Monthly Archives: July 2015

Gampang

Saya ndak bermaksud menggampangkan ibadah. Mudah-mudahan tidak. Ceteknya ilmu seringkali membuat saya berpikir bahwa untuk mempengaruhi orang, saya perlu memberikan contoh ekstrim.

Ide yang ingin disampaikan sebetulnya sederhana. Amal dan ilmu selayaknya bersatu. Akhirat dan dunia sepatutnya tak dipisahkan. Integritas. Konsistensi.

Saya ndak suka, tidak juga ingin menjadi, dan semoga bukan orang yang suka memisah-misahkan keduanya. Menyempurnakan amal dengan sangat hati-hati, namun sengaja ceroboh untuk mengakali nurani. Keras dengan syari’at sampai mesti hitam dan putih, tapi lunak dan meretas wilayah abu-abu yang masih menguntungkan pribadi. Acchh, semua memang soal menyikapi ihwal materi.

Terhadap beberapa orang yang saya temui berkelakuan seperti itu, saya geram sekali. Sering tak bisa menahan emosi dan mengumpat-ngumpat seolah-olah saya sendiri tak pernah melakukannya.

‘Dua Muka’

Apalagi kepada sejumlah orang yang senang sekali sengaja menamengi diri dengan pelbagai simbol (fashion, gesture, bahasa, dsb.). Untuk menandakan dirinya berada di golongan tertentu yang identik dengan perilaku jujur serta berbudi pekerti. Akan tetapi, lagi-lagi, pura-pura tak acuh saja mendapati dirinya ‘terpeleset’ melakukan kebusukan elementer. Pada lubang yang sama. Berkali-kali (seperti) sengaja.

Seakan dungu dan tak pernah diajari membedakan mana kebenaran mana ‘kebaikan’ belaka oleh guru-gurunya.

Hipokrisi

Baginda Rasulullah SAAW rasanya pernah mengingatkan betapa bahayanya golongan munafik. Yang lebih sulit diperangi karena ia berbulu domba seperti kawanannya. Yang lebih susah diberantas sebab ia tak menggunakan serangan fisik untuk melumpuhkan atau melukai. Yang lebih alot dibasmi lantaran ia pandai menyusup di antara para penegak nurani. Yang lebih sukar ditangkal akibat acapkali kita sengaja menyediakan bilik abadi untuknya menetap atau kembali mengunjungi hati.

Ya, kita kerap memberikan suaka dan perlindungan juga untuknya saat ia datang menenteng kepentingan kita.

Dan saya betul-betul khawatir berbaur pilu mengingat betapa saya dan rasanya masih banyak juga saya-saya lainnya yang berkelakukan seperti itu. Saya khawatir tak kunjung sembuh. Saya khawatir pada akhirnya tak pernah bisa berkontribusi pada perbaikan apapun yang saya idamkan. Saya khawatir Allah timpakan Istidraj dengan membiarkan kami bersenang-senang dengan kenduri hipokrasi kami.

Lalu, kepandiran saya membuat saya memutuskan untuk membuat polaritas yang keras agar orang mudah menoleh kepada apa yang ingin saya sampaikan. Menyadari benih kemunafikan yang saya miliki, lalu tunas milik mereka sendiri juga, kemudian bersedia bersama-sama lebih berhati-hati. Semoga saja.

(Atau, Gusti, ajarkan aku lagi untuk lebih arif dan rendah hati…)