Sebagai fenomena hiper-realitas, sepakbola sudah lazim menjadi tidak sekedar olahraga atau tontonan 22 orang berebut 1 bola di lapangan. Melampaui itu, sepakbola bagi sebagian besar orang, terutama penggemarnya, sudah menjadi bagian hidup tak terpisahkan. Yang setiap hari menjadi update yang tidak terlewatkan. Menjadi materi obrolan, bahan perkenalan, atau sumber pertikaian. Menjadi sumber kegembiraan dan sebaliknya. Ada bahkan yang menjadikannya agama dan mengangkat salah satu legendanya sebagai Nabi.
Saya hanya merasa beruntung bisa menyukai olahraga ini…
DRAMA
Saya merasa beruntung. Saya berada pada masa bagaimana sepakbola seperti tak pernah berhenti menjadi sumber kesenangan, keindahan, hingga ilham. Saya beruntung ikut tumbuh dan menikmati metamorphosis seniman-seniman lapangan di era ini. Menonton bagaimana mereka melukis, menari, berlaga di banyak pertandingan dengan magnet yang selalu membetot kekaguman para penikmatnya. Melihat bagaimana sebuah pertandingan yang juga berarti perjuangan dengan lekuk dan pulasannya untuk memperebutkan tidak hanya sekedar gelar, tapi juga ambisi, obsesi, harga diri, dan gengsi yang turut berkelindan di dalamnya. Menyaksikan bagaimana rekor-rekor terpecah. Dan keajaiban seperti benar-benar tercipta sampai sulit kita mempercayai indra penglihatan kita lagi karenanya. Semuanya tidak jarang berada dalam interval menit, detik bahkan milidetik…
Catatan ini tentu saja terilhami dari pertandingan terakhir salah satu liga terbaik di eropa, atau mungkin tidak perlu ada debat meski banyak yang menyebutnya salah satu yang terbaik di dunia. Liga inggris hari ini (13/5) menuntaskan musim 2011-2012. Pertarungan klub yang bertetangga satu kota meraih gelar. Dramatis.
Dalam jeda 2 menit akhir yang menentukan, Manchester United (MU) harus rela mengoper gelarnya ke ‘tetangga-yang-berisik’ (the noisy neighbor), Manchester City (City), dan mesti menahan hasrat satu musim lagi demi meraih gelar liganya yang ke-20. Siapapun yang menyaksikan kedua pertandingan itu—mungkin dengan teknik yang sama seperti saya: berpindah-pindah channel untuk update—sempat yakin bahwa MU pasti juara ketika di injury-time, MU meraup 3 poin dari kemenangan atas tuan rumah Sunderland. Sementara City masih harus menambah 1 gol lagi di menit yang tersisa (dimana sungguh bukan usaha yang mudah dan menyenangkan).
Ketika fans MU, termasuk Sir Alex Ferguson sudah siap melompat merayakan raihan gelar liga, Kun Aguero membobol gawang QPR yang menasbihkan gelar juara liga untuk City. Panantian panjang bagi City, 44 tahun, berakhir. Tangis yang terlanjur luruh karena putus asanya pemain dan fans City menembus gawang QPR selama hampir 90 menit, menderas. Namun, kini alasannya sudah berubah. Ini air mata juara, air mata penantian sekian lama, air mata untuk menangkis pandangan miring dan mungkin cemooh bagi siapapun yang menganggap City tak layak juara–hanya karena City sukses dengan menggelontorkan jumlah uang yang banyak demi membeli pemain-pemain bagus.
Kurang lebih 13 tahun yang lalu, juga dalam 2 menit yang mengubah segalanya di Barcelona, MU pernah merasakan manisnya juara dari hasil ikhtiar pantang menyerah. Momen tak terlupakan itu kita ingat bersama terjadi di final Liga Champions Eropa melawan Bayern Munchen. Saya masih ingat bagaimana ekspresi tak-percaya-dengan-mulut-menganga Lothar Mattheus di pinggir lapangan menyaksikan MU membalikkan keadaan dengan membobol gawang Munchen 2 kali dalam 2 menit terakhir. Mattheus yang kadung ditarik pelatih di menit-menit akhir dengan maksud mengulur waktu pasti ingin memutar lini masa. Memohon kepada pelatih untuk tak menariknya keluar supaya dia bisa terus mengawal garis pertahanan Munchen hingga peluit panjang tanda akhir pertandingan ditiup.
Dua ‘drama 2 menit’ yang dialami MU dengan nuansa yang berbeda. Itulah bundarnya sepakbola…
Moment dramatis dalam sepakbola seperti ini rasanya beberapa kali saya alami dalam berbagai perhelatan dan laga. Yang pertama kali saya ingat jelas adalah Piala Dunia 1998. Zinedine Zidane dan Sang Tuan Rumah Perancis praktis menjungkirbalikkan perkiraan mayoritas umat sepakbola dunia yang percaya penuh pada Brasil dan Bintangnya: pesepakbola terbaik sejagat, Ronaldo Luiz Nazario De Lima.
Selang 4 tahun kemudian, Ronaldo yang mulai buncit dan selalu dicibir karenanya, memaksa penggemar maupun peminat sepakbola menarik kembali sumpah serapahnya. Sepasang lesakan gol ke gawang Oliver Kahn menyihir semua mata yang menyaksikan Final Piala Dunia yang pertama kalinya dihela di Asia itu. Brasil menjadi juara dunia lagi dengan imbuhan gaya rambut panjul Ronaldo yang ikut mendunia setelahnya.
