan dan belok kiri lagi ke Jl. Ahmad Yani. Jalan. Dengan modal petunjuk siluet sunset di ujung jalan yang cukup rindang, aku terus mengayunkan kaki. Tidak terasa, sudah 2 KM. Aku pun mandi, keringat.

Pantai Kota Padang

Pantai Padang menonjol dengan batu-batu pemecah ombaknya. Di ujung gundukan batu-batu granit besar pemecah ombak yang kusinggahi ini, seorang lelaki paruh baya dan 3-4 pemuda terlihat meregang kailnya. Barisan pasir masih bisa dinikmati, namun tidak terlalu leluasa. Beberapa lapau penjual ikan atau makanan kecil dan minuman ringan terlihat satu-satu. Jika tidak keliru, berdasarkan petunjuk Aria, agak ke selatan terlihat semenanjung dan pulau kecil yang menutupi Pantai Air Manis, lokasi legenda Malin Kundang. Sementara ke arah utara, lapau yang menyediakan hidangan laut berada agak jauh. Dari kerlipnya, aku menduga mereka sudah memanaskan tungku dan bersiap menyamput tamu.

Dan inilah sisa senja di pantai padang yang masih bisa aku nikmati di hari pertama. Alhamdulillah… 🙂

Azan Maghrib bersahutan. Aku ingat, aku masih harus berjalan kembali sejauh 2 KM.

Dan Calon Istriku Adalah…

Inilah takdir yang harus dijalani oleh satu golongan manusia. ‘High-Quality-Jomblo’ di mana pun berada dipastikan akan selalu berhadapan dengan pertanyaan dari banyak orang yang garis besarnya sama; Kapan dong kamu kawin?

Jika cukup beruntung, seperti bertemu audience yang baik hatinya–maka mereka dengan kemurahan hatinya akan berusaha mencarikan anda pasangan yang tepat. Menurut mereka.

Meski saya bukan bagian dari golongan itu, entah kenapa saya kadang tertiban nasib seperti mereka. Dan karena saya beruntung bergaul dengan orang-orang yang hatinya baik, rajin berkebun, nyaris tidak pernah absen ngaji tiap hari, dan nonton Mario Teguh, saya mendapatkan banyak advis, tips, dan triks mendapatkan jodoh. Jika amalan saya sudah agak mendingan, mereka yang jadi pendukung setia saya itu suatu saat akan berusaha menjadi mak comblang supaya saya dapat pasangan yang tepat. Menurut mereka.

Yang mengagumkan, hampir semuanya diberikan tanpa diminta lho. Luar biasa mereka itu. Alhamdulillah.

  • Carilah istri yang penceramah, saran teteh saya yang guru ngaji. Alasannya, supaya kelak ada yang menjadi penerusnya. —-ini special request, susah menampiknya. Bisa berkurang tuah do’a saya.
  • Guru, adalah simpulan dari nasihat panjang teteh saya yang lain. “Guru kan kerjanya setengah hari. Punya lebih banyak waktu melayani suami dan keluarga,” begitu menurut pengalamannya selama mengajar di SD. —-Aku setuju dengan konsep keseimbangan antara karir dan tugas keluarga. Masuk akal.
  • Peristrilah pengusaha, kata temanku yang bos jamur. Agar ia tahu nilai dan cara mengelola uang dan barang dengan baik. —-Ya, yang penting kepentingan keluarga tetap di atas usahanya.
  • Sahabatku yang kini tengah merintis karir politik memberikan nasihat yang tidak kalah brilian, “Dekati dan peristri anak Presiden, Gubernur, atau Bupati. Atau setidaknya carilah istri calon atau kalau perlu yang sudah jadi Bupati. Otomatis kita jadi Bapak Bupati,” santai dengan rokok favoritnya. —-Racunnya lebih berbahaya dari seluruh asap rokok yang dihembuskannya.
  • Carilah bidan atau perawat, kata teman main futsal saya yang mengajar di Bimbel. “Supaya ada yang merawat ketika kita sakit. Selain itu, sudah otomatis mengetahui ilmu hamil, melahirkan, dan merawat anak,” terangnya. —- Tidak perlu harus menjadi profesinya kok.
  • “Sudah, pilih istri yang fokus jadi ibu rumah tangga saja. Ibu rumah tangga itu juga profesi lho. Mulia lagi, tugasnya mendidik anak-anak menjadi sholeh dan sholehah,“ tutur seorang teman SD-ku menengahi kebingungan sambil berusaha keras anak-anaknya mau mengaji malam itu. —- Ini tetap pilihan istri dari diskusi dan kesepakatan kami saja nanti.
  • Lain lagi pendapat ustadzku dulu, “Saudara, istri itu bagi kita bukan sekedar pelepas dahaga. Istri adalah kawan dalam berjuang menegakkan nilai dan cita-cita Islam. Oleh karena itu, peristrilah wanita yang satu pemikiran dengan kita.” Tapi menurut beliau, “Kamu masih harus banyak pembekalan dulu, akh.” —-Senyum saja. Proposal aku batal ajukan.
  • Kalau teteh kandungku, satu-satunya yang kuminta pendapat tentang calon istri secara serius sungguh punya jawaban yang menyejukkan, “Ade, izinkan teteh terlebih dahulu memperbanyak do’a supaya ade lebih siap, ya.” —-Artinya ‘SIM’ masih belum bisa keluar. Senyum lagi. Proposal ditolak.

