Air
Perahu kami yang tengah melaju terangkat ke udara. Tubuh kami ikut melayang. Raungan mesin baling-baling sejenak ditelan senyap. Sejurus lalu, badan perahu menghantam permukaan air yang seketika mewujud benda padat-keras. Bugg!!!
Sekali, dua, tiga, empat kali hingga gelombang di depan mereda. Percikan air dan hantaman perahu bak nyala kembang api dan keriuhannya. Mesin kembali menyalak dan kami diseret dengan rerata laju 70 KM/jam. Tiap kalinya perahu terantuk, kami pun terhempas. Punggung dan pinggulku disentil nyeri yang aneh, karena sakitnya justru terus kami nantikan sepanjang perjalanan ke Embaloh Hilir.
Duhai, romansa kapuas mulai memenuhi rongga di dadaku….
Perjalanan sekira 50 kilometer kami tempuh dalam waktu lebih kurang 1 jam. Narasi di Kapuas diawali dengan kejutan-kejutan di luar imajiku, dan mungkin teman-teman lain yang sudah jauh lebih berpengalaman. Ketika ombak pertama menghampiri perahu yang ku naiki, aku cuek dan merepotkan diri foto sana, foto sini. Andai tak membiasakan diri menalikan strap kamera, mungkin sekarang Sony DSC-TX10 sudah damai dalam pelukan Kapuas. Kuatnya hantaman pertama itu langsung membangkitkan kesiagaan, terutama bagi kami yang baru pertama kali merasakannya. Ketika gelombang kembali tercipta dari lajur perahu-cepat lain dari arah berlawanan dan perahu kami mulai menjelangnya, kami buru-buru menyelamatkan pantat. Namun, sia-sia..
Kami tidak sampai tersiram air yang berhamburan, tapi entah kenapa justru aku berharap demikian. Salah satu petugas yang mendampingi kami menuju Desa Nanga Embaloh, Embaloh Hilir, tidak mengatakan apapun mengenai sensasi hantaman badan kapal ke permukaan air. Dia hanya sempat mengingatkan persis setelah perahu memulai penelusuran kami di Kapuas; sebaiknya kami membawa topi dan jaket. Wahai…
Aku bukan penggemar berat topi, dan jaketku, sayangnya, tertinggal di kantor perwakilan kami di Pontianak sebelum kami berangkat menuju Putussibau, Ibu dari Kabupaten Kapuas Hulu. Selain nasihat yang jelas terlambat soal topi dan jaket, saran untuk menggunakan krim-penahan-sinar-surya pun tak banyak membantu sebab kami baru mendengarnya ketika rampung mengarungi seperempat jalan (di mana kami dapatkan tabir-surya di tengah kepungan hutan di kanan kiri kami??). Maka, aku menyelamati diri sendiri yang mesti dijemur sepanjang jalan. Kelak di kantor, katanya, kulit wajahku yang tambah gosong kentara benar seakan baru disamak (tanning).
Di bagian permukaan Kapuas yang tenang, ternyata menyimpan sensasi lain yang dengan ngawurnya aku mirip-miripkan dengan fragmen ketika Piscine Molitor Patel (Pi) bersama Richard Parker harus menghadapi ribuan Hirundichthys Oxycephalus (ikan terbang, atau orang Carenang menyebutnya ikan indosiar) di laut lepas. Ribuan makhluk seukuran dan mirip lebah mengapung dan berterbangan di atas sungai. Aku menangkapnya beberapa, kebanyakan tidak disengaja karena kami menabraknya ketika melaju.
Selain terus bermanuver untuk meminimalisir gesekan dengan makhluk-makhluk itu, nakhoda kami yang berpengalaman, dan tentu saja para pengantar kami yang juga acap mengarungi kapuas ini, sudah mengantisipasi diri dengan kacamata hitam bin gayanya. Aku, cuma bisa memakai gaya dansa tahun 70-an yang menyilangkan telapak di depan wajah, mencoba melindungi mata dan mulut dari serbuan makhluk-makhluk yang baru pertama kali ku temui itu. Hap, hap, hap. Bergantian tangan kiri, tangan kanan. Tangan kiri menutup muka, tangan kanan berpegangan badan perahu yang terus dibawa nakhoda kami menari sepanjang telusur. Ganti tangan sebaliknya. Begitu seterusnya sampai kami harus mengambil pintas untuk menyingkat waktu perjalanan.
