Monthly Archives: April 2012

Ingatan Kolektif Kita Tentang Sakit

Ingatan kolektif kita pernah mencatat, bahwa Supriono, pemulung asal Bogor, terpaksa menggendong jasad anaknya dari Jakarta Pusat hingga ke Bogor. Menaiki kereta api, Supriono yang tak punya biaya untuk memeriksakan anaknya di puskesmas atau menyewa mobil jenazah, membuat mata penumpang lain terbelalak. Sebagian bahkan mengira, Supriono telah melakukan kejahatan terhadap sang anak dan membawa Supriono ke kantor polisi terdekat.

Kisah lain namun senada adalah tentang seorang Ibu dan bayinya yang disandera oleh rumah sakit karena tidak sanggup membayar biaya persalinan; anak-anak yang kelaparan dan menderita malnutrisi hingga meninggal di sebuah kota yang gencar membangun mal; sebuah keluarga yang hanya makan sekali dalam dua-tiga hari; orang-orang yang menderita sakit keras dan ‘terpaksa’ meninggal tanpa perawatan dokter. Dan Ratusan bahkan ribuan orang lain yang bernasib sama.

Eko Prasetyo berseloroh dengan kandungan kebenaran yang menakutkan; “orang miskin dilarang sakit!” Kata Dinna Wisnu (2012), orang miskin bukan orang yang tidak mau berusaha atau cenderung menelantarkan anggota keluarganya. Orang miskin hanya tidak bisa mendapatkan perawatan yang memadai.

Sekarang, ada istilah getir yang ditelan sebagai humor oleh sebagian orang yang bari naik kelas ke kelompok menengah; SADIKIN, “sakit sedikit miskin”. Tidak heran, di berbagai rumah sakit, di Jakarta Pusat misalnya, kita bisa saksikan berderat mobil sekelas Toyota Avanza dan Honda Jazz yang ditempeli label“butuh uang, dijual cepat”.

Negara gagal menyediakan jaring perlindungan bagi masyarakat yang sakit, terutama kelompok tidak mampu.