Monthly Archives: February 2013

Tak Ada yang Dapat Diperbuat terhadap Korupsi (?)

Ulasan Buku: Mencabut Akar Korupsi (SOMASI-NTB) – 2003 (edisi revisi)

Judul postingan ini–kutipan dari buku Robert Klitgaard, ‘Membasmi Korupsi’ (2001), yang juga menjadi salah satu referensi utama penulis buku ini—boleh jadi sekedar provokasi bagi sebagian anggota masyarakat yang tergabung dalam gerakan anti-rasuah di Indonesia. Sejumlah upaya bahkan paparan bukti nyata dari dampak yang ditumbulkan korupsi bagi masyarakat nyaris tidak berefek. Tidak ada perubahan signifikan yang diharapkan dari berbagai gerakan melawan korupsi untuk merubah pandangan dan perilaku sebagian besar aparat dan masyarakat.

Pandangan serta kenyataan objektif di atas yang coba dikritisi oleh buku ini. Mulai dari bagian pengantar, Tim Penulis tidak sungkan menangkis ungkapan yang terkesan sederhana atas sulitnya ikhtiar membasmi korupsi dari bumi nusantara. Seperti misalnya alasan mengapa korupsi sulit dihilangkan dari Indonesia; yakni karena korupsi sudah menjadi budaya dan hampir semua orang di Indonesia pernah melakukan korupsi. Meski kerap dilontarkan secara ringan, sesungguhnya ungkapan tersebut memiliki muatan yang berat dan—sekaligus—memprihatinkan.

Budaya kekuasaan

Jika mengatakan korupsi sebagai budaya, maka tidak benar bahwa korupsi merupakan budaya masyarakat. Korupsi adalah “budaya kekuasaan”. Suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan oknum-oknum yang memiliki kekuasan di birokrasi pemerintahan, dan pelaku swasta yang bersekongkol dengan oknum-oknum tersebut (hal. 22).

Bagi yang meyakini korupsi sama dengan budaya masyarakat, biasanya mereka menyoroti banyak masyarakat yang terlibat dalam pemberian suap (uang pelican, uang rokok, tip, dsb) untuk mempermudah urusan. Tetapi, para penulis tidak sepakat menyebutnya sebagai budaya, karena sebagian besar masyarakat tidak menginginkan biaya tambahan di luar biaya resmi.

Pada kasus dimana masyarakat terpaksa, yang terjadi sebenarnya adalah pemerasan oleh oknum aparat yang memanfaatkan ketidakberdayaan publik yang terdorong oleh faktor kebutuhan. Misalnya, masyarakat yang memerlukan surat keterangan miskin, KTP, SIM, IMB, Surat Nikah, dsb. (hal 22-23).

Enam Mitos

Menukil kembali Klitgaard, sesungguhnya sulitnya membasmi korupsi karena kita masih terkungkung dalam pandangan yang sesat tentang korupsi itu sendiri. Setidaknya ada 6 alasan/mitos menyesatkan mengapa korupsi kita terima dengan sukarela menjadi bagian dari masyarakat. Bahkan sebagian mengatakan bahwa korupsi dibutuhkan untuk memperlancar pertumbuhan dan pembangunan (sesat kuadrat).

Sebagai contoh, ada alasan bahwa  korupsi sudah ada sejak dulu. “Seperti dosa, korupsi adalah bagian dari pembawaan manusia. Tidak ada yang dapat dilakukan mengenai hal itu.” Para penulis yang juga aktivis SOMASI-NTB ini mencatat kebenaran dari pengamatan tersebut. “Tetapi, kesimpulannya salah.” (hal. 86).

Peluang untuk korupsi dapat dihilangkan meski korupsi tetap ada. Seperti rumus umum kriminalitas yang sering dilantangkan Bang Napi. (hal. 57): Kejahatan = Niat + Kesempatan. Baik niat maupun kesempatan masih bisa kita rekayasa hingga peluangnya minimal. Sama halnya dengan korupsi.