**

Ah, siapa yang kata-katanya betul-betul murni, tak berpretensi sama sekali?

Aku langsung ingat Daffa. Lalu, tersusunlah strategi supaya Daffa mau dengan senang hati menyumbangkan sarannya. Supaya tidak kena “Daffa mau bobo” atau “Daffa-nya ngantuk”, aku harus bertanya di waktu tepat. Diputuskanlah pada saat Daffa pulang dari TK.

Jam 10.30. Daffa sudah pulang diantar ojek langganan. Seperti biasa, dia langsung memburu acara kesayangannya di spacetoon. Aku mulai menghampirinya, bertanya (kali ini lebih ke basa-basi) sekedar mengingatkannya pelajaran pagi tadi. Daffa menjawab sambil terus bermain dengan kereta-kereta mainan kesayangannya. Daffa masih antusias bermain dan berceloteh dengan lokomotif Thomas-nya, gerbong-gerbong yang baru diberikan bunda, dan beberapa mobil yang dijadikannya sebagai pelengkap.

Setelah menunggu beberapa jenak.

“Nong (panggilan kesayangan di serang-pen), kalo Yai punya Yai Teteh (ini untuk menyamakan pengertian Daffa yang memanggil istri uwa-nya dengan uwa teteh-pen), Daffa maunya yang jadi apa?”

Daffa masih dengan kereta-keretanya. Pertanyaanku tak bersambut.

Ah, kelihatannya aku yang lebay. Masak bertanya begitu kepada anak yang belum genap 5 tahun. Mana dia paham. Kakek macam apa aku ini?

“Yai, Daffa sekarrang inget.”

Oh, Daffa menyahut. Ternyata tadi dia sedang berpikir mencari jawabannya. Semangatku bangkit lagi.

“Ya, sayang.”

“Masinis, Yai.”

“Ha? Masinis?”

“Iya, Yai. Daffa dah inget.”

Ya, Daffa memang berulangkali lupa kata itu. Tapi masa masinis? (Calon) istriku masinis?

“Kerretanya yang ngangkut batu barra ya, Yai,” Daffa melihat ke arahku, gembira karena kali ini tidak salah menyebut ‘sopir’ keretanya.

Aku mengangguk. Takzim. Lemas.

Seharusnya aku bertanya ketika dia sedang bermain dengan pesawat-pesawatnya. Minimal, mungkin, jawabannya akan lain…

Mahmatku.. Mahmatku…

Beberap hari sebelum Syawal 1431 H.

“Yai, Yai, ke sini. Ada Mahmatku.. Mahmatku. Ke sini, Yai,” Daffa berlari menyongsongku yang sedang mempersiapakan laporan di kamar. Tangannya menggamit lenganku dan menyeretku ke depan TV, tak perduli meski aku sedang mengetik dan memintanya bersabar menunggu sebentar.

Yang Daffa maksud adalah video klip Haddad Alwi dan Vita feat Ebieth Beat A (rapper asal Bandung) yang berjudul ‘Muhammad Nabiku/Rindu Muhammadku.’ Bisa ditengok di sini.

Kami menjadikannya ‘soundtrack’ di bulan puasa–meski Daffa selalu berbuka pada jam 10 pagi, atau jika ia lupa dan tidak ada yang mengawasi, Daffa akan tetap ‘sahur’ lagi sebelum berangkat sekolah. Sampai hari ini, jika Daffa menemukan klip itu tayang di antara film-film kartun kesukaannya di spacetoon, dia akan ikut bernyanyi. Dan jika tahu aku sedang di rumah, Daffa akan mengajakku serta.

