Monthly Archives: August 2013

Silat Di Rantau

Lupakan ulasan soal koreografi atau seni bela diri silat dalam film ini. Sebab saya tidak tahu apa-apa. Yang sering saya dengar, bela diri yang umumnya dipelajari, baik di sekolah, kampus, gelanggang olah raga, aula, studio, lapangan, pendopo, nyaris tidak terpakai dalam situasi pertarungan sebenarnya. Mereka yang bilang begitu, kerap melihat jurus-jurus yang ditekuni di perguruan, peguron, dojo, dojang, treinamento, sasana, dan sebagainya itu sama sekali tidak kompatibel dalam perkelahian sungguhan. Yang ada malah cakar-cakaran, jambak-jambakan, pukulan dan sepakan membabi-buta, keroyokan, atau langkah tanpa bayangan alias kaki seribu.

Tidak ada keindahan gerak seperti yang diperlihatkan dalam peragaan jurus, pomsae, kata, atau semacamnya. Komentar dan opini seperti itu tentu terbantahkan dengan sendirinya. Latihan bela diri terbukti membantu kita menghadapi situasi lebih tenang, menajamkan refleks dan naluri, meningkatkan stamina, menambah massa otot, melenturkan tubuh, dan membangun percaya diri.

Dalam situasi perkelahian–yang tentunya tidak kita cari-cari atau bikin-bikin–semua hal itu akan sangat menolong kita untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi, minimal menekan impak negatif sekecil-kecilnya. Dan tontonan satu ini boleh jadi akan membuat anda yakin soal faedah belajar silat, atau bela diri lainnya…

Minang

Minat saya terhadap budaya minang, secara emosional memultiplikasi alasan saya menonton film ini. Mungkin akan sama besarnya jika film ini juga berlatar belakang budaya banten, tanah kelahiran saya. ‘Merantau’, yang dalam versi internasional diberi tajuk ‘The Warior’, mulai tayang 2009.

Merantau

To fulfill a Journey

Dari judulnya saja, tentu kita sudah bisa tebak isinya. Yang pasti bukan randang, gulai kepala ikan, kalio ayam, gulai tunjang, dendeng balado, itiak lado ijau, ikan bilis, ayam pop, apalagi gelamai atau martabak kubang (krik, krik, krik… glek!). Dalam narasi pembuka yang dibawakan dengan sangat gemilang (ah, saya jelas kesulitan menemukan istilah yang pas) oleh aktris kharismatik Cristine Hakim, film ini bertutur tentang cerita anak laki-lakinya, Yuda (Uwais Qorny atau Iko Uwais), dan perjalanannya menjadi lelaki sejati. Ini adalah hikayat Yuda menjalani tradisi turun temurun dalam budaya minangkabau yang matrilineal; merantau.

Lantaran minat seperti yang saya sebut di atas, hal ihwal budaya minang selalu menarik buat saya. Iming-iming soal kisah merantau khas tradisi dan budaya minang ini pun sudah mampu membuat saya membeli tiket premier film ini. Meski pada gilirannya, tak banyak aspek soal merantau yang dituturkan di dalamnya.

Ya, film ini memang jenis drama-aksi, dengan aksi yang menjadi spotlight. Tidak perlu banyak persoalkan ceritanya yang sederhana. Sebab inti film ini, seperti yang diutarakan oleh Ario Sagantoro (produser) dan Gareth Evans (sutradara), ingin ikut mempromosikan salah satu bela diri khas nusantara; Silat.

Dan begitulah. Sepanjang satu setengah jam lebih, kita disajikan adegan-adegan pemacu adrenalin yang menyegarkan. Segar, karena film ini keluar dari arus utama film Indonesia yang tengah marak dengan tema hantu, komedi, atau drama-cinta ala FTV (film televisi). Segar, karena tata-gerak dalam film ini tidak lagi ‘klise-Indonesia’. Mungkin karena ia disajikan oleh seorang maestro dan dikemas seorang ‘perantau’…

Moving Shadows

Andai anda mulai tertarik mendalami bela diri, kesampingkan perdebatan soal mana bela diri yang paling bagus, keren, hebat, terbaik. Sebab, sejatinya tidak ada (dan bukan maksud utamanya) bela diri yang lebih unggul dari yang lain. Yang ada adalah praktisi terbaik dan yang bukan. Kesungguhan yang menentukan. Meskipun adat dan silat (silek/sile’, dalam bahasa minang) yang dipertontonkan Yuda dalam film ini ‘bermazhab’ Silat Harimau dan dibimbing langsung oleh Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam (dipanggil Datuk Edwel), Iko sejatinya anak betawi asli.

Keprigelan silatnya ia dapat dari Perguruan Silat Tiga Berantai, Jakarta, berguru bertahun-tahun di bawah asuhan almarhum Haji Ahmad Bunawar (beliau wafat awal tahun ini). Ketika Gareth Evans membuat dokumentasi film tentang pencak silat di tahun 2007 (kemudian diberi judul ‘Land of Moving Shadows’), Gareth kepincut dengan talenta dan kharisma alami Iko di depan kamera.

