Monthly Archives: September 2011

Pemuda

Saya orang biasa yang masih muda. Jadi, boleh dibilang saya pemuda biasa. Pemuda biasa, biasanya, jadi masalah ketimbang penyejuk bagi masyarakat. Kami punya vitalitas dan potensi, tapi lebih suka menganggap hidup ini masih panjang bahkan selamanya. Jadi, buat apa dijalani dengan sok-sibuk. Santai saja. Kalem.

Berulangkali kami kena tegur sampai dimarahi oleh orang cerdik-pandai. Baik yang betulan maupun yang berpura-pura cerdik dan pandai. Katanya kami menyia-nyiakan hidup. Padahal kami ini sangat menikmati hidup lho; santai, tidak mudah depresi karena cita-citanya tidak tercapai (karena meski sesekali kami berkenan menyebut cita-cita jika ditanya, kami jarang punya ambisi), dan yang penting tidak menggangu.

Sesekali kami memang mementaskan konser terbatas. Tapi, kalau nyanyian kami dianggap mengganggu, ya kami kecilkan sedikit volume-nya: volume vocal, volume 2 backing-vocal, volume gitar, volume galon kemasan air mineral, dan volume tepukan tangan. Atau, ini yang jarang kami lakukan, kami pindah tempat.

Kalau ada komplain lagi, ya kami respon lagi dengan dua cara itu. Kami bukan kalangan anarkis atau fundamentalis. Kami santai. Damai.

**

Pada sebuah momen kami ditegur oleh sang cerdik-pandai, kami ditantang berkelahi. “Daripada kalian bengong dan tidur-tiduran terus seperti itu, ayo kita adu jurus,” Katanya sambil pasang kuda-kuda.

Walaupun perbandingannya 6:1, kami sadar betul adalah bunuh diri jika berani melawan dia. Meski kami 6 pemuda dan dia seorang diri, kami pemuda biasa sedang dia cerdik-pandai. Dan orang cerdik-pandai ini giat juga merawat keuletan dan kegesitan tubuhnya. Namanya juga cerdik-pandai, bukan orang biasa.

Jadi, kami cengengesan saja. Mengkeret dan terkepung, sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi.

Dia akhirnya maju mendekat. Lalu mengemplang kepala kami satu-satu. Saya kaget, meski saya pemuda biasa, saya tahu kepala adalah simbol kehormatan. Sangat tidak menghargai sekali. Saya mau protes, tapi urung. Rasanya kemplangan itu pantas saja kami terima. Masih mending cuma dikemplang bahkan. Kalau ditonjok, saya mungkin bakal makan via selang infus.

Kami dihukumnya. Satu persatu diminta untuk melepas baju dan celana. Tentu saja baju dan celana yang kami pakai masing-masing. Teman saya yang sama biasanya, kali ini berani bersuara protes. “Pak, janganlah kami dibugili seperti ini. Bagaimana kalau dilihat sama orang kampung, kawan-kawan sebaya, adik-adik dan kakak-kakak kami, teman-teman gadis kami yang biasa. Aurat, Pak. Apa kata Dunia?” Maksudnya protes, tapi suaranya hampir tak terdengar. Ternyata nyalinya memang biasa-biasa saja. Beda tipis saja dari kami.

Cerdik-pandai tersenyum. “Punya juga kalian rasa malu rupanya. Ya, sudah lepas bajumu saja. Celana tetap kalian pakai,” Bijaknya. Kami bernafas lega. Satu teman saya yang sudah terlanjur melepas celananya mendesah kecewa.

Hukuman penggantinya ternyata lebih mengerikan bagi kami para pemuda biasa: Kami diminta berorasi di pinggir jalan, dekat dengan tempat kami biasa nongkrong. Temanya tentang sumpah pemuda. Ampun, mentang-mentang hari itu pas tanggal 10 Nopember.

