Monthly Archives: December 2010

Bahan Belajar SSBI – Komunikasi Semester III UNSERA 2010

Untuk Mahasiswa Jurusan Komunikasi UNSERA yang mengambil Matakuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia (kelas R1 & R2), silahkan mengunduh file bahan ajar melalui tautan berikut. Tidak menutup kemungkinan bahan ini di-update dengan materi-materi baru. Jadi, silahkan sering-sering singgah di laman ini.

Link untuk mengunduh (click & save): SSBI UNSERA – Kompilasi Finale 2010

Singa-Singa untuk Para Kambing

Sosok Profesor Malley yang diperankan Robert Redford dalam film inilah yang membetot nyaris seluruh perhatian saya. Bukan karena ia mewujudkan mimpi liar saya (akan saya ceritakan sebentar lagi). Tapi, justru lantaran mampu membuat saya berpikir lebih realistis. Jika punya keinginan tinggi, diperlukan kerja yang lebih. Sementara saya, beberapa tahun ke depan diizinkan mengajar lagi saja sudah anugerah.

robert-redford

Redford’s Motion

Tapi bukan sekedar sebab itu saya menyukai film ini. Bukan juga karena ada aktor-aktris kawakan macam Meryl Streep, Tom Cruise, Redford (yang sekaligus jadi dalangnya dan dalang beberapa film lain dengan pesan mirip) atau Andrew Garfield (yang lalu kita kenal sebagai Peter Parker dalam ‘The Amazing Spiderman‘), meski keberadaan mereka tentunya menaikkan kelas tersendiri. Tapi–lagi-lagi–ini soal gagasan atau ide yang disampaikan.

Lepas dari ulasan soal film ini yang menurut saya under-rated (mungkin karena temanya cenderung jenuh, adegan aksinya yang nanggung, pengambilan gambar yang panjang untuk adegan ngobrol, pace-nya yang biasa, beberapa goofs), saya tetap memilih film ini sebagai salah satu yang perlu ditonton. Saya sangat sarankan kepada siapapun yang suka dengan tema politik, ide-progressif, jurnalistik, atau akademik. Yang merasa terlibat dalam peristiwa penting, tapi tidak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Banyak percakapan bernas, dialog kuat, dan karakter unik di sini. Perlu sedikitnya 3 kali menonton film yang diproduksi tahun 2007 ini, untuk membuat saya merasa percaya diri bisa menangkap pesannya. Tenang, bukan karena isinya berat. Tapi saya saja yang bahasa inggrisnya tingkat ala kadar.

Setting film terjadi pada masa pemerintahan Bush II, ketika Amerika sedang gencar menyerbu Afganistan dengan alasan berburu tertoris. Judul–yang kemudian dikutip dalam satu kalimat dalam adegan Redford–mengacu ke ucapan seorang Jenderal Jerman di perang dunia satu (WW1). Ia mengomentari pasukan Inggris, yang menurutnya; “Bagai kawanan singa yang dipimpin sekelompok kambing.”

Karakter Prof Malley mencoba meyakin salah satu mahasiswanya (Andrew Garfield) bahwa hal yang sama sedang berlangsung di negeri mereka. Ia merujuk pada keputusan 2 (dua) orang mahasiswanya yang lain yang memutuskan mendaftarkan diri menjadi tentara dan ikut berperang di Afganistan. Malley sendiri keras menentang keputusan itu karena yakin bahwa perang Afganistan itu sama sekali tidak setimpal. Belum lagi bagaimana kerapkali komando operasinya dijalankan dengan buruk.

Di saat yang bersamaan, salah satu aksi tentara di Afganistaan itu (ternyata bagian ini berdasar kisah nyata) sedang dibahas di sebuah kantor anggota parlemen (Tom Cruise) bersama seorang jurnalis kawakan (Meryl Streep). Terjadilah diskusi menarik. Karena, yang dibahas ternyata bukan rencana, tapi peristiwa (operasi) yang sedang terjadi.

Sang jurnalis lantas merasa terjebak dan berpikir bahwa pada gilirannya ia dijadikan alat propaganda politik belaka…

Liar

Saya pernah dengar ungkapan: “Those who can not do, teach“. Ditujukan buat orang-orang yang tahu dan sadar segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana seharusnya, tapi tidak melakukan apa-apa. Orang-orang itu mungkin cocoknya cuma jadi pengajar, penceramah, analis, pengamat, komentator, penggerutu, atau sebagainya.

Saya yang merasa tidak bisa melakukan apa-apa, kemudian mencoba mengajar. Dengan segala semangat dan mimpi, saya membayangkan akan bisa menggerakkan kawan-kawan muda untuk merubah dunia ini melalui ide-ide dan pemikiran saya. Bahkan ide dan pemikiran itu pun akan diakui di seluruh dunia lewat buku-buku saya, tulisan saya di jurnal-jurnal internasional, artikel di berbagai media massa, menjadi narasumber di berbagai kegiatan seminar atau diskusi publik.

