Monthly Archives: August 2017

Berbalah-bantah

Si Mbun datang ke ruanganku ketika matahari mulai tergelincir. Kali ini, tuturnya, Kakak sudah mulai berlatih untuk menentukan pembagian peran di tim debatnya nanti. Latihannya dengan bermacam tema dan berganti-ganti anggota tim untuk sekaligus memilih formasi tiap tim yang paling afdal.

Kakak antusias untuk mulai menapaki rute menuju impian diplomat-nya. Langkah kecilnya dimulai dengan sukses bergabung dengan tim debat sekolah.

Seperti sebelum-sebelumnya, aku sudah mulai gatal ingin nimbrung komentar. Kendati sebenarnya cerita si Mbun belum kelar.

“Mbun, biar Kakak makin oke, usulku, si Kakak bisa mulai pelajari tokoh-tokoh orator yang dia suka. Nanti bisa pakai teknik ATM* sampai dia ketemu gayanya sendiri.”

“Gitu ya, Kang. Buku-buku apa yang bisa dibaca?”

“Kalau buat latihan retorika, bagusnya banyak dengerin atau tonton, Mbun. Baca bisa membantu, tapi biasanya lebih ngefek buat memperhalus tulisan.”

“Siap. Jadi siapa yang Akang sarankan buat Kakak?”

“Terserah. Banyak-banyak aja lihat dan dengerin gaya bicara public-speaker hebat. Kak Dira nanti ketemu kok suka atau cocoknya lebih ke gaya bicara (dan beragumentasi) siapa yang macam mana.”

Aku cerita bagaimana Continue reading

Melintang Malang [side-B]

Malang buatku kota yang cukup tenang. Tidak terburu-buru seperti Jakarta–atau sekarang, Bandung, Surabaya, dan Makassar juga.

Menemukan suasana kota seperti ini yang kulamunkan sejak ingin menginjakkan kaki di Malang. Bertahun-tahun yang lalu.

Sekarang, ketika tiba di Abdur Rahman Saleh, jalan melewati kebun-kebun tebu, sawah, serta ladang sebelum memutuskan memakai jasa ojek online dan mulai memasuki kota, aku bersyukur menyengajakan diri mengunjungi Malang tanpa embel-embel dinas.

Toraja on Syphon

Mas Rendy, sang ojek, dengan senang hati mengajakku town-seeing dulu sebelum mengantarku ke homestay di Bareng (dibaca seperti Gareng, salah satu punakawan). Mas-nya juga yang membujukku untuk gunakan jasa ojek untuk jalan-jalan seputaran Malang. Atau sekedar mengantarkan makanan ke penginapan, katanya.

“Ke Batu juga bisa kok, Mas.”

Tapi, aku sudah terlanjur meminta bantuan Mbak Yoshi mencarikan sepeda untuk kubawa berkeliling Malang dan sekitarnya. Mbak Yoshi pun memenuhinya. Mudah saja rupanya untuk destinasi Wisata seperti Kota Batu dan Malang ini.

Rumah singgah di Bareng adalah opsi kedua setelah Mbak Ajeng (dibaca seperti Bareng yang artinya sama-sama) di Karangploso bilang kalau Omah-nya sudah penuh minggu ini.

Pasca memulihkan hape yang sekarat, plus menyimpan bawaan secukupnya di kamar, Mas David dan aku mengambil sepeda sewaan dari salah satu jejaring trip-organizer-nya. Dalam perjalanan, Mas David memberiku orientasi rute sekitaran pusat kota Malang. Juga beberapa lokasi makan, ngopi, atau pusat keramaian yang dijadikan pilihan tamasya warga kota atau tujuan para pelancong.

“Ya paling ndak, supaya lebih mudah hapalin jalan balik ke penginapan,” Katanya setelah kami Continue reading

Melintang Malang [side-A]

Kenapa Malang?

Random aja, kok. Mungkin memang sudah waktunya. Kan di mana-mana kalau sudah waktunya ya sembahyang..

Tiket yang sudah dicetak sejak akhir Mei lalu kusimpan dalam saku. Gojek sedang dalam perjalanan. Masih jam 6 kurang.

Jalanan sepi. Rasuna Said yang biasanya macet walau tanpa pekerjaan proyek LRT, lengang dan terasa lapang. Terlihat berantakan, tapi tenang. Ndak ada hiruk pikuk seperti biasanya. Atau keramaian lantaran hari ini Indonesia merayakan hari jadinyaMungkin beda jika nanti sedikit siang.

Itu alasannya aku memutuskan berangkat lebih dini.

Dan sesuai ekspektasi, aku sampai terlalu pagi. Bahkan gerbang penerbangan pun belum tersedia. Yang ada, hanya banyak ruang untuk dikunjungi imajinasi.

Dari tiap lekuk dan lengkung bangunan. Di masing-masing sudut serta pojokan, arsip dokumen dan foto-foto tua tentang cerita persiapan kemerdekaan. Dari figur-figur yang diam dan berjalan. Dari warna-warni dan macam-macam sandang. Sahutan pun percakapan yang terdengar sepenggalan. Pada aroma serta wangi-wangian. Bentuk jejak juga percikan. Decik serta derit benda-benda yang digerakkan..

Semua menyilakan dirinya untuk Continue reading