Alasan lain yang mencoba menegasikan upaya terkini pemberantasan korupsi merujuk kepada logika kapitalisme dan demokrasi. “Risau mengenai korupsi tidak ada gunanya. Pasar bebas dan demokrasi multipartai akan menyebabkan korupsi berangsur-angsur hilang. Demokrasi akan meningkatkan akuntabilitas. Sementara pasar bebas membuka lebar-lebar persaingan. Keduanya (akuntabilitas dan persaingan) akan dengan sendirinya dapat mengurangi korupsi.” Begitu rasionalisasi yang dibangun.

Penyusun buku ini tidak begitu saja mengangguk. Untuk Indonesia yang masih dalam masa transisi atau peralihan, dimana bentuk-bentuk sistem demokrasi dan ekonomi masih mencari-cari bentuk , potensi ekskalasi korupsi justru bisa membesar (hal.87). Oleh karenanya, memang tidak ada alasan untuk menunggu sampai demokrasi atau ekonomi ajeg. Tanpa upaya keras mulai saat ini, masa depan Indonesia (lagi-lagi) sangat mungkin dibajak pribadi-pribadi tak bertanggung jawab.

Maladministrasi Dahulu, Korupsi Kemudian

Kita sering mendaraskan slogan: berantas korupsi hingga ke akar. Buku ini, diantaranya, bisa menggeser paradigma dan mungkin dapat dijadikan upaya untuk mengganti slogan di atas dengan: berantas korupsi mulai dari akar.

Antonius Sujata, mantan Ketua Komisi Ombudsman Nasional (sekarang menjadi Ombudsman Republik Indonesia dengan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2008) mengungkapkan bahwa dalam pandangan tertentu, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) berasal dari mal-administrasi yang dianggap biasa (Sujata, 2004).

Perbuatan maladministrasi terjadi hampir setiap hari dan dialami langsung oleh masyarakat. Diantaranya seperti penanganan berlarut, inkompetensi pegawai/aparat, penyalahgunaan wewenang, nyata-nyata berpihak, menerima atau memungut imbalan tanpa ketentuan, penguasaan tanpa hak, bertindak tidak layak, serta melalaikan kewajiban. Pengabaian terhadap tugas dan tanggung jawab ini merupakan akar tunggang korupsi.

Keistimewaan lain buku ini adalah muatan berbagai contoh bentuk partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Mulai dari komunitas hingga gerakan di tingkat desa atau akar rumput. Tidak saja mengurai kisah-kisah sukses—yang dicapai setelah melalui jalan terjal—untuk membangun optimisme, buku ini pun memantik inspirasi siapa saja—sesama penggiat anti-korupsi, akademisi, pelajar/mahasiswa, pendamping komunitas, atau warga biasa—untuk  memahami dan mulai mereplikasi kisah yang sama di tempat-tempat lain. Tidak ada yang kecil dalam upaya membasmi korupsi.

Sayangnya, buku-buku seperti ini memang jarang masuk ke dalam arus besar industri perbukuan. Untuk memperolehnya, kita barangkali mesti berkorespondensi dengan kawan-kawan SOMASI di NTB. Keuntungan buat kita, bisa bersilaturahim langsung dengan para pejuang ini…. 🙂

(Dimuat dalam Majalah Suara Ombdusman Edisi Pertama/Jan-Feb 2013)

Tanya

Sebagian kita, barangkali mayoritas, hidup dengan misi atau impian untuk dapat menemukan jawaban yang benar. Seringkali kita putus asa karena merasa tak kunjung memperolehnya. Kita kecewa kepada kehidupan yang tak juga memberikan jawaban yang kita minta. Lalu galau..

Bertanya adalah ciri homo sapiens, makhluk yang dikaruniai kemampuan berpikir. Menuntut jawaban adalah fitrah psikologis lainnya sebagai manusia. Berharap semuanya sesuai dengan harapan kita tidak lain merupakan kecenderungan paling primitif yang hingga kini kita idap.

Saya sendiri kadang tidak habis pikir jika mendapati apa yang saya tanya (atau minta) berbenturan dengan jawaban (baca: kenyataan) yang saya hadapi. Bertanya seputar Tuhan, bertanya soal ketimpangan dan keadilan, bertanya makna pengetahuan, bertanya mengenai keihklasan dan kejujuran, bertanya tentang kebijaksanaan, perang, kejahatan, tentang profesionalisme, persahabatan, kekeluargaan, tentang rizki, tentang istri (ups!).