Sopir truk dan pemain gelandang di sebuah tim sepakbola liga sekunder Indonesia itu pun dikontrak oleh Gareth dan perusahaan produksinya selama lima tahun, untuk membuat beberapa produksi/karya lagi. Sekedar catatan, kolaborasi keduanya kini sudah menelurkan beberapa karya sukses lainnya. Setelah ‘Merantau’, ada ‘Serbuan Maut/The raid‘ di tahun 2012.

Tahun ini, Iko juga terlibat dalam salah satu sinema produksi hollywood bersama Keanu Reeves, ‘Man of Tai Chi‘. Tahun depan, kita bisa memirsa lagi kombinasi Gareth, Iko, bahkan Yayan Ruhian yang mencuri perhatian di ‘The Raid‘, dalam karya mereka yang katanya akan ditajuki; ‘Berandal/The Raid; Retaliation‘.

Menonton Iko lagi barangkali akan membuat anda ingin ‘bergerak’… 🙂

Narator/Christine Hakim: [opening line] Dalam tradisi minangkabau, setiap anak laki-laki suatu hari akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang akan membuatnya menjadi lelaki sejati… Alam semesta akan jadi guru pembimbing… (Merantau, 2009)

Anak Bunda (Bagian 2: Eksperimen)

Menurut bundanya, Danish lebih ceriwis dibanding Daffa di usia yang sama (tengok cerita yang ini). Daffa baru mulai terlihat aktif ketika masuk usia 3 tahun. Tapi, sekalinya Daffa berbicara, keluar kalimat (pertanyaan atau pernyataan) yang unik. Seperti cerita yang ini.

Kakak (begitu sekarang gelar Daffa), sekarang sedang banyak bereksperimen. Mulai dari utak-atik notebook/laptop Bunda, Bu Guru, Yai, Ka Epi, atau Teh Ni. Kakak juga menggunting rambutnya sendiri, beberapa kali, tanpa sepengetahuan ayah atau bunda, karena melihat ada yang melakukannya di TV. Hasilnya tentu saja banyak bagian rambut kakak yang tidak berbentuk dan memancing cemberut Bunda. Terakhir, Kakak juga sedang getol bereksperimen di dapur.

Awalnya, karena sudah cukup lama aku dan Daffa ndak masak bareng, mudik puasa ini aku niatkan untuk melakukannya lagi. Aku langsung utarakan rencanaku pada Daffa yang kebetulan menyambutku yang baru datang. Aku bilang, “kita masak Pancake nanti sore ya, buat buka puasa.”

Kakak meloncat senang. Apalagi waktu kubilang pancake bisa ditambahi topping butir-cokelat-tabur, susu-kental-manis, kurma, atau es krim.

Kupaparkan bahan-bahannya dan sekedar bertanya apakah di warung bahan-bahan itu tersedia. Kakak bilang, beberapa bahan mungkin habis. Tidak kurang akal, kakak Continue reading

Anak Bunda (Bagian 1: Oral)

Capek dan kesal itu tak lagi begitu terasa. Danish mengubahnya menjadi begitu meriah penuh tawa. Sepanjang perjalanan silaturahim dan ziarah kami ke Kampung Tutul, Rangkas Bitung, Danish tak henti-hentinya mengungkit senyum dan gelak kami.

Tanggal 25 Ramadhan tahun ini, Danish tepat berusia 2 tahun versi kalender lunar. Sudah berani berjalan bahkan berlari sendiri kemana-mana, bersepeda (roda-tiga) menggunakan kaki alih-alih pedalnya, naik turun tangga, menunjuk beberapa anggota tubuh atau benda, bisa membantu (meniru) bunda menyapu, corat-coret, dan–ini yang paling menyenangkan, buatku–mulai belajar berbicara dengan lafal yang lebih jelas. Di usianya, Danish memang gampang menyerap bunyi-bunyian dan mengulang-ucapkannya. Kemampuan oralnya sedang berkembang.

H+2, sepulang berlebaran di kampung kakek dari ayahnya di Bojonegara, Danish–tak kenal tempat, tak peduli waktu, tak acuh situasi apapun–melanggamkan lagu takbir; “owwah ba, owwah ba…”, sambil kejar-kejaran dengan Naufal, berjalan, tiduran, bermain dengan mobil-mobilan punya Daffa, kakaknya, membuat ‘kolam-renang’ di dalam rumah, atau memegang kemudi Toyota.

Hanya saat tiba waktu tidurnya saja Danish mengucap kata yang lain, kata ajimatnya: “Tutu (Susu)!”

Dalam teori perkembangan anak, Continue reading

Afdhal

Captured

Captured

Pernah ada sesuatu yang terasa salah atau menganggu, entah kedutan di bagian perut, kulit kepala yang tiba-tiba gatal, rongga dada yang terasa sesak, atau kelebatan yang membuat pikiran kita teralihkan sesaat dari fokus pada aktivitas? Seperti ada yang terselenting, tersentil di ulu hati. Saya sering mengalaminya. Perasaan seperti itu saya sebut… mmmm… semacam ada yang kurang afdhal.

