Monthly Archives: June 2011

Hitam dan Putih Alasan

Terus terang, saya bukan penggemar film-film klasik. Saya punya masalah stereotype soal film klasik.

Dalam bayangan saya, film klasik belum digarap dengan baik. Keasyikan nonton bisa terganggu karena kualitas gambar yang rendah, gerakan yang patah-patah, kaku, sudut pengambilan gambar yang monoton, set yang terlalu terlihat dibuat-buat (seperti latar yang dibuat dari stereofoam dalam komedi-komedi situasi yang sering kita lihat), efek yang kasar dan kurang variatif, dan sebagainya, dan seterusnya.

Film klasik yang menarik ditonton mungkin cuma film-film Charlie Chaplin, karena tidak butuh dicerap sedemikian rupa. Nikmati saja semua cela-nya sebagai bagian dari humor atau satire Chaplin (maaf, pikiran saya cuma sesempit itu). Tapi, kalau buat film klasik yang ‘serius’, saya belum pernah yakin apa akan bisa tenang menikmatinya.

Jadi, ketika ada dapat kesempatan buat nonton film ini, saya tidak terlalu antusias walaupun banyak yang bilang bagus. Malah kategori must-see .

Keraguan

Ini film klasik yang menggambarkan sistem peradilan anglo saxon yang dianut Amerika sekira 1950-an. Salah satu cirinya, keputusan terletak di tangan juri, bukan hakim. Dua belas (12) juri ditunjuk oleh pengadilan untuk menghakimi perkara pembunuhan. Setelah proses pembuktian tuntutan dan pembelaan di ruang pengadilan, juri diberikan waktu untuk memutuskan; apakah terdakwa–dalam film ini seorang anak imigran dari lingkungan slum (kumuh, rawan) yang dituduh membunuh ayahnya–dikenakan hukuman mati atau bebas.

Inti cerita ini terletak pada konsep reasonable doubt (keraguan yang beralasan). Sebelas dari 12 orang juri ini yakin bahwa si anak bersalah. Setelah seorang juri diantaranya mengutarakan ulang bukti-bukti selama proses peradilan, saya juga ikut punya pikiran sama. Ini perkara yang terang benderang, mudah untuk diputuskan.

Tapi, ada satu juri, juri nomor 8, yang punya pendapat berbeda. Bukan ia yakin bahwa si terdakwa tidak bersalah. Ia hanya masih ragu apa si anak itu bersalah. Juri nomor 8 meminta agar ia diyakinkan lagi, supaya keraguannya enyah dan keputusan pun bisa segera diambil dan diserahkan kepada hakim.

Cerita bergulir menarik, karena kemudian keraguan juri nomor 8 juga mulai menumbuhkan keraguan pada juri yang lain.

Film ini masih hitam-putih. Setting pengambilan gambarnya pun mayoritas diambil di satu ruang: ruang juri. Tidak banyak maneuver kamera. Kebanyakan yang disorot wajah aktor-aktornya. Tidak ada ketegangan yang ditimbulkan seperti dari adegan-adegan di film aksi. Dialognya pun tidak secepat dalam adegan-adegan film yang dibuat Aaron Sorkin, misalnya. Bayangkan.

Tapi, saya takjub karena mampu bertahan selama satu setengah jam. Bahkan di beberapa adegan, saya malah ikutan emosi, geregetan, gemes. Rasanya pengin nyubit pakai kabel listrik.

Liberal

Namanya saja sudah film yang mengemukakan soal supremasi akal dibanding emosi, pesan utamanya mesti semua hal seharusnya didasari dengan alasan. Kita (tidak terkecuali siapapun) harus menggunakan akal kita sebelum memilih atau menyikapi sesuatu.

Beberapa pengulas membahas film ini sebagai bagian dari propaganda atau agenda liberal. Buat khalayak di amerika, ini pandangan yang jamak dikenal dan banyak dianut. Secara politik, dominan direpresentasikan oleh Partai Demokrat sejak dasawarsa 1960-an (meski kemudian saat ini faksi liberal maupun konservatif berkembang dalam berbagai spektrum di tiap partai).

Kaum liberal memang senantiasa mengkampanyekan keunggulan rasio dan logika. Dalam literatur filsafat Islam, kalangan ini sekilas mengingatkan saya kepada kaum Mu’tajilah. Arti lain liberal juga merujuk kepada para propaganda ekonomi kapitalisme. Dalam bidang sosial, banyak mendasari pemikiran individualisme.

Di seberangnya ada kaum konservatif yang ingin melestarikan nilai dan tradisi yang ada agar tetap mapan. Bagi kelompok yang ini, contohnya, mayoritas sudah seharusnya mengikuti orang orang-orang terpilih, yang telah diangkat menjadi wali, pemimpin, atau wakil, untuk memikirkan dan memutuskan untuk semuanya. Tidak semua orang digariskan untuk menjadi pemimpin. Dan ndak perlu lah semua orang nimbrung mikir. Mana belum tentu benar juga cara berpikirnya. Buang-buang waktu dan energi (bahkan biaya) saja.

