Si Mbun datang ke ruanganku ketika matahari mulai tergelincir. Kali ini, tuturnya, Kakak sudah mulai berlatih untuk menentukan pembagian peran di tim debatnya nanti. Latihannya dengan bermacam tema dan berganti-ganti anggota tim untuk sekaligus memilih formasi tiap tim yang paling afdal.
Kakak antusias untuk mulai menapaki rute menuju impian diplomat-nya. Langkah kecilnya dimulai dengan sukses bergabung dengan tim debat sekolah.
Seperti sebelum-sebelumnya, aku sudah mulai gatal ingin nimbrung komentar. Kendati sebenarnya cerita si Mbun belum kelar.
“Mbun, biar Kakak makin oke, usulku, si Kakak bisa mulai pelajari tokoh-tokoh orator yang dia suka. Nanti bisa pakai teknik ATM* sampai dia ketemu gayanya sendiri.”
“Gitu ya, Kang. Buku-buku apa yang bisa dibaca?”
“Kalau buat latihan retorika, bagusnya banyak dengerin atau tonton, Mbun. Baca bisa membantu, tapi biasanya lebih ngefek buat memperhalus tulisan.”
“Siap. Jadi siapa yang Akang sarankan buat Kakak?”
“Terserah. Banyak-banyak aja lihat dan dengerin gaya bicara public-speaker hebat. Kak Dira nanti ketemu kok suka atau cocoknya lebih ke gaya bicara (dan beragumentasi) siapa yang macam mana.”
Aku cerita bagaimana Continue reading