Tidak afdhal rasanya, ketika saya enggan memberi ke anjal dan pengemis dengan alasan tidak mendidik, tapi akhirnya mendidik pun tidak, ngasih juga ogah.

Tidak afdhal rasanya, ketika saya protes soal sebuah program atau acara di TV karena bahannya sama sekali tidak mencerdaskan dan buang-buang airtime yang berharga, tapi menggunakan bahan itu sebagai olok-olok cuma supaya saya dianggap lucu.

Tidak afdhal rasanya, ketika di lembaga kajian saya menyela analisis rekan yang lain lantaran ia banyak menggunakan data dari media arus utama, tapi saya sendiri membantahnya dengan bahan dari narasumber yang sudah banyak dikutip pernyataannya di berbagai media.

Tidak afdhal rasanya, menjadi golput karena tidak lagi percaya dengan partai dan kandidat-kandidat yang diusungnya, tapi saya tidak berusaha tahu atau menawarkan alternatif lain.

Tidak afdhal rasanya, berkata bahwa budaya dari luar itu kebanyakan tidak cocok bahkan merusak, tapi saya tidak berikhtiar untuk mengenal budaya sendiri secara layak.

Tidak afdhal rasanya, menyetujui dan memprovokasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan, namun masih lebih sering memberi keuntungan lebih banyak kepada pemodal besar ketimbang pedagang kecil.

Tidak afdhal rasanya, sejak kuliah menyimpulkan bahwa teori hanya materi kuliah yang banyak dikutip dari ilmuwan barat dan idealisme hanya ada di dunia ide, sementara masih acap kalut duluan membayangkan proses meneliti dan metodologi, serta memakai ide yang sudah tersedia hanya untuk menunjukkan bahwa kita punya gagasan konkret.

Tidak afdhal rasanya, mengkritik para pendidik dan lembaga pendidikan, namun saya masih sering memberi contoh yang tidak mendidik kepada mereka yang lahir setelah saya soal cara mengkritik.

Tidak afdhal rasanya, menggunakan jam kantor untuk mengerjakan yang lain, tapi saya tetap merasa syahdu ketika menggunakannya untuk menulis di web-log.

Tidak afdhal rasanya, giat melakukan banyak hal dari mulai masuk kantor hingga selesai bahkan melebihi jam kerja, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali pembenaran untuk merasa lelah yang diniatkan terganti dengan pendapatan rutin dan liburan. Lalu tetap memaki soal bobroknya sistem serta manusia-manusia di dalamnya.

Tidak afdhal rasanya, bekerja untuk menyelesaikan persoalan orang lain, tapi menghadapi persoalan di ‘rumah’ sendiri saya malah kadung frustasi dan fatalistis dengan alasan periuk nasi.

Tidak afdhal rasanya, ketika langsung yakin menuding seseorang berbuat salah kemudian menjatuhi sanksi/hukuman, sementara sebelumnya tidak ada upaya persuasi apapun yang saya lakukan untuk mencegah atau mengingatkannya.

Tidak afdhal rasanya, menjerit bahwa ada yang salah dengan sistem atau birokrasi, tapi saya sendiri masih sering malas mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memenuhi prosedur, melengkapi administrasi, dan berpartisipasi dalam kadar sekecil apapun di tiap tahap rencana hingga evaluasi.

Tidak afdhal rasanya, berkoar-koar supaya didengar, tapi menyuarakannya di tengah kerumunan orang yang mendengungkan hal yang sama dengan bunyi, frekuensi, dan langgam yang serupa.

Tidak afdhal rasanya, ketika saya memekikkan keluhan, tapi (saya tahu) pihak yang diseru tidak bisa mendengarnya.

Tidak afdhal rasanya, menyuruh orang banyak berteriak, hanya supaya saya sendiri tak ketahuan apa bersuara apa tidak.

Tidak afdhal rasanya, saya mengomentari pengeras suara di sebuah musholla yang ndak nyaman didengar, tapi jarang pergi ke sana baik untuk shalat maupun merembugkan bersama DKM-nya bagaimana supaya suara adzan, murattal, shalawat, pengajiannya terdengar lebih nyaman.

Tidak afdhal rasanya, ketika saya menghakimi mazhab atau aliran lain keliru, tapi saya sendiri belum jadi penganut yang mengetahui, mendalami sumber, memahami, meyakini, dan mengamalkan sebagian besar tuntunan dalam mazhab atau aliran saya.

Tidak afdhal rasanya, ketika saya menghalau orang untuk tetap jujur dan berbuat baik, namun di sisi lain saya tetap bertahan di garis tubir abu-abu dan berusaha menyelamatkan diri dengan pelbagai pembelaan dan apologi.

Tidak afdhal rasanya, ketika saya kerap mengasihani orang yang sombong atau riya dengan amalnya, sementara saya sendiri masih merasa lebih baik ketika menyepi di penjuru surau atau menyumbang di kencleng jumatan sekedar 10.000 rupiah.

Tidak afdhal rasanya, mencintaiNya hanya untuk memenuhi ego.

Tidak afdhal rasanya, ketika terus menerus berpikir soal afdhal-tidak afdhal, tapi tidak ada yang dibenahi sama sekali hari ini…