Jam 15.30 WIB, kurang lebih, Papandayan memulai menunjukkan aktivitasnya. Letusan freatik pertama terjadi pukul 16.03 WIB. Debu pekat menyembur dengan ketinggian sekitar 5 Km dari atas puncak. Warga makin panik. Sekejap saja, ruas jalan di kawasan Cisurupan macet.
Inilah letusan pertama yang menyebabkan terjadinya longsor dahsyat di sebagian dinding bukit Nangklak. Seluruh material longsor jatuh ke hulu Sungai Cibeureum Gede. Tercatat sedikitnya 12 rumah warga di Desa Pakuwon dan Naringgul tertimbun longsoran lumpur. Sebuah jembatan penyeberangan pun hancur diterjang banjir lumpur dan memutuskan akses dari Desa Cilimus ke Desa Sirnajaya. (11 November 2002)
Mengapa catatan Papandayan kuawali dengan kisah letusan? Mungkin karena catatan ini diunggah–akhirnya–ketika kabar tentang status krisis Papandayan kembali kudengar di bulan Mei yang masih muda.

Seterjal Jalan
Catatan deskriptif Kang Tigin Ginulur, jurnalis Garut, di atas mungkin dibuat ketika pikiran dan inderaku penuh dengan segala macam urusan orientasi mahasiswa baru di Jurusan Ilmu Pemerintahan UNPAD, Jatinangor. Tidak dapat kupanggil lagi ingatan soal letusan Papandayan tahun itu. Entah karena tak satu pun informasi masuk ke otakku, atau sebab derajat kepedulianku yang memang memprihatinkan, atau akibat segala macam efek monosodium glutamate, zat pewarna buatan, minum dari kemasan air mineral yang sama berulangkali, konsumsi karbon berlebihan dari sate tanpa diimbangi timun, dan kebiasan jarang sarapan. Tak ada alasan yang benar-benar tepat untuk menggantikan ketidak-acuhan dan kebebalanku.
Singkat riwayat, letusan pada tahun 2002 sungguh di luar dugaan. Dalam kondisi tidak (berstatus) Siaga, tidak apapun. Sangat cepat, krisis sehari langsung JLEGAR! ….Alhamdulillah, Gusti Allah masih menyelamatkan masyarakat setempat. Tidak ada korban jiwa di tahun 2002. Semua warga selamat.
Papandayan adalah satu dari 77 gunung api aktif tipe A di Indonesia. Aku tak tahu pasti maknanya, yang jelas papandayan dapat pemantauan khusus bersama 18 gunung lainnya. Papandayan pernah pernah meletus dahsyat tahun 1772. Sejarah merekam, ada hampir 3.000 orang tewas, 40 desa terkubur. Setelah 1772 dan 2002, Papandayan kembali tercatat dalam kondisi krisis pada 13 Agustus 2011, melanjutkan rangkaian krisis gunung berapi di Indonesia yang sempat mencapai puncak dengan letusan Gunung Merapi di Akhir Oktober 2010 dan menyisakan cerita Mbah Maridjan yang tersungkur sujud dalam sergapan debu panas…
Daki
Sebagai pendaki amatir–atau setidaknya aku diantara teman-teman sependakian lainnya–tidak ada riset khusus soal kondisi Papandayan ketika kami berempat putuskan untuk menyambanginya di akhir tahun 2012 yang lalu. Ketika menelusuri kembali jalur Bandung-Garut, benakku lebih penuh dengan memori yang lugu dan selalu ku rindu di tahun 2004, juga perjuangan untuk lulus di tahun 2007.
Malam sudah cukup jauh menyayup sampai ke terminal guntur setelah mobil tiga-perempat (elf) kelar memenuhi tugasnya. Kami lantas kasak-kusuk untuk mendapat teman menyewa kendaraan murah meriah menuju Simpang Tiga Cisurupan. Lalu berhimpun dengan para calon pendaki lainnya yang sama-sama menuju Pos Pendakian Papandayan untuk kembali berjamaah menggunakan jasa yang ditawarkan penduduk sekitar; menggunakan pick-up carry yang juga umum digunakan untuk mengangkut hasil kebun mereka ke pasar induk. Selalu menyenangkan bersama-sama seperti itu.

