Hari ke-2.
Siang itu, kami kelar membuat janji dengan pemilik rental motor di Jl. Wahidin daerah tarandam yang rencananya akan kami gunakan untuk mendukung mobilitas selama di padang. Honda (panggilan masyarakat padang untuk motor, segala jenis dan merek motor) ternyata masih di luar dan baru bisa kami pakai menjelang ashar.
Kami putuskan untuk kembali ke pemondokan di Jl. Jend. Sudirman Depan BI Padang untuk sementara sambil menyusun beberapa rencana.
Kami naik oto (istilah umum di padang untuk mobil), angkot tepatnya. Uniknya, angkot-angkot di padang sejak lama berlomba menghias diri dan menjadi yang paling sophisticated. Tidak aneh jika kita menemukan angkot yang ‘meriah’ dan ‘mewah’ baik eksterior maupun interiornya. Misalnya di bawah ini.
Karenanya, setiap naik angkot di padang, aku akhirnya memperhatikan dan membandingkan juga fasilitas di tiap angkot. Seorang sopir taksi yang sempat kami tanya tentang ‘adat’ angkot di padang ini menjelaskan bahwa modal untuk mempercantik angkot itu sebagain besar dari saku sopir-sopirnya, bukan pemilik. Itu sengaja dilakukan agar penumpang yang faktanya memang didominasi oleh kaum muda-pelajar mau menggunakan jasa mereka. Bahkan beberapa angkot memiliki pelanggan khusus karena memiliki fasilitas yang wah; misalnya untuk interior, LCD TV, Full Stereo Sound System/Sub-Woofer, lampu chrome yang blink-blink, bar, Kursi penumpang khusus seperti navigator mobil balap, dll. Sang penumpang pun rela menunggu angkot tsb datang alih-alih angkot lain yang lebih dahulu melintas.
Kali ini kami naik angkot biru yang akan melintas dekat pemondokan. Bunyi musik techno dari speaker besar di mobil menyambut kami. Kami duduk dekat kursi sopir, di belakang sopir persisnya.
“Uda, maaf ya tadi. Saya lupa,” tiba-tiba teman saya menegur sopir sebelum angkot melaju.
“Iyo, Indak papa, Bang,” sahut sopir.
Dahiku berkerut. Maksud maaf tadi apa?
Temanku melihat kebingunganku. “Tadi saya berhentikan angkot dengan tangan kiri. Saya betul-betul lupa. Kebiasaan. Di Bandung atau tempat lain kan jamak-jamak saja.”
“Biasanya angkot di sini tidak akan berhenti jika kita menyetop dengan tangan kiri. Tidak sopan,” jelasnya lebih lanjut. “Padahal saya di sini sudah lebih dari 3 bulan, tapi masih sering lupa.”
Aku mengangguk-angguk. Pantas tadi seorang bapak tampak-terdengar menegur kami ketika akan naik angkot. Aku kira awalnya dia hanya ingin memberi tahu kami tentang arah angkot.
So, stopping a public transportation using left hand considered impolite in padang. That’s some lesson. Menarik, jadi tidak hanya saat makan.
Oh ya, omong-omong makan, di padang (atau minang secara umum), aku juga diberitahu. Ada adat khusus untuk menggunakan kobokan (tempat cuci tangan). Jangan langsung mencelupkan tangan untuk ber-kobok jika kobokan tidak tersedia untuk setiap orang. Cara yang lebih sopan adalah menuangkan sebagian air kobokan di atas piring bekas makan anda sambil mencuci tangan, secukupnya.
Untung, rasanya, di rumah makan padang yang pernah aku datangi–di luar padang–semua orang dapat kobokan masing-masing.