Drama ‘Si Tambun Ronaldo’ tidak berhenti. Seakan tidak cukup 3 gelar pemain terbaik dunia, ia mengukuhkannya dengan menjadi top-scorer piala dunia sepanjang masa. Instingnya masih lebih perkasa dari tubuhnya yang tambun. Membuat kita ikhlas memberikan applause tinggi ketika ia menyatakan pensiun tahun awal 2011 lalu.
Dua kali kemenangan Yunani atas Portugal di Piala Eropa 2000 juga saya ingat secara khusus, terutama karena kemenangan terakhir menghantarkan mereka jadi kampiun eropa. Italia menambah koleksi piala dunianya menjadi 4 pada tahun 2006 diantara tekanan dan tudingan penyelenggaraan liga di negaranya yang tidak kredibel. Juventus yang menjadi ‘juara-tak-terkalahkan’ di Serie A tahun ini walau sebelumnya mereka harus terjun turun satu kasta ke Serie B. Tumbuh-kembangnya sepakbola tiki-taka Barcelona yang bikin frustasi banyak klub karena membuat mereka jarang mendapatkan bola ketika menghadapi pasukan catalan itu. Di tahun 2008-2009, Barca merebut semua piala yang mungkin mereka dapatkan. Tak menyisakan satupun bagi siapapun lawan yang mereka hadapi.
Memori saya mungkin tidak cukup menceritakan semua momen heroik dan drama sepakbola paling mendebarkan yang pernah saya saksikan dan alami. Di tingkat dunia ataupun level nasional. Tapi, residunya terkumpul dalam benak kecil saya. Anda boleh sebutkan satu moment bersejarah atau berkesan menurut anda, saya mungkin akan antusias melakukan hal yang tidak penting; menambah-nambahkannya dengan berbagai komentar supaya terasa lebih dramatis… 🙂
SENI
Saya menyukai Ronaldo, setelah saya sebelumnya mengidolakan Michael Owen, pencetak gol terindah di Piala Dunia setelah gol Maradona. Keduanya menjadi pilar kokoh gerbang keajaiban sepakbola yang pelan-pelan selalu membentuk fantasi dalam benak saya ketika bermain bola. Keberuntungan saya tidak berhenti di depan gerbang itu. Ada Ronaldinho, Zidane, Kaka, berjajar paling depan di antara seniman-seniman sejati lapangan hijau yang hampir selalu membuat kita tak berhenti berdecak takjub. Zidane seakan menegaskan betapa berartinya pengatur serangan. Ronaldinho membuat kita sadar kesenangan dan hiburan juga berlaku di tingkat yang sangat kompetitif dan anda boleh menampilkan seluruh keprigelan anda di segala panggung pertandingan. Kaka membawa dimensi baru sepakbola modern yang berdampingan dengan religiusitas.
Belum habis era mereka, sudah nampak Christiano Ronaldo (CR7) dan kemudian Leo Messi yang seakan ditakdirkan untuk meruntuhkan limit dari sepakbola selama ini. Buat saya keduanya adalah ikon keberanian bermimpi, kerja keras, kegigihan, dan kegembiraan.
Bagi Messi dan CR7, rekor yang sudah bertahan bertahun-tahun memang ada untuk dipecahkan. Melihat mereka bermain di lapangan 110 kali 65 meter persegi tak ubah layaknya bermain futsal. Lapangan mengkerut karena mereka dapat menjangkau kedua ujungnya dengan cepat. Berat dan ukuran bola sepak seakan jauh lebih ringan dan mudah dikontrol. Dalam satu pertandingan, jamak rasanya menyaksikan selalu ada gol. Tidak hanya 1, tapi 2, 3, 4, hingga lima dan seterusnya meski dalam pertandingan resmi di level sepakbola tertinggi.
Dalam 4 tahun terakhir, keduanya mendominasi tajuk dunia sepakbola. Tentu saja dengan segala aksi dan capaiannya. Mungkin tidak banyak yang menduga CR7 mampu melewati rekornya sendiri yang dibuatnya tahun lalu di La Liga dengan 41 Gol. Namun, ternyata ia berhasil. Belum lepas rasa takjub, Messi kemudian melewati CR7 dan sampai hari sudah mengarungi 50 gol di La Liga dan 72 gol secara keseluruhan dalam satu musim di dunia. Sebelumnya rekor itu erat dipegang Gerd Muller selama lebih dari 2 dekade. Dan harap catat, sampai tulisan ini di-publish, mereka masih belum berhenti. Artinya kita pun belum boleh stop mengumbar ketakjuban.
Lebih dari sekedar torehan rekor, adalah juga menyenangkan menyaksikan bagaimana cara mereka mengukirnya. Dengan bakat, teknik-teknik baru, kerjasama dengan rekan satu tim, dan antusiasme serta ‘rasa lapar’ dari musim ke musim yang semakin besar. Sepakbola mempertontonkan magisnya melalui sentuhan mereka.
Saya tak bisa merasakan langsung atmosfer sesama penggemar sepakbola ketika menonton Pele atau Maradona. Meski saya tetap percaya mereka tak kalah hebat, tapi rasanya intensitas sepakbola saat ini jauh lebih tinggi. Hingga ia memerlukan kemampuan yang tentu juga lebih tinggi untuk menjadi yang terbaik di dunia.
Setiap orang boleh bilang, masing-masing bintang adalah yang terbaik pada masanya. Tapi, saya tetap merasa lebih beruntung memiliki waktu untuk tumbuh bersama Owen, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka, CR7, dan Messi. Ya, mereka semua memang berposisi forward. Sama seperti posisi saya ketika bermain bola. Sah-sah saja andai anda juga punya pemain favorit versi anda sendiri… 🙂