Lorong
Hingga tenda pertama kami dirikan dan kilau purnama di tenggara kami tenggak dalam satu teguk, hanya ‘keajaiban’ bahwa akhirnya kami jadi menjejak di Papandayan yang diputar berulang dalam semesta obrolan. Last-minute-prep, less participant, impaired-motivation, dan segala macam alasan sebetulnya bisa jadi pemakluman jika akhirnya hanya rutinitas di kota yang kami jalani di waktu yang sama.
Soal apakah mungkin Papandayan bisa meletus seperti tahun 2002 atau bahkan 1772? Ah, amat langka pikiran itu mampir. Picik? Yang jelas kami memang tidak cukup well-informedatau bahkan well-prepared. Hedon? Hehe.. Entahlah.
Jika pun iya, Que sera sera (apapun yang terjadi, terjadilah). Meskipun jika ditanya satu per satu, aku yakin tak ada satupun diantara kami yang siap 360 derajat untuk mati saat itu. Tapi, ya, Kun Fayakun. Kami cuma daki yang dengan sok-nya menempel pada segala bukti kebesaran Gusti Allah yang Maha Agung. Tak ada daya, tak ada kekuatan ketika harus berhadapan dengan alam di bawah komando-Nya.
Jadi, andaikan tiba-tiba ketika kami sedang melintasi kawah, menghirup belerang, menanjak menuju pucuk, atau ketika berkemah di Pondok Saladah, atau saat menelusuri hutan mati, atau waktu menghabiskan detik 2012 dan menyambut denyut 2013 di Tegal Alun, menyentuh kembang edelweiss, mengayunkan kaki mengukur jalur sepanjang sempadan papandayan, lalu JLEGAR!!….. ya, titik.
Semoga lebih banyak senyum dan rindu yang kami tinggalkan di bawah sana. Dan mudah-mudahan Gusti Allah Yang Maha Welas memenuhi pinta kami yang pasti dengan sangat menghiba memohon disisihkan pojok paling kumuh di surga (apalagi yang bisa ku mohon dengan kualitas iman seperti ini??).
Kekhawatiranku barangkali memang berlebihan. Tapi, beberapa orang sering mengingatkanku untuk selalu khawatir soal kemungkinan terakhir. Dan entah kenapa saran seperti itu suka menempel di kepalaku. Begitu terus, hingga pendakian kami pacu esok pagi dan kami menempuh jalan yang benar-benar keliru….
Paradoks
Cekat George Leigh Mallory di New York Time (1923) : “Because it’s there!” lazim dikutip para pendakian-addict yang kerap tidak sabar menjawab pertanyaan para awam soal mengapa (harus, perlu, mau-maunya) mendaki gunung. Anda yang penasaran mengapa banyak orang mau bersusah-susah menaiki gunung, harus menengok puncak terlebih dahulu untuk mendapatkan jawaban yang memadai.
Memang sulit untuk tidak sentimentil soal mendaki gunung. Tidak ada yang menyurutkan siapapun meski Mallory dan kawan pendakiannya meninggal tersapu badai di Gunung Everest, Nepal, setahun setelah ia mengucapkan kata-kata ajimat itu. Kian waktu, makin banyak manusia yang ingin merasakan mendaki dan memijak puncak gunung, kemudian mengulanginya lagi, mencari jalur pendakian, tebing, padang edelweiss, puncak-puncak lainnya. Menyentuh awan dan menjabat langit.
Di tengah kepungan edelweiss dan gigitan suhu yang rendah serta pakaian yang sebagian besar basah karena hujan tanggung sepanjang jalur terjal menuju Tegal Alun, aku malah berpikir soal paradoks dari pendakian kami kali ini. Atau sebetulnya pun, dari pendakian-pendakianku yang lain.
Pertama, acap merasa kecil dibanding daya alam dan perkasanya pegunungan. Saat di puncak diserbu oleh milyaran bangkai bintang yang sinarnya baru menepi di bumi, kami merasa kecil. Saat berusaha mencerna bentangan horizon yang entah bermili-mili susah kuterka luasnya, kami merasa kecil. Saat berjuang menyentuh puncak yang semakin dekat malah terasa kian jauh, kami merasa kecil. Saat harus intim dengan alam dan kawan seperjuangan-sependakian, kita merasa kecil. Banyak jenak-jenak dimana kita merasa kecil saat di gunung.

Namun, di sisi lain kita tidak jarang sok-tahu. Sifat yang bisa jadi wujud frustasi kita menghadapi alam dan serba ketidak-tahuan dan ketidak-pastian belantara. Jadilah, kami menempuh berkilo-kilo, turun dan kembali naik, berjam-jam, di waktu pendaki lain sudah menikmati rehat di pos terdekat. Jadilah kami harus melewati jalur tersulit di kala pendaki lain yang arif lebih santai berlenggang di jalur yang sudah ‘disediakan’. Jadilah kami gagal merasakan pengalaman puncak di saat para pendaki yang lebih bijak mampu mengelola waktunya. Hanya karena tidak cukup rendah hati menunggu pendaki lain untuk sedikit saja bertanya. Sok tahu. Sok jago. Sok…..
Burangrang, Geulis, Puntang, Papandayan, beberapa yang berulang…
Kedua, seperti semua pengalaman pertama, menjalani pendakian dan menapak di puncak pertama kalinya menyemburkan sensasi tak ada duanya. Puas, terutama karena berhasil menaklukan diri.
Tapi–paradoks kedua–meskipun pengalaman pertama sensasinya berjuta tak ada dua, kita selalu rela kembali lagi, dan kembali lagi. Dan rasanya tiap pendakian dan puncak, meski jalur dan lokasi serupa, selalu memberi kesan unik-berbeda. Itulah mengapa, barangkali, Semeru senantiasa merayu. Mandalawangi selalu membangkitkan kangen. Atau bahkan Geulis selalu terlihat seksi dari hegarmanah.
Ketiga, ini melintas di benakku ketika kami menempuh jalur pendakian, sedang naik menuju puncak. Sejak puncak pertama yang berhasil ku rangkak, aku jadi punya motif tiap kali mendaki. Motif sentimental. Motif yang hanya mampu diutarakan dengan kata-kata terbatas yang entah apa itu.
Aku sendiri belum menemukan pasangan terma yang layak untuk mengungkapkannya. Barangkali secetek: demi ‘kenikmatan’. The enjoyment that can only be found and felt and told and expressed in there… hehe…
Dan , untuk merasakan semua itu, kita melawan kelelahan. Yang jadi paradoks adalah, ketika kita turun: kita justru melepas kenikmatan, demi kehidupan yg melelahkan..

Pertemuan