Monthly Archives: November 2015

Senandika Negeri Jingga (Palet 1)

Aku masih ingat, betapa kau sangat menyukai cerita. Sampai-sampai satu hal yang diminta dariku saat kau pulang nanti adalah hadiah buku-buku cerita. “Apa aja. Pokoknya Yumna suka buku cerita,” Ujarmu dengan keceriaan yang meluap.

Senyumku tak berhenti mengembang. Ia pun pernah memantul tepat pada saat aku ditanya, “Kualitas apa yang anda punya untuk mendukung keikutsertaan anda dalam pelatihan ini?” Jawabanku singkat dan pasti; “I love stories!!”

Ya, aku juga menyenangi cerita. Mendengarkannya, membacanya, merasakannya, menyelaminya, memerankannya, kadang ikut tersesat di dalamnya. Seperti menjelajahi dunia-dunia yang tak dikenal sebelumnya.

Semoga perasaan kita sama. Sebab, untuk itulah aku bercerita untukmu kali ini.

***

Hari I; Tiba

Kami tiba di Schipol sekira pukul 8 pagi. Sudah 25 Oktober rupanya. Selain merasakan lelah perjalanan panjang dari Kuala Lumpur selama 10 jam lebih, rasa lega dan gembira juga mendominasi. Akhirnya kami tiba juga di Belanda. Negeri jingga yang kubayangkan akan kaya warna saat musim gugur tiba.

Aku tidak sabar untuk merasakan sajian berikutnya. Tapi kami mesti mengantri untuk menerima uang saku kami selama di sini. 600 euro. Ditambah 50 euro uangku sendiri yang kutukar di Jakarta.

Setelah semua menerima sangu untuk 3 minggu itu, kami ber-20 dikawal Marise dan si mungil Anais keluar bendara. Akhirnya kami merasakan angin dan hawa dingin pertama. Dan tentu saja menyaksikan Schipol dari sudut pandang yang berbeda. Bukan jajaran toko-toko atau lapisan gerbang dan garbarata, tapi bangunannya secara keseluruhan. Seperti yang kubayangkan, modern dan tentu saja canggih dan tertata rapih.

Foto-foto, update status, check-in, atau apalah, wajib urusannya. Sebagian yang sudah membeli sim-card lokal mudah sekali melakukannya. Yang belum, atau yang berniat mengandalkan koneksi wi-fi saja, harus rela bersabar sampai bisa terhubung dengan jaringan dan dunia maya.

Kami masuk bis yang kukira sudah lama tiba. Paul kelak kutahu nama sopirnya. Kami pun menuju Haarlem, kota kecil yang asri tak begitu jauh dari Amsterdam, ibukota Belanda. Tak lama kami tempuh perjalanan, mungkin tak sampai satu jam. Sekira jam 10 waktu setempat kami sudah tiba di depan hotel. Haarlem Hotel Suites. ‘Tersembunyi’ lobinya, kecil saja. Dengan beberapa pegawainya yang bisa kulihat. Semua kaum hawa.

Lantaran kami sampai terlalu dini, kami diminta menunggu selagi kamar disiapkan. Kafe Seymour di seberang lobi hotel jadi tempatnya. Sajian stropwaffel dan kopi/teh hangat sebagai compliment. Enak dan hangat tentunya. Kami membutuhkannya karena udara sudah terasa dingin. Suhu mungkin di sekitar 10-12 derajat. Di luar, kami sudah perlu memakai pakaian berlapis.

Habis kopi dan snack yang tersaji, setelah urusan soal koper dan pembagian kamar tuntas, kami baru dipersilahkan masuk ke kamar setelah jam 1 siang. Maka, ada kira-kira 3 jam bebas kami melakukan apa saja buat membunuh waktu. Tak perlu menunggu, kami semua bertebaran mencari hal-hal (dan tentu saja spot untuk foto) yang menarik di Haarlem.

Kami pakai peta yang kami dapat dengan cuma-cuma di hotel guna memandu. Tak perlu lama, kami berpencar. Asep dan aku akhirnya berdua saja. Menyusuri kota dan menyisir kanal-kanalnya. Sambil menahan dingin dan mengumbar takjub. Serta shutter-count tentunya. Pakai Ipod saja cukup kami kira.