Kejutan-kejutan itu lebih meriah lagi kami rasakan pada perjalanan kembali ke hulu. Di samping arus, kami harus menghadapi hujan dan angin yang terlalu ramah. Meski sedikit kapal yang berlawan laju, gelombang lebih banyak terbentuk dari tamparan angin pada permukaan kapuas. Kami lebih mirip katak limbung yang melompat-lompat tak karuan di atas air, ketimbang bandeng atau salmon yang gesit menembus arus…
Simpak-Beliung
Desa-desa kami lewati. Kebanyakan penduduk asli dayak maupun keturunan yang datang dari daratan mongolia dan china, yang tinggal di darat maupun berumah di lanting-lanting. Sehari-harinya mayoritas bekerja di ladang atau hutan. Sebagian lain menghidupi diri dengan mencari ikan di kapuas menggunakan jaring, pancing, atau bubu dari kawat. Ada juga yang menangkar arwana. Ku dengar, sebagian juga membangun keramba untuk beberapa jenis ikan.
Raut mereka khas; sipit, berkulit putih, bersih. Meski masih jarang yang berkecimpung di dunia bisnis atau lembaga-lembaga pemerintahan setempat, masyarakat asli ini tetaplah aset terbesar Kapuas, atau bahkan Kalimantan. Sebagian dari mereka sudah lama memiliki pandangan ke depan soal pendidikan. Tak sungkan menempuh rentang jarak yang jauh hanya untuk bertemu guru.
Dari Kapuas Hulu ini, Ketua Ombudsman (Komisi Ombudsman Nasional) pertama, Antonius Sujata, menimba pengalaman awal sebagai seorang kepala jaksa. Akil Mochtar, salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), juga lahir dan besar dari Putussibau ini. Tak terbayang bagaimana perjuangan mereka kala itu, sebab saat ini saja kami mesti merelakan 3 (tiga) hari perjalanan untuk sampai ke Putussibau dan kembali ke Jakarta.
Ikan favorit di sini adalah Belidak yang sering dijadikan bahan utama membuat Krupuk Basah, panganan khas masyarakat Kapuas Hulu yang mirip empek-empek. Sayangnya, kami hanya berkesempatan menikmati kelezatan Ikan Toman, spesies khas dari Danau Sentarum yang terletak di wilayah hulu Kapuas dan berjarak 4-5 jam jalan darat dari Putussibau. Konon salah satu danau yang memiliki keragaman spesies makhluk air tawar terkaya di dunia.
Dari wilayah ini juga, banyak diburu Arwana. Yang keemasan dan merah paling banyak diburu dan, karenanya, mahal harganya. Empat tempat yang kami datangi mewartakan bahwa minimal kami mesti merogoh saku hingga 2,5 juta rupiah, hanya untuk anak arwana. Jika mau yang sudah lebih dewasa, apalagi dengan warna yang merah menggoda, harga puluhan juta sudah menjadi maklum. Amboi… Tak heran, aset warga kapuas lebih banyak berjenis ikan daripada Harrier, Mercy, atau Fortuner.
Air memang menempati makna penting bagi masyarakat di Kapuas, baik yang berada di sungai, danau, maupun mata-air di hutan-hutan dan perbukitan. Ia teman, Ia ibu, Ia anak, Ia sumber kehidupan. Sungai Kapuas boleh berganti-ganti lajur seiring air bandang yang menghempaskan garis lama. Tapi, masyarakat di sini masih cukup setia dengan maknanya. Mereka bergeser mengikuti tepian kali yang tidak konsisten letaknya agar tetap dekat, tetap hidup, tetap memiliki nilai.
Di Kapuas tentu kami bukan bermaksud berpelesir atau mencomot fungsi antropolog yang mulia. Tugas dan tanggung jawab kepada publiklah yang menghantarkan kami berjibaku dengan inisiasi sungai Kapuas. Tugas dan tanggung jawab yang kami mesti tunaikan meski butuh menjauh dari hiruk-pikuk dan ‘kenyamanan’ kota, serta kembali ke pangkuan alam.
Ada istilah lokal yang diperkenalkan mitra kami di Putussibau dan cukup menyentuh hati. Diam-diam kuharapkan kearifan asli ini jadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan yang kami tangani: Simpak Beliung. Semacam terma yang dikenal dengan ‘tali-kasih’ di daerah lain.
Simpak Beliung didasari kebersamaan, saling percaya, dan mengutamakan manfaat yang lebih luas. Sayang duhai sayang, terkadang trust yang menipis akibat kelalaian-yang-disadari oleh penegak hukum, bikin nilai-nilai tersebut seakan memfosil. Yang aku takutkan malah mungkin (sudah) akan terjadi: Hukum Rimba yang berbicara….