Maaf, melebar kemana-mana…

Saya sendiri tidak terlalu dalam tahu soal agenda liberal, neo-liberal, atau agenda-agenda lainnya, kecuali buku agenda yang biasanya jadi tempat curhat (eeiiaaa…). Buat kapasitas memaparkan soal ideologi atau agenda dan narasi besar, anda pantas meragukannya. Keraguan itu beralasan kok. Tapi, saya kira ide untuk mengoptimalkan fungsi akal ini ada point-nya. Utamanya menengok psiko-sosial kita yang mudah sekali tersulut emosinya ini.

Meski dibuat di tahun 1950-an, dan sistem peradilan sudah banyak ada perubahan, pemikiran yang diusung film ini masih tetap relevan. Kita tahu, di Amerika sendiri dan negara-negara barat lainnya, sikap, kelakuan hingga kekerasan di luar nalar juga masih sering terjadi. Barangkali lantaran belum banyak film yang mengangkat tema serupa yang menyinggung dan menyampaikan pesan dengan sama baiknya, film ini masih masih jadi salah satu tontotan terbaik.

FYI, pada 1997 film ini dibuat versi FTV-nya dengan judul yang sama, dan katanya sama menariknya menurut beberapa kawan yang sudah nonton. Saya sih tidak terlalu terobsesi. Toh pesannya saya kira sudah saya dapat dari film aslinya. Saya mungkin akan coba mencari film klasik lainnya saja. Monggo kalau ada saran…

Juror #6: You think he’s not guilty, huh?

Juror #8: I don’t know. It’s POSSIBLE.

(12 Angry Men, 1957)

Tanggung Jawab Sosial Universitas

Jkt (5/6) – Sebagaimana berbagai kebijakan pendidikan nasional dan internasional yang bertujuan untuk membangun “Knowledge Societies“, universitas dihadapkan dengan tantangan untuk mendefinisikan kembali peran, misi dan tanggung jawabnya. Lebih dari sebelumnya, perguruan-perguruan tinggi perlu bergerak menuju artikulasi yang baru dan lebih jelas seputar strategi dan fungsi mereka. Universitas kini dituntut untuk berusaha menyeimbangkan antara akses dan kualitas pendidikan, serta antara output pendidikan dengan lingkungan, sosial maupun ekonomis. Kecenderungan ini telah menjadi lebih kompleks sejalan dengan pendidikan tinggi dan bidang penelitian yang saat ini lebih meng-internasional dan meng-global.

The Asia-Europe Foundation (ASEF) dan University of Innsbruck bekerjasama menyelenggarakan lokakarya pada tanggal 6 dan 7 Juni ini. Tema yang diusung adalah “Masyarakat Pengetahuan (Knowledge Societies): Universitas dan  Tanggung Jawab Sosial.” Program ini bertujuan untuk merangsang adanya refleksi pada upaya orientasi-ulang strategi  pendidikan tinggi serta seputar peran universitas. Lokakarya akan menampilkan studi kasus dan praktik terbaik yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk kerja sama lebih lanjut dalam komunitas pendidikan tinggi ASEM (Asia-Europe Meeting).

Duta Besar Nguyen Quoc Khanh, Wakil Direktur Eksekutif ASEF, akan menyambut para peserta untuk Lokakarya. Sementara Mag. Elmar Pichl, Kepala Kabinet kepada Menteri Ilmu Pengetahuan dan Penelitian dan Wakil Direktur Jenderal Departemen Penelitian dan Ilmu Pengetahuan Federal Austria, akan menyampaikan Keynote Speech.

Sejumlah  peserta terpilih dari berbagai sektor – pimpinan dan/atau staf universitas, para peneliti atau akademisi, pembuat kebijakan, praktisi bisnis dan media – akan mendiskusikan tanggung jawab sosial universitas dalam banyak wajahnya.

Satu-satunya peserta dari Indonesia, Zainal Muttaqin, mengatakan bahwa Indonesia akan dapat belajar banyak dari Lokakarya ASEF kali ini.

“Hasil dari kegiatan ini bisa menambah ilham untuk pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Apalagi saat ini Pemerintah dan DPR tengah menggodog RUU Pendidikan Tinggi,” ujar salah satu Tenaga Ahli Anggota DPR RI Komisi X periode 2009-2014, Hetifah Sjaifudian, ini.

Lokakarya Innsbruck adalah yang kedua dalam rangkaian Lokakarya Pendidikan Asia-Eropa. Asia-Europe Foundation (ASEF) menawarkan platform untuk mendiskusikan isu-isu pendidikan di jantung kedua benua. Hasilnya akan menjadi masukan pembahasan Konferensi Para Rektor pada ASEM ke-3 ‘(2012) 2 serta Asia-Europe Meeting ke-4 untuk Menteri-Menteri Pendidikan di tahun 2013. (red)

Tautan sumber: http://hetifah.com/artikel/tanggung-jawab-sosial-universitas-2nd-asia-europe-education-workshop-5-7-june-innsbruck-austria.html

Download Official Press-Release 2nd Asia-Europe Education Workshop