Monthly Archives: July 2016

Memenangkan Negeri dengan Jenaka

Jalan keluar dari rasa frustasi seringkali adalah kejenakaan. Inilah kehebatan yang dimiliki bangsa kita berabad-abad. Meski kita dirundung penindasan dan kedzaliman yang nyaris di luar batas logika nurani sekalipun, bangsa ini tetap bertahan, tetap setia dengan nusantaranya, dengan ibu pertiwinya.

Untuk melupakan nyeri dan pedihnya kesewenang-wenangan yang melucuti hak-hak kemanusiaan, kita berguyon. Tertawa bersama untuk melepaskan endorphin yang efeknya seperti morphin. Tidak jarang, kita malah menertawakan penderitaan itu sendiri. Seakan mengemasnya menjadi sesuatu yang tak lagi kita takuti atau anggap sebagai hantu yang mengejar-ngejar, mencekik hingga mati. Kita ‘membiasakan’ dia. Kita tak lagi memberinya umpan berupa rasa takut kita, seraya berharap ia akan merubah dirinya sendiri menjadi jinak. Seakan-akan lebih ramah. Dan kelak tak lagi terlampau serius meski tetap membuat kita menderita.

Basi

Humor yang lebih tinggi, hadir dalam bentuk penolakan terhadap kelaliman dengan membuatnya tak diacuhkan. Kita hanya menyibukkan diri dengan diri kita, dan cara kita memandang dunia sebagai hiburan belaka. Sebuah sandiwara untuk dinikmati. Satire. Kita tahu, dimensi yang selama ini nampak serius, sejatinya juga sebuah dagelan, lakon yang dimainkan berulang-ulang oleh aktor yang berbeda-beda. Pada titik kebosanan kita, kita menghendaki sesuatu yang lain. Yang membawa kesegaran dan memperlakukan panggung dengan cara yang berbeda, sebab selama ini lakon yang sama terbukti tidak-menghibur (atau bahkan membuat kita bahagia, sebagaimana fungsinya).

I offer you new entertainment you will enjoy, as an intermezzo

“I offer you new entertainment you will enjoy”

Maka, ketika tampil sosok yang mampu menawarkan hiburan dan kesegaran, membawa suara yang baru kita dengar selama berada di kursi penonton, kita mempersilahkan dan mendorongnya naik panggung untuk menggantikan para wayang yang perannya sudah ‘basi’. Apalagi setelah kita mendapatinya bisa mempersonifikasi para wayang sebelumnya dengan hampir sama bagusnya. Klop. Jadikan dia pemeran utama sekarang.

Baik, saya sudah cukup jauh melantur. Kembali ke daratan.

Mendapati informasi bahwa Robin Williams memerankan aktor utama dalam film ini, saya sejujurnya punya ekspektasi tinggi. Garis besar film ini adalah seorang komedian yang terpilih menjadi presiden di amerika. Wah, temanya terdengar menyegarkan. Dan dengan adanya Robin, saya berharap akan dikemas berbeda dari garapan Chris Rock di ‘Head of State‘ (2003).

Harapan saya, akan banyak bit-bit tajam tentang realitas politik yang telah dan sedang berlangsung. Lalu, kita akan ikut bersorak karena merasa terwakili oleh cemoohan Robin Williams terhadap kebijakan pemerintah yang konyol, ucapan dan perilaku politikus yang absurd (sok pintar, memaksakan hal tidak masuk akal, dan mengambil kebijakan tanpa dasar yang jelas), dan 2-wajah para politisi yang selalu menjadi senjata andalan–berkali-kali pun dia kepergok membual.

Dalang

Namun, ‘Man of The Year‘ hanya sedikit sekali memenuhi ekspektasi itu. Meski di awal menggigit, seterusnya film yang keluar tahun 2006 ini justru terasa lebay, tidak fokus, dan malah mengalihkan persoalan kepada konspirasi dan hubungan cinta yang terasa dipaksakan.

Setelah memirsanya, sorak-sorai kita mendukung Tom Dobbs (Robin Williams) berakhir kecele. Semua ujung-ujungnya basi. Sama seperti dunia yang pada awalnya ingin kita cemooh bersama-sama.

Barangkali, kita memang hanya ingin selingan. Kita tidak pernah bersungguh-sungguh mengharapkan seorang komedian menjadi presiden. Profesionalisme komedian adalah menghibur, melepaskan sejenak kepenatan dan kebosanan dari tingkah-polah para juru lakon yang tidak lucu itu. Kejatuhannya adalah ketika ia tidak lagi lucu. Dari dasar batin, kita tetap menginginkan pemimpin sesungguhnya yang mengisi ruang kosong itu. Yang memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya. Yang punya kapabilitas untuk disukai dan dibenci pada saat yang sama. Yang fokusnya pada amanah dan alasan asali untuk apa dia menjadi pemimpin, bukan memenuhi pesanan sponsor atau bisikan kehendak golongannya. Dan barangkali juga tempatnya tidak perlu selalu di panggung. Bisa jadi dari belakang layar ia tetap mendalangi semuanya.

Kejenakaan boleh dapat memenangi hati satu negara, merangkul, menyatukannya. Tapi, memimpinnya adalah perkara yang sama sekali lain..

Tom DobbsToday I was in the oval office for a preparatory meeting and I sat behind the President’s desk and I had a reality check. I sat there and I went ‘Wait a minute, I’m a Jester. A Jester doesn’t rule the kingdom; He makes fun of the king.’

(Man of The Year, 2006)