Tapi, saya bermenung, lantas kemudian menyadari bahwa mungkin jawaban yang kita dambakan itu jarang kita dapatkan (justru) karena kita mengajukan pertanyaan yang keliru? Dengan kata lain, kita tidak mendapatkan jawaban yang kita harapkan karena kita tidak mengajukan pertanyaan yang tepat.

Mengapa bisa begitu? Jika kita rapalkan kembali lembaran-lembaran ajar psikologi, kita mafhum bahwa pikiran sulit membedakan mana hal yang urgen, penting, atau sangat dibutuhkan. Sebaliknya, otak reptil kita akan cepat merespon hal-hal yang menurut kita menantang dan menarik.

Terus terang, dunia ini memang penuh hal-hal menantang dan menarik itu. Kita seperti masuk melewati taman bermain dan (selalu ingin) mencoba sebanyak mungkin wahana. Dari satu arena yang menyedot adrenalin ke arena lain yang menghamburkan dopamin, serotonin, dan neropinefrin dalam tubuh kita.

Kegembiraan yang lahir kemudian menimbulkan ekstase. Setiap ekstase membawa adiksi. Dan kita ketagihan terus sampai tidak jarang sering lupa waktu dan tujuan awal. Sebab kebutuhan untuk memenuhi rasa ketagihan itu kerap membuat kita menghabiskan waktu untuk berlama-lama tenggelam merayakannya atau mengutuk apa atau siapapun yang kita anggap menghalanginya.

Dalam filsafat, kecenderungan ini dimaklumi dengan penyebutan manusia sebagai homo ludens, makhluk yang bermain (istilah yang dipopulerkan oleh Johan Huizinga dalam “Homo Lodens: A Study of Play Element in Culture, 1938). Penggambaran menarik soal hal ini juga telah tertera dalam Q.S. Al An’am: 32; Q.S Al Ankabut: 64; dan Q.S Muhammad: 36.

Keasyikan kita ‘bermain’ barangkali membuat kita malah membuat pertanyaan yang tidak tepat. Lepas dari ‘benar’ atau ‘tidak benar’-nya jawaban yang kita peroleh, semuanya menjadi semu. ‘Benar’ menurut kita adalah yang sesuai dengan ekspektasi, dan ‘keliru’ adalah sebaliknya.

Jawaban ‘benar’ bisa membuat kita berpikir kita memenangi ‘sebuah wahana”. Meski kita kalah dalam ‘permainan’ yang sesungguhnya…

*

Sebagai makhluk dengan kecenderungan dasar gregariousness, menyukai nongkrong bareng atau berkumpul dengan sesamanya, kita mungkin masih kurang menabung niat untuk menyisihkan waktu untuk berkontemplasi secara laik.

Beruntunglah siapapun yang masih tekun menyediakan waktu untuk sekedar menyendiri, memisahkan diri dari semesta materi dan mondok di bilik sunyi sekedar untuk menengok dan berdialog dengan nurani di dasar hati.

Dalam Islam, waktu-waktu kontemplasi yang berharga ini bahkan secara eksklusif disediakan sedikitnya 5 kali dalam sehari. Beruntunglah umat Islam jika bisa menghargainya. Di sana banyak kesempatan untuk melakukan evaluasi apakah tanya kita sudah tepat; apakah pendekatan kita sudah mantap; apakah diri kita sudah siap; apakah tidak ada sinyal yang terlewat, untuk mendapatkan jawaban(-jawaban) yang hakikat itu?

Saya menyukai cerita Prof. Jeffrey Lang, seorang guru besar bidang matematika yang tidak pernah berhenti bertanya dan menggali jawaban. Bahkan ketika ia akhirnya sudah memilih untuk masuk Islam. Kisah dan kegelisahannya tertuang di antaranya dalam buku “Even Angels Ask: A Journey to Islam in America” (sudah diterjemahkan oleh penerbit Serambi dengan judul “Bahkan Malaikatpun Bertanya”). Atau perjalanan jiwa Karen Armstrong yang berupaya keras menemukan jawaban tentang dunianya. Karen bahkan menuliskan perjalanannya secara istimewa dalam buku “Sejarah Tuhan”.

