Ada pengalaman menarik yang saya ingat pada saat seleksi Mapres FISIP tahun 2005 silam.
Saya mempresentasikan makalah dengan tema “Modal Sosial dalam Pembangunan Politik di Indonesia”. Saya mencuplik beberapa karakter khas masyarakat indonesia sebagai indikator/gejala modal sosial (di antara yang aku presentasikan dan masih aku ingat; gotong royong 🙂 ).
Dengan pemahaman teori dan konsep modal sosial yang pas-pasan (plus bahasa inggris yang lagi-lagi belepotan), aku sudah pasrah dengan nilai makalah dan lebih fokus untuk menonjolkan ‘keunggulanku’ yang lain. Aku sempat terkesiap tatkala di tengah presentasi dan pemaparan makalahku, seorang dosen bersuara (yang aku rasakan) sinis dan under-estimating.
Aku akui kelemahan teoretis dan konspetualku seputar modal sosial (dan isi makalah secara keseluruhan), tapi tetap tidak siap dengan – sejujurnya tidak menyangka akan saya temukan dari seorang yang bergelar intelektual, guru—sikap dan perlakuan seperti itu. Meskipun untuk sekedar uji mental, misalnya.
Suara sang dosen membuat ruangan semakin terasa gerah dan sempit. Yang terus terngiang dalam pikiranku adalah betapa ‘nekad dan ceroboh’ aku membahas sesuatu yang luas dan dalam secara sempit, dangkal dan terlampau menyederhanakan. Betapa tak tahu malu aku mengemukakan sesuatu yang belum pantas aku bicarakan. Betapa bodohnya aku tampil dengan memakai baju yang kebesaran….
Aku masih ingat kata-kata sang dosen. (cara baca yang lebih tepat adalah dengan gaya agak-agak sinis dan merendahkan); “sudah jalan-jalan ke mana saja kamu? Sudah mengunjungi berapa pulau? Berapa banyak budaya dan suku etnik yang pernah kamu lihat?”
Setelah berhasil menguasai diri lagi, aku hanya bisa menjawab: ”Dua, Pak”.
Sedih.
***
A logic inquiry sebetulnya. Hanya saja metode beliau melukai hati dan rasionalisasiku selama ini. Alasannya, bukan cuma karena kantongku cekak untuk mendanai rihlah keliling nusantara memaknai modal sosial indonesia. Tapi aku masih ingat cerita Joni Ariadinata tentang kisah hidup seorang penulis yang luar biasa. Aku coba ceritakan ulang dalam bahasaku…
Dalam segala keterbatasannya, sang penulis di masa kecil menghadapi sebuah situasi dilematis. Ia mendapat tugas liburan sekolah untuk membuat karangan. Tema karangan sudah ditentukan oleh ibu guru. Sang penulis kecil tinggal memilih di antara; berlibur ke desa, kerkunjung ke rumah nenek, atau bertamasya ke tempat wisata.
Tema pertama jelas suatu hil yang mustahal baginya. Yang namanya desa bagi si penulis adalah tempat ia lahir dan tinggal hingga saat ini bersama orangtua dan kakek neneknya. Ia tak mungkin bisa menyebut ceritanya sebagai berlibur ke desa seperti bayangan ibu guru. Sebab satu-satunya tempat tinggal yang ia tahu hanya rumah yang ia tinggali sejak lahir tepat di tengah-tengah pasar itu. Apak dan Amaknya tidak pernah menyinggung atau membawanya ke tempat lain.
Tema kedua, sama lucunya dengan yang pertama. Yang dimaksud rumah nenek adalah kamar di seberang kamar kakaknya yang menghadap ke teras. Alias jika ia mau berkunjung ke ’rumah nenek’ ia tinggal memutar lewat teras atau masuk menembus kamar kakaknya di bawah. Andai saja judulnya ”berkunjung ke kamar nenek” mungkin ia masih bisa menyelesaikan tugas karangan itu dengan lebih cepat dan akurat.
