Saya sudah cukup lama belajar menjadi pengamat yang baik; bidang sosial, politik, atau kehidupan secara umum. Saking kerasnya berusaha, saya sering menemukan diri saya kebingungan sendiri. Sepanjang waktu itu, saya juga mencoba menjadi penceramah. Jadilah, saya semacam penonton yang nimbrung berkomentar. Baik untuk kegelapan maupun situasi remang-remang yang dipandang mencemaskan.
Menonton plus berkomentar itu seringkali menyenangkan. Tanpa harus kehilangan harga diri, kita bisa mengutuk orang lain. Dengan begitu, kita tampil sebagai orang suci yang penuh jasa.
Namun, sungguh pun begitu menyenangkan, penonton-yang-komentator ini sulit diharapkan untuk memberikan solusi. Karena pada dasarnya yang lebih dibutuhkan adalah kerelaan untuk melihat persoalan lebih jernih, sabar, dan tidak egois.