Saya kira sangat layak untuk siapapun yang gigih mencari untuk kemudian tergugah, merasakan pencerahan, dan memperoleh kembali kesadaran tentang makna dan ‘permainan’ sebenarnya. Upaya terkecil kita barangkali ‘hanya’ menyempatkan diri untuk menyendiri dan berkontemplasi.

Sebagai bagian dari elemen masyarakat yang membutuhkan pendidikan dan pencerahan dari para cerdik cendekia, seringkali pelbagai pertanyaan dangkal saya ‘terjawab’ dengan cara tak terduga. Entah saya mendapatkan ‘jawaban’-nya atau mendapati bahwa pertanyaan saya bahkan salah. Seperti cerita yang ini atau dari pengalaman yang ini. Dan untuk itu saya selalu mencoba bersyukur. Siapa tahu Allah kemudian berkenan membisikkan pertanyaan untuk menemukan jawaban yang tepat..

*

Keasyikan menggurui seperti ini bikin saya sejenak juga lupa soal tujuan sesungguhnya. Tapi, ah, ini mungkin untuk diri sendiri saja. Melatih diri untuk membuat pertanyaan yang tepat mungkin bisa dimulai dengan satu kalimah yang Allah awal ajarkan kepada Muhammad SAAW dan menjadikannya makhluk paripurna kesayangan semesta: IQRA!

Bayang

Pete goreng di hadapan kami sudah kandas. Buat menghilangkan sisa pedas di mulutku, aku mencolek lagi lado yang masih nampak di piring lalapan. Gagal, cuma upaya gertak sambal…

Sebetulnya bukan pedas di mulut yang ingin ku hilangkan, tapi pedas dari mulut teman makanku ini. Sepanjang perjuangan kami melahap 2 potong ayam goreng plus ati-ampela, 2 siung papan (ketemu juga istilahnya) pete, kol goreng, tomat, dan 1 cobek besar sambal terasi, ia tak henti-hentinya mencemooh cara berpikirku yang ‘linier’ memandang politik praktis. Remah-remah nasi ikut berhamburan. Beberapa tidak bisa diselamatkan dan mengenai pakaianku.

Rasanya aku sudah mencoba memperbaiki logikaku dalam memandang peristiwa politik. Kelas-kelas kuliah ku jalani untuk mempertajamnya. Salah satu motivasiku adalah supaya bisa mengimbangi gaya berpikirnya. Bagaimanapun temanku ini kuanggap salah satu mentor-politikku. Relasi, referensi, pengalaman, dan strateginya cukup canggih dan layak diandalkan. Semuanya didukung intelegensi yang tidak main-main. Kombinasi akademik-praktis yang merangsang dan tidak selalu ku dapat dari perkuliahan.

Tapi, rupanya dia masih menganggapku ingusan. Sialnya, dia benar. Sambal terasi bahkan memperparah produksi ingusku malam itu. Sangat amat tidak harmoni dengan atmosfer di Epicentrum sini..

Menurutnya, aku lupa bahwa semestinya aku tidak menomorsatukan logika untuk memaknai politik. Logika tidak menjadi dewa karena fakta-fakta dalam dunia politik tidak pernah an sich. Dengan demikian, logika menjadi tidak pernah memiliki dasar atau premis ajeg dan membuat legitimasi logika runtuh atau jatuh kembali hanya menjadi sekedar ilusi.

Dia memberiku ilustrasi menggunakan salah satu kasus yang sedang ku investigasi. Kebetulan kasus ini memang mengenai sengketa jabatan politik. Awalnya aku memang keukeuh karena bagiku logika kasus ini sudah terang benderang. Yang aku persoalkan adalah adanya pihak-pihak yang membandel dan tidak mengakui kebenaran logikanya. Hematku, sungguh bodoh orang yang tidak mengikuti logika seterang ini. Dia juga hanya membuat dirinya sendiri nampak bodoh di muka publik dan menjadi pesakitan di depan hukum. Dan bagiku itu sangat tidak menguntungkan secara politis.

Sambil meminta tambahan tomat untuk pencuci mulut, temanku bilang bahwa aku jelas tidak bisa berpikir seperti itu. Ini bukan soal tampak bodoh di depan publik atau tercitrakan salah di mata hukum. Singkatnya, dia mengingatkanku soal pentingnya kepemilikan logistik dalam politik. Terutama di Indonesia.