Hit It Haarlem

Haarlem; Hit It

Sepanjang jalan aku masih berpikir, tak perlu terobsesi dengan foto-foto atau dokumentasi. Ekstrimnya, foto hanya untuk memori lemah. Ingatan kuat tak perlu foto. Daripada habiskan banyak waktu untuk berpose-ria, lebih baik manfaatkan masa untuk menjelajah dan benar-benar melihat serta merasa nuansa. Lagipula, jika ingin bernostalgia, tinggal kembali saja dan nikmati ulang suasananya secara langsung.

Kukira, itu alasan yang bagus. Alasan untuk lupa membawa kamera. Juga alasan jika ingin kembali ke sini.

Kembali soal Haarlem, pusat kotanya memang bisa dijelajah dengan berjalan kaki seharian. Tapi hari pertama berjalan 3 jam saja sudah terasa pegalnya. Dalam 3 jam itu kami menemukan banyak bangunan tua yang kokoh dan megah. Terutama gereja dan gedung-gedung bersejarah atau milik pemerintah. Rumah-rumah pula nampaknya. Setia dengan khittahnya.

Toko-toko fashion juga. Berderat banyak di pusatnya. Tampilan luarnya boleh antik. Di dalamnya penuh penghangat plus koleksi dengan desain busana terkini juga trendi. Dan mahal untuk ukuran kedalaman saku yang kupunya.

Yang paling menyolok mataku, banyak lalu-lalang sepeda di sini-sana. Jauh lebih banyak dari kendaraan bermesin. Tua-muda, lelaki-wanita, anak-anak juga, baik yang dibonceng di depan dengan bak khusus atau mengayuh sendiri sepedanya. Dengan baju-baju tebal, syal atau scarf di leher melingkar, rambut pirang dan kemerahan, kulit pucat, postur tinggi dan besar proporsional (trembelane, bagaimana mereka melakukannya?!).

Seperti parade model saja.

Kaki-kaki mereka berjalan cepat. Lebih cepat dari kami yang barangkali tentu tak mengejar apa-apa dan kagum-kagum saja kerjanya. Dinginnya udara dan adaptasi iklim rasanya pekerjaan jasmani yang lambat. Tak begitu kami sadari sampai kulit terasa kering dan bibir pecah dan perih rasanya.

Kanal-kanal yang bersih kukira airnya. Jalan-jalan dari batu-bata merah tua yang kuat, granit yang tangguh, dan besi-besi tebal yang terkadang digunakan sebagai pembatas atau penghalang. Aspal yang hanya ada di jalan raya. Pohon-pohon berderet rapih terutama di pinggir kanal. Sebagian besar masih hijau warnanya. Sebagian menguning, menjadi jingga, hingga mulai ada yang merah dan berguguran helai demi helai. Di taman juga. Tak kalah juara pemandangannya.

Ambooooi. Puitis seperti yang kubayangkan di tanah air dengan noraknya.

Hit It Haarlem 2

Non-Words

Bagian kanal dan taman adalah bagian jelajah kami yang terakhir. Hari ini. Ada monumen kincir angin yang kuminta Asep fotokan denganku ada di dalamnya untuk kukirim segera ke Cairo. Setelahnya, memakai kembali peta kami kembali ke titik di mana kami mulai. Lobi Hotel Haarlem.

Kami diantar Lisa, salah satu staf Hotel yang manis rupa, ke lokasi yang berbeda. Aku di Entrance 2, Asep di tempat lain yang tak kutahu namanya.

Di sini lah jadinya, Kleine Hout 1 dengan Ramon teman sekamarnya. Untuk 2 minggu ke depan di Haarlem setidaknya. Ruang asri di lantai 2, di atas sebuah cafe, dengan teras luas untuk menyapa musim dingin yang segera tiba, kamar tidur dengan kasur tambahan, dapur lengkap, jaringan tv berbayar, sepasang kursi sofa, serta ruang kerja mungil yang terpisah di pojok sana.

—Kukabari dia sekarang tidak ya? 😉

Sorenya, sebagaimana Marise minta, kami berkumpul dekat sebuat tempat di pinggir kanal. Rupanya kami diajak untuk berperahu bersama. Merasakan bagaimana Haarlem direguk sore hari dari sulur-sulur kanalnya.

Kemudian: Hari II; Perkenalan