Lupakan ulasan soal koreografi atau seni bela diri silat dalam film ini. Sebab saya tidak tahu apa-apa. Yang sering saya dengar, bela diri yang umumnya dipelajari, baik di sekolah, kampus, gelanggang olah raga, aula, studio, lapangan, pendopo, nyaris tidak terpakai dalam situasi pertarungan sebenarnya. Mereka yang bilang begitu, kerap melihat jurus-jurus yang ditekuni di perguruan, peguron, dojo, dojang, treinamento, sasana, dan sebagainya itu sama sekali tidak kompatibel dalam perkelahian sungguhan. Yang ada malah cakar-cakaran, jambak-jambakan, pukulan dan sepakan membabi-buta, keroyokan, atau langkah tanpa bayangan alias kaki seribu.
Tidak ada keindahan gerak seperti yang diperlihatkan dalam peragaan jurus, pomsae, kata, atau semacamnya. Komentar dan opini seperti itu tentu terbantahkan dengan sendirinya. Latihan bela diri terbukti membantu kita menghadapi situasi lebih tenang, menajamkan refleks dan naluri, meningkatkan stamina, menambah massa otot, melenturkan tubuh, dan membangun percaya diri.
Dalam situasi perkelahian–yang tentunya tidak kita cari-cari atau bikin-bikin–semua hal itu akan sangat menolong kita untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi, minimal menekan impak negatif sekecil-kecilnya. Dan tontonan satu ini boleh jadi akan membuat anda yakin soal faedah belajar silat, atau bela diri lainnya…
Minang
Minat saya terhadap budaya minang, secara emosional memultiplikasi alasan saya menonton film ini. Mungkin akan sama besarnya jika film ini juga berlatar belakang budaya banten, tanah kelahiran saya. ‘Merantau’, yang dalam versi internasional diberi tajuk ‘The Warior’, mulai tayang 2009.

To fulfill a Journey
Dari judulnya saja, tentu kita sudah bisa tebak isinya. Yang pasti bukan randang, gulai kepala ikan, kalio ayam, gulai tunjang, dendeng balado, itiak lado ijau, ikan bilis, ayam pop, apalagi gelamai atau martabak kubang (krik, krik, krik… glek!). Dalam narasi pembuka yang dibawakan dengan sangat gemilang (ah, saya jelas kesulitan menemukan istilah yang pas) oleh aktris kharismatik Cristine Hakim, film ini bertutur tentang cerita anak laki-lakinya, Yuda (Uwais Qorny atau Iko Uwais), dan perjalanannya menjadi lelaki sejati. Ini adalah hikayat Yuda menjalani tradisi turun temurun dalam budaya minangkabau yang matrilineal; merantau.
Lantaran minat seperti yang saya sebut di atas, hal ihwal budaya minang selalu menarik buat saya. Iming-iming soal kisah merantau khas tradisi dan budaya minang ini pun sudah mampu membuat saya membeli tiket premier film ini. Meski pada gilirannya, tak banyak aspek soal merantau yang dituturkan di dalamnya.
Ya, film ini memang jenis drama-aksi, dengan aksi yang menjadi spotlight. Tidak perlu banyak persoalkan ceritanya yang sederhana. Sebab inti film ini, seperti yang diutarakan oleh Ario Sagantoro (produser) dan Gareth Evans (sutradara), ingin ikut mempromosikan salah satu bela diri khas nusantara; Silat.
Dan begitulah. Sepanjang satu setengah jam lebih, kita disajikan adegan-adegan pemacu adrenalin yang menyegarkan. Segar, karena film ini keluar dari arus utama film Indonesia yang tengah marak dengan tema hantu, komedi, atau drama-cinta ala FTV (film televisi). Segar, karena tata-gerak dalam film ini tidak lagi ‘klise-Indonesia’. Mungkin karena ia disajikan oleh seorang maestro dan dikemas seorang ‘perantau’…
Moving Shadows
Andai anda mulai tertarik mendalami bela diri, kesampingkan perdebatan soal mana bela diri yang paling bagus, keren, hebat, terbaik. Sebab, sejatinya tidak ada (dan bukan maksud utamanya) bela diri yang lebih unggul dari yang lain. Yang ada adalah praktisi terbaik dan yang bukan. Kesungguhan yang menentukan. Meskipun adat dan silat (silek/sile’, dalam bahasa minang) yang dipertontonkan Yuda dalam film ini ‘bermazhab’ Silat Harimau dan dibimbing langsung oleh Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam (dipanggil Datuk Edwel), Iko sejatinya anak betawi asli.
Keprigelan silatnya ia dapat dari Perguruan Silat Tiga Berantai, Jakarta, berguru bertahun-tahun di bawah asuhan almarhum Haji Ahmad Bunawar (beliau wafat awal tahun ini). Ketika Gareth Evans membuat dokumentasi film tentang pencak silat di tahun 2007 (kemudian diberi judul ‘Land of Moving Shadows’), Gareth kepincut dengan talenta dan kharisma alami Iko di depan kamera.
Sopir truk dan pemain gelandang di sebuah tim sepakbola liga sekunder Indonesia itu pun dikontrak oleh Gareth dan perusahaan produksinya selama lima tahun, untuk membuat beberapa produksi/karya lagi. Sekedar catatan, kolaborasi keduanya kini sudah menelurkan beberapa karya sukses lainnya. Setelah ‘Merantau’, ada ‘Serbuan Maut/The raid‘ di tahun 2012.
Tahun ini, Iko juga terlibat dalam salah satu sinema produksi hollywood bersama Keanu Reeves, ‘Man of Tai Chi‘. Tahun depan, kita bisa memirsa lagi kombinasi Gareth, Iko, bahkan Yayan Ruhian yang mencuri perhatian di ‘The Raid‘, dalam karya mereka yang katanya akan ditajuki; ‘Berandal/The Raid; Retaliation‘.
Menonton Iko lagi barangkali akan membuat anda ingin ‘bergerak’… 🙂
Narator/Christine Hakim: [opening line] Dalam tradisi minangkabau, setiap anak laki-laki suatu hari akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang akan membuatnya menjadi lelaki sejati… Alam semesta akan jadi guru pembimbing… (Merantau, 2009)
