Monthly Archives: December 2015

Kau Sebut Itu Pertarungan?

Kawan saya semangat betul ingin saya memirsa film ini; ‘Green Street Hooligans’ (GSH)Mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa selain dia penggemar sinema, kawan saya itu juga bobotoh, pendukung fanatik Persib Bandung. Nyaris tak ada pertandingan Persib yang terlewat, koleksi merchandise, hapal nama bahkan riwayat hidup legenda serta pemain-pemainnya, selalu ingin Persib menang, dan siap mengata-ngatai tim atau pendukung tim lain–terutama ‘musuh-abadi’-nya, Persija Jakarta–yang bertanding dengan tim kesayangan mereka.

Entah maksudnya dia mendapatkan pencerahan dari film ini, atau pembenaran, saya tidak terlalu paham. Tapi, sebagai pura-puranya penyenang kajian psikologi sosial, tertarik dengan kebudayaan Inggris, dan tentu saja peminat besar bola (hehe, ini yang utama), kuikuti juga sarannya.

Ringkasnya, ini film tentang Matt Buckner (Elijah Wood), mahasiswa jurusan jurnalistik di Harvard yang di-DO gara-gara mengakui kesalahan orang lain. Matt mau mengakuinya karena merasa orang itu punya kuasa besar. Kuasa untuk membuatnya lebih menderita jika menolak permintaannya, atau untuk mengembalikannya lagi ke Harvard kelak, memberinya kerja, pokoknya membereskan persoalan yang membelit mereka.

Setelah didepak dari kampus, Matt pergi ke Inggris. Kepergiannya ke London malah melibatkannya dalam hal yang tak disangka; bergabung dalam sebuah ‘Firm’ sebuah klub sepakbola. Jadilah Matt–yang orang amerika dan lebih menggemari baseball dibanding sepakbola–terlilit dalam petualangan yang membangkitkan sisi lain dirinya. Namun, timbul masalah kemudian. Karena pada dasarnya ‘Firm’ manapun di Inggris tidak ada yang menyenangi jurnalis, baik dia calon atau sekedar anak dari seorang jurnalis.

Ego 

Bagi anda yang sering geleng-geleng kepala melihat kelakuan para supporter sepakbola yang terlihat suka berpikir dan bertindak tidak rasional, mungkin memang sebaiknya menjadikan film ini salah satu yang perlu ditonton. Kita mungkin acap berpikir: Apa sih manfaatnya mendukung klub sampai bela-bela membeli segudang poster atau jersey mahal, berlangganan tiket terusan di kandang, menempuh tiap pertandingan tandang, depresi ketika timnya kalah, euforik berlebihan ketika timnya menang lawan musuh bebuyutan, ikut konvoi membuat membuat macet bahkan merusak properti publik, sampai kalau perlu adu jotos sekaliansweeping kendaraan? Saudara bukan, bahkan kenal saja tidak. Belum tentu juga kita punya saham klub, jadi pastinya tak ada profit kita dapat. Apa mereka juga peduli dengan kesenangan atau kegembiraan kita? Musim depan, pemain yang kita elukan bisa ganti klub, atau klub menjual pemain kesayangan kita, dan tetap bisa melanjutkan hidup mereka. Tidak selalu ada urusannya dengan kita suka atau tidak suka.

Jadi, apa sebetulnya yang kita perjuangkan? Layakkah kita perjuangkan segitunya? Cuma buang-buang waktu, energi, uang..

Tapi, tidak menurut Pete Dunham (Charlie Hunnam). “It’s all about reputation!” ujarnya, ketika Matt terheran-heran dengan kelakuan GSE (Green Street Elite), ‘Firm’ yang dipimpin Pete. Lalu, darimana penjelasannya rasa suka, kegemaran, dukungan, menjadi persoalan reputasi?

Dalam studi psikologi, Cialdini (2007) menjelaskan hiruk-pikuk ini dengan beberapa prinsip dalam Teori Asosiasi. Seorang yang lahir di Bandung atau daerah Jawa Barat dan ia adalah bobotoh Persib bisa dijelaskan dengan hubungan tempat lahir, suku, yang membelenggu, mengikat, dan–pada gilirannya–mengurungnya kepada pendekatan kemenangan dan kekalahan. Isaac Asimov (1975) menguraikan apa yang terjadi pada saat kita, misalnya, menyaksikan tim kesayangan kita berlaga: “Semua hal menjadi setara, Anda menjadi sumber kaum anda sendiri, budaya anda, dan daerah asal-muasal anda… dan satu-satunya yang anda ingin buktikan adalah anda lebih baik daripada orang lain. Siapapun yang menjadi sumber anda, ketika IA MENANG, maka ANDA juga MENANG.”

Dari perspektif ini, semua tentang perilaku penggemar fanatik mulai masuk di akal. Bukan soal jagonya tim atau pemain kesayangan kita berlaga di lapangan yang kita nikmati. Tapi Ego (self) yang menjadi inti. Itulah mengapa kita memuja dan berterima kasih kepada mereka yang bertanggung jawab terhadap kemenangan tim. Dan sebaliknya, kita mengutuk siapa yang membuat tim (baca: DIRI KITA) kalah (dan akhirnya merasa diremehkan, terhina). Kita menginginkan kemenangan tim yang memiliki hubungan dengan diri kita untuk membuktikan superioritas kita. Untuk siapa kita membuktikan itu? Diri kita sendiri, sudah jelas, tapi juga kepada orang lain.

Merujuk kepada Teori Asosiasi, jika kita dapat mengaitkan diri dengan kesuksesan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan diri kita, maka ‘prestise dan reputasi publik’ kita akan terangkat. GBK Dalam GSH, saya sendiri tidak melihat asosiasi itu langsung dengan klub (West Ham United). Tapi lebih kepada GSE, firm dimana Pete dan–pada akhirnya–Matt bergabung. Tapi, saya membacanya dengan kacamata Teori Asosiasi yang tidak jauh berbeda.

Seandainya anda masih kesulitan memahami fanatisme para fans bola, cobalah sekali menyaksikan laga kompetitif Tim Nasional kita di GBK. Biasanya pengalaman baru di stadion akan memberikan anda sebuah ekstase. Ketika pertama kalinya, saya sendiri tidak menyangka; bulu kuduk saya meremang menyaksikan ribuan manusia menggemakan nama dan semboyan yang sama, mendendangkan yel-yel dan lagu yang sama, kompakan untuk menunjukkan dukungan dengan tepuk-tangan, gelombang-manusia, bentangan-bendera-raksasa, gemuruh histeria ketika gol tercipta. Serotonin memancur dan Endorfin berhamburan dimana-mana.

Menjadi bagian dari itu semua, memang sesuatu sekali… 🙂

Steve Dunham: There comes a time when the best reputation you can have is with your family. (Green Street Hooligans, 2005)