Jangan berharap keajaiban. Alih-alih membangkitkan semangat, semua orasi-setengah-hati yang kami pertunjukkan benar-benar menghilangkan harapan kepada para pemuda. Siapapun yang kebetulan lewat melihat kami teriak-teriak tidak jelas, pasti berdo’a agar tak satupun diantara kami ada hubungan darah dengannya. Hopeless.

Cerdik-pandai sudah sedari tadi tertunduk menutupi mukanya. Kenapa dia malu? Yang dipermalukan kan, kami.

“Kalian, baris sini.” Cerdik-pandai memberi instruksi. Kami berbaris menghadapnya, hanya mengenakan celana, dan harga diri yang betul-betul telanjang. Lalu mulailah dia berbicara. Terdengar seperti bersenandung, karena rima, intonasi, dan penekanan kata-nya sungguh melodik.

“Secara pribadi, saya masih percaya dan berharap pada potensi kaum muda, kelompok dalam masyarakat yang kerap digelari aktor perubahan. Namun, harapan itu tidak ingin saya berikan sebagai cek kosong. Sejumlah catatan mengiringi peran pemuda. Berikut diuraikan secara singkat dalam urutan yang tidak bermakna prioritas. Maksud saya, yang pertama bukan berarti lebih penting dari yang kedua dan seterusnya.”

“Pertama, kaum muda harus senantiasa mengisi dan memperbaharui amunisinya. Ide, nilai, serta kreasi kaum muda harus senatiasa diasah. Koalisi dengan intelektual yang konsisten bisa menjadi salah satu platform gerakan kaum muda yang harus dipertahankan.”

“Kedua, menjaga independensi. Banyak gerakan muda yang gembos di tengah jalan akibat tidak kuat menjaga independensi. Independen di sini berarti hanya terikat pada kepentingan untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Bukan ikatan emosional, materil, kesukuan, dan lain sebagainya.”

“Ketiga, mengedepankan kesatuan. Berbeda dalam pemikiran dan metode perjuangan tidak perlu tidak perlu menjadi persoalan utama selama tujuan yang ingin dicapai tetap sama. Daripada sibuk merendahkan pemikiran atau metode perjuangan kelompok lain, lebih baik giat menajamkan metode sendiri. Ini lebih produktif, karena akan muncul berbagai metode-metode canggih yang lebih efektif-efisien dan pada gilirannya akan lebih banyak membawa maslahat kepada masyarakat banyak.”

“Keempat, membumi. Kaum muda yang berjuang untuk masyarakat wajib mengenal masyarakat yang diperjuangkan. Tidak hanya mengenal, tapi juga berusaha memahami dengan melibatkan diri atau mengajak masyarakat aktif berpartisipasi. Andai yang terakhir ini dikesampingkan, kepada siapa lagi masyarakat akan menaruh kepercayaannya?”

Garuk-garuk. Cerdik-pandai ini bicara apa, ya? Rasanya omongannya tadi bukan omongan orang biasa seperti kami…

Candu Yuda

Banyak yang mengatakan, ini salah satu film perang terbaik. Enam trofi Oscar, termasuk untuk film terbaik, cukup mengukuhkan pendapat itu. Hurt Locker mengungguli film fenomenal yang menjadi pesaing terberatnya di ajang Academy Awards tahun 2010; The Avatar.

Saya bukan peminat akut film perang, jadi ndak bisa banyak membandingkan. Tapi, saya sepakat film ini begitu intens dari awal sejak akhir. Karena intensitasnya yang tinggi, film ini memang menguras energi karena dari awal sampai akhir film kita diserap untuk terus tegang mengikuti petualangan William James (Jeremy Renner), JT Sanborn (Anthony Mackie), dan Owen Eldridge (Brian Geraghty) menjinakkan satu bom ke bom yang lain di tengah kepungan panas-nya Irak. Setiap saat bisa bermakna saat terakhir untuk mereka. Entah ikut meledak bersama bom, atau ditembak, ditikam, disambit oleh militan Irak yang tidak suka dengan keberadaan tentara asing (AS) di negerinya.