Lalu, saya akan menjadi inspirasi dan rujukan para pemikir, aktivis, maupun warga biasa, dapat penghargaan dari PPB, disanjung di negeri sendiri, diberi gelar kehormatan di kampus, bahkan nama saya dijadikan nama salah satu jalan di kota saya. Muka saya pun dicetak di kaos-kaos, nama saya menjadi nama favorit orangtua untuk disematkan pada anak-anaknya.

Maaf kalau anda mulai berpikir soal masa depan tanah air yang suram, setelah mengetahui salah satu pengajarnya lebay begini. Hehehe..

Film ini, pada satu titik, mengingatkan saya sesuatu. Saya ingat soal bagaimana keseharian politik elit sama sekali tidak tersentuh, dan akibatnya banyak kebijakan yang jauh dari kata merealisasikan aspirasi publik. Saya ingat soal media massa yang hanya mengejar sensasi dan menjadi kepanjangan tangan propaganda elit politik dan tidak mengindahkan kebutuhan publik akan rasionalisasi sebuah kebijakan. Saya ingat soal banyak kawan-kawan muda potensial yang kadung apatis tentang kehidupan berbangsa karena merasa tidak menemukan cahaya di ujung kelam. Saya ingat soal banyak pengajar yang lebih menghayati perannya sebagai penjual diktat dan pengejar pangkat. Saya ingat singa-singa di negeri ini yang masih berpikir dirinya kambing hanya karena sering mendengar, membaca, menonton media dan politisi kambing di negerinya yang kebanyakan mengembik.

Saya ingat soal dimana seharusnya kita lebih baik menyalakan pelita ketimbang memaki kegelapan…

Professor Stephen Malley: You’re good with words, Todd. But you know what would make them even better? If they had a heartbeat.

(Lions for Lambs, 2007)

“Baju yang Kebesaran”

Ada pengalaman menarik yang saya ingat pada saat seleksi Mapres FISIP tahun 2005 silam.

Saya mempresentasikan makalah dengan tema “Modal Sosial dalam Pembangunan Politik di Indonesia”. Saya mencuplik beberapa karakter khas masyarakat indonesia sebagai indikator/gejala modal sosial (di antara yang aku presentasikan dan masih aku ingat; gotong royong 🙂  ).

Dengan pemahaman teori dan konsep modal sosial yang pas-pasan (plus bahasa inggris yang lagi-lagi belepotan), aku sudah pasrah dengan nilai makalah dan lebih fokus untuk menonjolkan ‘keunggulanku’ yang lain. Aku sempat terkesiap tatkala di tengah presentasi dan pemaparan makalahku, seorang dosen bersuara (yang aku rasakan) sinis dan under-estimating.

Aku akui kelemahan teoretis dan konspetualku seputar modal sosial (dan isi makalah secara keseluruhan), tapi tetap tidak siap dengan – sejujurnya tidak menyangka akan saya temukan dari seorang yang bergelar intelektual, guru—sikap dan perlakuan seperti itu. Meskipun untuk sekedar uji mental, misalnya.

Suara sang dosen membuat ruangan semakin terasa gerah dan sempit. Yang terus terngiang dalam pikiranku adalah betapa ‘nekad dan ceroboh’ aku membahas sesuatu yang luas dan dalam secara sempit, dangkal dan terlampau menyederhanakan. Betapa tak tahu malu aku mengemukakan sesuatu yang belum pantas aku bicarakan. Betapa bodohnya aku tampil dengan memakai baju yang kebesaran….

Aku masih ingat kata-kata sang dosen. (cara baca yang lebih tepat adalah dengan gaya agak-agak sinis dan merendahkan); “sudah jalan-jalan ke mana saja kamu? Sudah mengunjungi berapa pulau? Berapa banyak budaya dan suku etnik yang pernah kamu lihat?”

Setelah berhasil menguasai diri lagi, aku hanya bisa menjawab: ”Dua, Pak”.

Sedih.

***

A logic inquiry sebetulnya. Hanya saja metode beliau melukai hati dan rasionalisasiku selama ini. Alasannya, bukan cuma karena kantongku cekak untuk mendanai rihlah keliling nusantara memaknai modal sosial indonesia. Tapi aku masih ingat cerita Joni Ariadinata tentang kisah hidup seorang penulis yang luar biasa. Aku coba ceritakan ulang dalam bahasaku…

Dalam segala keterbatasannya, sang penulis di masa kecil menghadapi sebuah situasi dilematis. Ia mendapat tugas liburan sekolah untuk membuat karangan. Tema karangan sudah ditentukan oleh ibu guru. Sang penulis kecil tinggal memilih di antara; berlibur ke desa, kerkunjung ke rumah nenek, atau bertamasya ke tempat wisata.