Jadi, ketimbang memakai logika atau sekedar demi citra dan wacana-wacana ideal lainnya, temanku menyarakan agar ‘klien’-ku menggunakan pendekatan logistik untuk menang.

Aku memang sering ‘tersesat’ memahami peristiwa politik kerena seringnya berpijak pada fakta yang ‘keliru’ ataupun informasi setengah matang. Apa yang ada di permukaan yang sering ditelan oleh awam juga kerap kujadikan bahan analisis. Padahal sebagian besarnya hanya ‘bayangan’. Kesalahanku akan berefek lebih fatal jika aku sendiri adalah pelaku politik. Sebab, aku bisa mengambil keputusan atau langkah yang merugikan atau minimal tidak tepat pada sasaran.

Tentu saja, karena yang aku kejar hanyalah bayangan. Anda lamunkan saja sendiri, jadinya akan melelahkan dan  sangat tidak menguntungkan, bukan? Belum lagi jika diketahui banyak orang seandainya kita hanya ‘mengerjai’ bayangan. Malu minta ampun. Rating politik kita pastinya kena degradasi.

Masalahnya, kita pun sulit membedakan mana fakta sebagai fakta dan mana fakta yang hanya ‘bayangan’. Lagi-lagi temanku menyungging senyumnya setelah satu gelas teh tawar dia teguk tandas. Setelah keringatnya yang membanjir itu dia seka, dia melanjutkan omongannya.

Ada 2 hal yang bisa dilakukan, katanya. Namun, dia mewanti-wanti lagi prinsip utama yang dimiliki politikus kawakan dalam semesta politik: Jika ingin turun dalam dunia ini–sudah seharusnya kita tidak selalu menggunakan logika dalam pengertian umum. Logika umum bermanfaat untuk memahami pemikiran umum, bukan untuk merencanakan atau melaksanakan strategi politik. Logika umum itu sasaran, tidak selalu alat. Setelah pemikiran ini sudah dibiasakan, akan mudah menjabarkan 2 hal itu.

Pertama, lawan ‘bayangan’ dengan ‘bayangan’; “shadow over shadow”. Tidak perlu repot merumuskan definisi, berikan saja. Jangan ikut ke dalam aturan main yang terlontar. Menyampinglah dan, jika sudah terlanjur terlibat dalam permainan, bikin saja aturan main sendiri, bermanuver. Kita bahkan mesti rela dipandang bebal. Pada fase ini mungkin kita harus stay on our own course, paling tidak sementara hingga kita bisa memainkan permainan kita.

Kedua, lempar ‘bayangan’ terlebih dahulu dan lihat siapa yang mengikutinya. Dengan begitu, kita mendapatkan banyak keuntungan; mengenali siapa sejatinya kawan siapa lawan, menyibukkan lawan dan mengendurkan sejenak elan pacu yang dia gunakan untuk menyaingi kita, dan/atau bahkan mendapatkan keuntungan nyata dari ‘bayangan’ yang kita gulirkan. Keuntungan yang kita peroleh tergantung seberapa canggihnya ‘bayangan’ yang kita buat itu.

Barangkali buat anda yang pernah mengkaji ‘Political Game Theory’, rumus di atas sudah lazim.

Lalu, apa faktor nomor wahid dalam memaknai politik? Temanku tidak mengatakannya secara eksplisit, karena akan sangat klise binti garing baginya. Aku hanya coba menyimpulkannya sendiri dengan harapan bahwa anda juga pada dasarnya sudah paham. Nomor satu tentu saja: Ambisi.

Inilah, menurutku, yang menarik dalam politik. Siapa yang tidak puas atau bahagia jika upaya mewujudkan ambisinya bisa dijalankan atau bahkan tercapai? Maka, siapapun yang memiliki energi dan antusiasme besar terhadap ambisinya akan sangat cocok masuk ke dalam dunia politik. Sebab mereka ini sangat menyenangi kemungkinan, nyaris tidak kenal lelah, pengambil keputusan cepat, dan tidak takut resiko tinggi. Makin tinggi resiko, makin besar hasilnya.

Itulah sebabnya, aku berharap makin banyak orang dengan ambisi mulia berada di sana…