Lagu itu memang disukai anak-anak. Ini tentu cukup melegakan. Apalagi sekarang anak-anak berada di tengah serbuan musik dan tontonan ‘orang tua’ yang belum tentu cocok untuk program pembentukan pondasi karakter mereka. Sulit menemukan nyanyian untuk anak-anak yang pas dari stasiun-stasiun TV kita dewasa ini. Langka sekali menemukan lagu-lagu baru dengan kelas kualitas AT Machmud atau Ibu Kasur. Ada era dina mariana, adi bing slamet, melisa, enno lerian, joshua, bondan prakoso, tasya, dea ananda dan masih banyak lagi hingga sherina munaf yang masih orisinal dan lebih kental dengan keringanan-yang-memuat-info/pendidikan-menarik-untuk-anak. Sekarang, Idola Cilik lebih suka menyanyikan lagu peterpan atau nidji.

Kemudian, di akhir tahun 90-an, Haddad Alwi muncul bersama sulis dengan seri album ‘Cinta Rosul’ dan hits seperti ‘ya thaybah’ dan ‘ummi’ yang bisa menjadi alternatif pilihan bagi para orangtua, atau guru. Sekarang, setelah beberapa tahun, bersama pelantun cilik yang baru–Vita, Haddad Alwi datang lagi dengan konsepnya yang menarik (ada tambahan rap dari Ebieth:). Syukurlah. Setidaknya, masih ada alternatif yang cukup menyejukkan.

Aku juga bersyukur Daffa suka sekali lagu ini. Bahkan sudah punya VCD-nya (masih bajakan dari kakilima) yang diputarnya terus nyaris tiap hari. Meski begitu, Daffa tetap suka dan ikut bernyanyi (atau sedikitnya bergumam) ketika spacetoon juga menayangkannya hampir setiap 1 jam sekali (meski sekedar promo). Daffa juga akan sangat senang menemukan VCD yang sama di mobil uwa-nya. “Yai, di mobil wa atep juga ada VCD Mahmatku,” lapornya suatu hari.

Latar belakang ia suka menarikku ikut menonton atau bernyanyi bersama adalah karena awalnya aku yang memaksanya ‘menikmati’ lagu itu. Aku ajak Daffa menyanyikannya, menghafalnya, dan bergerak bersama. Sampai akhirnya Daffa minta Bunda untuk membelikannya VCD. Sekali lagi aku bersyukur, sebab Daffa pernah bilang lagu kesukaannya adalah ‘cinta satu malam’ dan ‘keong racun’ (weleh!). Maklum, kedua lagu itu secara rutin diputar keras-keras di depan rumahnya 2 kali seminggu (rabu dan sabtu ketika hari pasaran) oleh penjual CD dan VCD bajakan. Jadi, bagaimana tidak terngiang-ngiang.

Sekarang, laporan harus menunggu dulu hingga kami selesai menyanyikan lagu. Sabar ya.. 🙂

“Tsyapa yang cinta pada nabi ya,

pastti bahgya lam hdupnya..

Mahmatku, Mahmatku, ngarrlah semuaku

ku rrindu, ku rrindu, damu Mahmatku…”

*silahkan lacak syair lagu yang benar ya, atau dengar saja langsung lagunya 🙂

Seputar Kekeliruan Mengucapakan Minal Aidin wal Faizin

Ini tulisan saudara kita Nuruddin Al-Indunisy, seputar kekeliruan mengucapakan Minal Aidin wal Faizin. Dikirim oleh Margus Ardiantos buat Anggota Forum Umat Rindu Syariah & Khilafah (FU- RSK).

Bismillahirrahmanirrahim…

Sebelum membahas kata Minal Aidzin wal faizin, mari kita perhatikan dalil-dalil terkait yang membahas tentang ucapan ini:

“Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied: Taqabbalallahu minnaa wa minkum.“ Artinya: Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Majmu Al-Fatawa 24/253].

Jubair bin Nufair: “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.  Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan Isnad yang Hasan.

Muhammad bin Ziyad berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: ‘Taqabbalallahu minnaa wa minka”. (Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259).

IMAM AHMAD menyatakan bahwa ini adalah “Isnad hadits Abu Umamah yang Jayyid/Bagus. Beliau menambahkan: “Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” [Al Jauharun Naqi 3/320. Suyuthi dalam ‘Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan].

