Aku diminta untuk menulis. Apa saja. Untuk membayar yang seharusnya.
Lalu tibalah imaji tentang sebuah kali. Letaknya di belakang rumah. Tempat mandi, cuci kaki, baju, dan buang hajat juga. Merobek kaki-kaki dengan beling gelas, piring, mangkuk pecah atau apa saja yang tajam dan berserakan bersama lumpur-lumpur keruh dan muda. Bebek sering berenang di sana. Membasuh lehernya seperti putri yang hendak bertemu pangeran. Tak peduli ada eceng gondok atau tidak.
Ada ikan betik, sepat, keting, gabus, lele, dan sebagainya. Yang kadang menunggu seseorang untuk memberi mereka makan via kail yang tajam. Atau gerombolan yang me-nawu–dengan atau tanpa potas–hingga dasar dan memporak-porandakan istana mereka. Merampas hak hidup hampir mereka semua. Membuat dasar kali tambah keruh dan menyamarkan beling-beling yang menyambut darah. Atau prajurit keting yang lalu bersiap menyengat dengan sungutnya.
Kau bisa berdarah juga karenanya, jangan salah.
Tapi biarlah. Bergembiralah. Semua toh bahagia dengannya. Semua berpesta di rumah setelahnya. Semua suka ikan–yang digoreng, diasap, atau digulai.
Jangan lupakan udang-udang tua, katanya. Kesenanganmu. Yang dibakar anak-anak di ujung lidi dengan unggun kecil untuk menambah gizi mereka. Sebab tak semua musim menyediakan belut serta keong-keong. Sedangkan udang, setidaknya yang kurus, tetap selalu bisa ditemukan meski bersembunyi di balik batu-batu.
Sungai kecil itu hanyalah gerbang untuk Continue reading