Katanya, ini film buat ditonton, bukan untuk dinikmati. Mungkin itu sebabnya, ketika saya promosikan film ini kepada salah satu teman, dengan bumbu bahwa ini film akan menggugah pandangan soal perang, teman saya yang tadinya antusias menonton malah tertidur ketika film belum sampai seperempat dari durasi 1,5 jam tayangnya. Yaaahh…

Tajuk

Seperti tontonan tentang perang lainnya, film ini juga memotret kekacauan, kegilaan, keganasan, dan–ya–betapa serunya perang. Sersan James adalah sosok yang kelihatannya justru menikmati derasnya adrenalin yang mengucur dari tubir malapetaka. Jika rekan-rekannya (Sanborn dan Eldridge) tidak melihat di mana menarik dan serunya perang, James malah ketagihan. Ia merasa lebih hidup justru ketika ia dekat dengan bahaya dan ancaman kematian.

Perlahan kita diajak untuk akhirnya memahami (versi kita masing-masing) mengapa James tidak memiliki perasaan seperti kedua rekannya yang lain; yang begitu takut dengan kematian karena ia bisa datang dari berbagai penjuru di Irak. Sementara James malah seperti mengajak kematian menari-nari dan bersenang-senang. Di satu titik, ketika ia mendapati kematian seorang bocah irak, James sepertinya mendapatkan pandangan baru soal perang dan kematian. Namun, pada gilirannya tidak bisa menghentikan James untuk kembali ke medan pertempuran dan bercengkerama kembali dengan peluru dan bom.

Kita bisa punya teori (juga versi kita masing-masing) mengapa James sampai mencandu perang. Ada yang bilang perang adalah pusat hidupnya, sehingga ketika ia jauh dari itu, semua kehidupannya menjadi kurang bernilai. Perang menjadi satu-satunya ia merasa benar-benar eksis. Peranglah yang menegaskan keberadaan dan fungsinya. Peranglah yang membuatnya mendapat apresiasi sekaligus konfidensi. Tidak dari atau di tempat yang lain.

Seperti kita yang mungkin menggemari main bola, naik gunung, menjadi reporter, menulis, atau menjadi ibu rumah tangga…

Puasa

Hurt-Locker‘ adalah istilah yang klasik di kalangan tentara sejak zaman perang vietnam buat menggambarkan situasi penuh rasa sakit dan penderitaan. Tidak hanya untuk situasi perang atau pertempuran. Sementara, tentara-tentara di Irak lazim memakainya sehari-hari untuk menunjuk ledakan yang tiap hari jadi santapan mereka dan mengatakannya sebagai “sending you to the hurt locker.

Film ini banyak mengambil lokasi di Yordania, tetangga Irak, dan berbarengan dengan bulan puasa. Sesuai hukum dan norma di Yordan, para kru yang memang mayoritas tidak menjalankan ibadah shaum itu, membangun tenda khusus yang dipakai untuk makan, minum, merorok, dan sebagainya. Masalahnya, jika mereka tertangkap oleh petugas setempat ‘tidak-berpuasa’ di tempat umum, petugas bisa menjebloskan mereka ke penjara.

Mungkin rasanya bukan seperti ‘hurt-locker‘, tapi tetap menyakitkan jika anda dipaksa melakukan hal yang tidak anda yakini…

Sergeant JT Sanborn: Another two inches, shrapnel zings by; slices my throat- I bleed out like a pig in the sand. Nobody’ll give a shit. I mean my parents- they care- but they don’t count, man. Who else? I don’t even have a son.

Staff Sergeant William James: Well, you’re gonna have plenty of time for that, amigo.

Sergeant JT Sanborn: Naw, man. I’m done. I want a son. I want a little boy, Will. I mean, how do you do it, you know? Take the risk?

Staff Sergeant William James: I don’t know. I guess I don’t think about it.