Nah, Sahabat. lalu kenapa Minal Aidin wal Faizin?

Di kalangan masyarakat dan media televisi berjuta-juta muslim di Indonesia sering mendengar kata ini digandengkan dengan kata ‘Mohon maaf lahir batin’ sehingga kurang lebih begini: “MINALAIDIN WAL FAIZIN – MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”, Seakan-akan (mungkin yang mengucapkan) menganggap bahwa Minal Aidin Wal Faizin ini berarti Mohon Maaf Lahir dan Batin. Benarkah begitu?

Coba perhatikan dan analisa sendiri jika dua frase itu diartikan secara menyeluruh dalam bahasa Indonesia yang benar: “TERMASUK DARI ORANG ORANG YANG KEMBALI SEBAGAI ORANG YANG MENANG – Mohon maaf lahir dan Batin”.

Sepertinya rada ngawur (maaf), karena jika demikian artinya tidak Jelas. Do’a bukan (karena tidak lengkap).. dan Salam juga bukan 🙂 karena lucu saat kita artikan dari bahasa Aslinya. Adapun menurut hemat saya, ya syah syah saja selama kita tidak tahu dan itu sebatas Ikut ikutan dan SERTA tidak meniatkan bahwa Mohon maaf Lahir dan Batin itu arti dari Minal Aidin wal Faizin.

Coba lihat penerjemahan makna frase Minal Aidin Wal Faizin dalam bahasa Arab berikut:

  • Min, Artinya “termasuk”.
  • Al-aidin, Artinya”orang-orang yang kembali”
  • Wa, Artinya “dan”
  • Al-faizin, Artinya “ menang”.

Jadi makna “Minal Aidin Wal Faizin” jika dipaksakan diterjemahkan ke dalam kai’dah tatabahasa Arab – Indonesia yang benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”. Artinya mengambang bukan?

S O L U S I

Mari perhatikan; dalam budaya Arab, ucapan yang disampaikan ketika menyambut hari Idul Fitri (yang mengikuti teladan nabi Muhammad Saw) adalah “Taqabbalallahu minna waminkum”, Kemudian menurut riwayat ucapan nabi ini ditambahkan oleh orang-orang dekat jaman Nabi dengan kata-kata”Shiyamana wa Shiyamakum”, yang artinya puasaku dan puasamu, sehingga kalimat lengkapnya menjadi “Taqabbalallahuminna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum” (Semoga Alloh menerima amalan puasa saya dan Kamu).

Dari Riwayat tersebut Dan seperti keterangan keterangan yg dipaparkan yang benar adalah dari “Taqabbalallahu… sampai … shiyamakum”. tidak satupun menyatakan ada istilah Minal Aizin wal Faidzin. Atau Tanpa minal Aidin wal faidzin.

Jadi mengucapkan Minal Aidin wal Faizin, jika kita mengucapkannya dengan niat ingin mencontoh kebiasaan Rosulullah/Ittiba’qauly, jatuhnya bisa menjadi Bid’ah, tapi kalau niatnya hanya untuk “Ingin mendoakan sesama Saudara seiman”, Insya Allah, tidak salah dan bahkan hal yang baik.

Adapun jika ingin menambahkan bisa saja ditambahkan diakhir kalimat, agar secara harfiyah aja serasi: ”Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum. Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faizin”.  Artinya, “Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Puasa kami dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang.”

Ja’alanallaahu : Berarti “Semoga Allah menjadikan kita”.. sebagai tambahan untuk melengkapi, Minal Aidin wal Faizin yg mengambang tadi.

Sekedar tambahan, bagaimana jika kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa arab benar? Salah satunya adalah “As-alukal afwan zahiran wa bathinan”. Atau “Kullu aam wa antum bikhair”, yang berarti semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan baik-baik “, dan, sekali lagi Bukan Minal Aidin wal Faizin” karena kata ini bukan berarti Kalimat permintaan Maaf. Mungkin hanya sebuah do’a yg tidak Utuh. Demikian, Mohon koreksinya.

“Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallaahu minal aidin wal faizin”

“Semoga Allah menerima amal-amal kita. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang.”

Dan mari kita memohon, kepada Dzat Allah Aza wajala; Semoga Kita dianugerahi untuk menikmati Ramadhan Tahun Tahun Berikutnya dengan Rizki dan Kebarokahannya, Amiin.

Semoga bermanfaat.