Masih ada harapan di tema ketiga…
Tapi, alamak, ternyata musim liburan itu ia kurang beruntung. Selepas menyerahkan buku raport akhir semester, Apak memuji alakadarnya dan mengeluarkan instruksi, ”buyung, kau kan libur sekolah. Sana kau jaga toko!” Nasib….
Kisah ketidakberuntungan itu menjadi titik tolak sang penulis. Pada saatnya sekolah dimulai kembali, ia bertanya kepada teman-temannya, ”Hei, selesai karanganmu? Ke mana saja kau pergi berlibur? Ke desa, kebun binatang? Huh, payah…”
”Kalo aku hari pertama pergi dengan Alice ke Wonderland. Esoknya meniti sungai nil di Mesir, lalu menelusuri the great wall di Cina. Aku ingat peperangan Aleksander ‘The Great’ yang luar biasa serta strategi kuda troya yang menakjubkan. Aku juga menyaksikan bagaimana Muhammad SAW dan para sahabatnya membangun peradaban kota madinah. Kemarin aku masih bersama Abu Nawas di negeri 1001 malam…”
Karangannya memang tidak sontak diberi nilai terbaik oleh ibu guru saat itu. Setidaknya ia tetap tidak bisa memenuhi perintah ibu guru untuk menyusun karangan dalam tiga tema yang ditentukan…
***
Kita bisa berkelana, tentunya, melalui ‘jendela dunia’. Mengingat apa yang bisa diberikan (dan dilakukan) oleh sebuah buku, aku bahkan dulu melabelinya dengan ‘kereta terbang dunia’. Cerita di atas, buatku teristimewa, sungguh amat mengesankan.
Aku punya kecenderungan kuat berpetualang, ingin menjelajah dan mengalami banyak hal menakjubkan. Itu sebabnya, di Carenang aku masih senang bersepeda ke kampung-kampung dan bermalam di sana sesaat menjelang keberangkatanku ke Cisarua (sekarang aku lebih sering pakai sepeda motor). Selebihnya, aku belum sekuat Gola Gong atau Alexander Supertramp.
Oleh itu, aku senang membaca pula beberapa dongeng-dongeng dunia atau cerita-cerita perjalanan, menonton kartun-kartun atau film petualangan, dan mengoleksi foto-foto dari berbagai belahan dunia. Aku menyukai perjalanan.
Ditanya seperti di atas oleh dosen tadi, melukai hati dan rasionalitasku dalam arti; pertama, aku juga ingin sekali mengunjungi dan mengenal banyak tempat. Aku teramat berhasrat menemukan kekayaan dan kearifan masyarakat-masyarakat di dunia. Saya ingin sekali jika bisa, Pak.
Barangkali hal itu pula yang mendorongku untuk menyusun paper dengan tema modal sosial Indonesia. Kedua, rasanya arti membaca-ku selama ini, yang ku jadikan jendela dan kereta terbang menyusuri Indonesia menjadi ciut begitu saja.
Bolehlah saya belum kerap jalan-jalan, pak. Tapi, kan, saya cukup membaca. Dengan membaca setidaknya aku juga mengetahui banyak realitas lain di samping yang sudah aku kenali sehari-hari. That’s books are for, isn’t it?
Toh buku adalah refleksi kognitif dan mozaik pengalaman kemanusiaan. Kalaulah belum memadai, saya pun tak keberatan bapak beri saya buku lebih banyak lagi. Atau ongkosi saya keliling-keliling. Ndak usah sinis gitu, pak. Jelek diliatnya…:D
Jadi, aku sama sekali tidak bermaksud sok tahu tentang modal sosial dan manfaatnya untuk pembangunan politik di Indonesia. Aku ingin menunjukkan bahwa mahasiswa pandir sepertiku juga punya kepedulian terhadap masa depan negeri ini. Bukankah itu modal yang luar biasa?! Kenapa harus diprotes gara-gara saya baru mengunjungi dua pulau di Indonesia?!
Ah, pembenaran. Kali ini aku yang sudah tidak relevan…
Salam hormat untuk Pak Dosen…