Tema pertama jelas suatu hil yang mustahal baginya. Yang namanya desa bagi si penulis adalah tempat ia lahir dan tinggal hingga saat ini bersama orangtua dan kakek neneknya. Ia tak mungkin bisa menyebut ceritanya sebagai berlibur ke desa seperti bayangan ibu guru. Sebab satu-satunya tempat tinggal yang ia tahu hanya rumah yang ia tinggali sejak lahir tepat di tengah-tengah pasar itu. Apak dan Amaknya tidak pernah menyinggung atau membawanya ke tempat lain.

Tema kedua, sama lucunya dengan yang pertama. Yang dimaksud rumah nenek adalah kamar di seberang kamar kakaknya yang menghadap ke teras. Alias jika ia mau berkunjung ke ’rumah nenek’ ia tinggal memutar lewat teras atau masuk menembus kamar kakaknya di bawah. Andai saja judulnya ”berkunjung ke kamar nenek” mungkin ia masih bisa menyelesaikan tugas karangan itu dengan lebih cepat dan akurat.

Masih ada harapan di tema ketiga…

Tapi, alamak, ternyata musim liburan itu ia kurang beruntung. Selepas menyerahkan buku raport akhir semester, Apak memuji alakadarnya dan mengeluarkan instruksi, ”buyung, kau kan libur sekolah. Sana kau jaga toko!” Nasib….

Kisah ketidakberuntungan itu menjadi titik tolak sang penulis. Pada saatnya sekolah dimulai kembali, ia bertanya kepada teman-temannya, ”Hei, selesai karanganmu? Ke mana saja kau pergi berlibur? Ke desa, kebun binatang? Huh, payah…”

”Kalo aku hari pertama pergi dengan Alice ke Wonderland. Esoknya meniti sungai nil di Mesir, lalu menelusuri the great wall di Cina. Aku ingat peperangan Aleksander ‘The Great’ yang luar biasa serta strategi kuda troya yang menakjubkan. Aku juga menyaksikan bagaimana Muhammad SAW dan para sahabatnya membangun peradaban kota madinah. Kemarin aku masih bersama Abu Nawas di negeri 1001 malam…”

Karangannya memang tidak sontak diberi nilai terbaik oleh ibu guru saat itu. Setidaknya ia tetap tidak bisa memenuhi perintah ibu guru untuk menyusun karangan dalam tiga tema yang ditentukan…

***

Kita bisa berkelana, tentunya, melalui ‘jendela dunia’. Mengingat apa yang bisa diberikan (dan dilakukan) oleh sebuah buku, aku bahkan dulu melabelinya dengan ‘kereta terbang dunia’. Cerita di atas, buatku teristimewa, sungguh amat mengesankan.

Aku punya kecenderungan kuat berpetualang, ingin menjelajah dan mengalami banyak hal menakjubkan. Itu sebabnya, di Carenang aku masih senang bersepeda ke kampung-kampung dan bermalam di sana sesaat menjelang keberangkatanku ke Cisarua (sekarang aku lebih sering pakai sepeda motor). Selebihnya, aku belum sekuat Gola Gong atau Alexander Supertramp.

Oleh itu, aku senang membaca pula beberapa dongeng-dongeng dunia atau cerita-cerita perjalanan, menonton kartun-kartun atau film petualangan, dan mengoleksi foto-foto dari berbagai belahan dunia. Aku menyukai perjalanan.

Ditanya seperti di atas oleh dosen tadi, melukai hati dan rasionalitasku dalam arti; pertama, aku juga ingin sekali mengunjungi dan mengenal banyak tempat. Aku teramat berhasrat menemukan kekayaan dan kearifan masyarakat-masyarakat di dunia. Saya ingin sekali jika bisa, Pak.

Barangkali hal itu pula yang mendorongku untuk menyusun paper dengan tema modal sosial Indonesia. Kedua, rasanya arti membaca-ku selama ini, yang ku jadikan jendela dan kereta terbang menyusuri Indonesia menjadi ciut begitu saja.

Bolehlah saya belum kerap jalan-jalan, pak. Tapi, kan, saya cukup membaca. Dengan membaca setidaknya aku juga mengetahui banyak realitas lain di samping yang sudah aku kenali sehari-hari. That’s books are for, isn’t it?

Toh buku adalah refleksi kognitif dan mozaik pengalaman kemanusiaan. Kalaulah belum memadai, saya pun tak keberatan bapak beri saya buku lebih banyak lagi. Atau ongkosi saya keliling-keliling. Ndak usah sinis gitu, pak. Jelek diliatnya…:D

Jadi, aku sama sekali tidak bermaksud sok tahu tentang modal sosial dan manfaatnya untuk pembangunan politik di Indonesia. Aku ingin menunjukkan bahwa mahasiswa pandir sepertiku juga punya kepedulian terhadap masa depan negeri ini. Bukankah itu modal yang luar biasa?! Kenapa harus diprotes gara-gara saya baru mengunjungi dua pulau di Indonesia?!

Ah, pembenaran. Kali ini aku yang sudah tidak relevan…

Salam hormat untuk Pak Dosen…