Terus terang, saya bukan penggemar film-film klasik. Saya punya masalah stereotype soal film klasik.
Dalam bayangan saya, film klasik belum digarap dengan baik. Keasyikan nonton bisa terganggu karena kualitas gambar yang rendah, gerakan yang patah-patah, kaku, sudut pengambilan gambar yang monoton, set yang terlalu terlihat dibuat-buat (seperti latar yang dibuat dari stereofoam dalam komedi-komedi situasi yang sering kita lihat), efek yang kasar dan kurang variatif, dan sebagainya, dan seterusnya.
Film klasik yang menarik ditonton mungkin cuma film-film Charlie Chaplin, karena tidak butuh dicerap sedemikian rupa. Nikmati saja semua cela-nya sebagai bagian dari humor atau satire Chaplin (maaf, pikiran saya cuma sesempit itu). Tapi, kalau buat film klasik yang ‘serius’, saya belum pernah yakin apa akan bisa tenang menikmatinya.
Jadi, ketika ada dapat kesempatan buat nonton film ini, saya tidak terlalu antusias walaupun banyak yang bilang bagus. Malah kategori must-see .
Keraguan
Ini film klasik yang menggambarkan sistem peradilan anglo saxon yang dianut Amerika sekira 1950-an. Salah satu cirinya, keputusan terletak di tangan juri, bukan hakim. Dua belas (12) juri ditunjuk oleh pengadilan untuk menghakimi perkara pembunuhan. Setelah proses pembuktian tuntutan dan pembelaan di ruang pengadilan, juri diberikan waktu untuk memutuskan; apakah terdakwa–dalam film ini seorang anak imigran dari lingkungan slum (kumuh, rawan) yang dituduh membunuh ayahnya–dikenakan hukuman mati atau bebas.
Inti cerita ini terletak pada konsep reasonable doubt (keraguan yang beralasan). Sebelas dari 12 orang juri ini yakin bahwa si anak bersalah. Setelah seorang juri diantaranya mengutarakan ulang bukti-bukti selama proses peradilan, saya juga ikut punya pikiran sama. Ini perkara yang terang benderang, mudah untuk diputuskan.
Tapi, ada satu juri, juri nomor 8, yang punya pendapat berbeda. Bukan ia yakin bahwa si terdakwa tidak bersalah. Ia hanya masih ragu apa si anak itu bersalah. Juri nomor 8 meminta agar ia diyakinkan lagi, supaya keraguannya enyah dan keputusan pun bisa segera diambil dan diserahkan kepada hakim.
Cerita bergulir menarik, karena kemudian keraguan juri nomor 8 juga mulai menumbuhkan keraguan pada juri yang lain.
Film ini masih hitam-putih. Setting pengambilan gambarnya pun mayoritas diambil di satu ruang: ruang juri. Tidak banyak maneuver kamera. Kebanyakan yang disorot wajah aktor-aktornya. Tidak ada ketegangan yang ditimbulkan seperti dari adegan-adegan di film aksi. Dialognya pun tidak secepat dalam adegan-adegan film yang dibuat Aaron Sorkin, misalnya. Bayangkan.
Tapi, saya takjub karena mampu bertahan selama satu setengah jam. Bahkan di beberapa adegan, saya malah ikutan emosi, geregetan, gemes. Rasanya pengin nyubit pakai kabel listrik.
Liberal
Namanya saja sudah film yang mengemukakan soal supremasi akal dibanding emosi, pesan utamanya mesti semua hal seharusnya didasari dengan alasan. Kita (tidak terkecuali siapapun) harus menggunakan akal kita sebelum memilih atau menyikapi sesuatu.
Beberapa pengulas membahas film ini sebagai bagian dari propaganda atau agenda liberal. Buat khalayak di amerika, ini pandangan yang jamak dikenal dan banyak dianut. Secara politik, dominan direpresentasikan oleh Partai Demokrat sejak dasawarsa 1960-an (meski kemudian saat ini faksi liberal maupun konservatif berkembang dalam berbagai spektrum di tiap partai).
Kaum liberal memang senantiasa mengkampanyekan keunggulan rasio dan logika. Dalam literatur filsafat Islam, kalangan ini sekilas mengingatkan saya kepada kaum Mu’tajilah. Arti lain liberal juga merujuk kepada para propaganda ekonomi kapitalisme. Dalam bidang sosial, banyak mendasari pemikiran individualisme.
Di seberangnya ada kaum konservatif yang ingin melestarikan nilai dan tradisi yang ada agar tetap mapan. Bagi kelompok yang ini, contohnya, mayoritas sudah seharusnya mengikuti orang orang-orang terpilih, yang telah diangkat menjadi wali, pemimpin, atau wakil, untuk memikirkan dan memutuskan untuk semuanya. Tidak semua orang digariskan untuk menjadi pemimpin. Dan ndak perlu lah semua orang nimbrung mikir. Mana belum tentu benar juga cara berpikirnya. Buang-buang waktu dan energi (bahkan biaya) saja.
Maaf, melebar kemana-mana…
Saya sendiri tidak terlalu dalam tahu soal agenda liberal, neo-liberal, atau agenda-agenda lainnya, kecuali buku agenda yang biasanya jadi tempat curhat (eeiiaaa…). Buat kapasitas memaparkan soal ideologi atau agenda dan narasi besar, anda pantas meragukannya. Keraguan itu beralasan kok. Tapi, saya kira ide untuk mengoptimalkan fungsi akal ini ada point-nya. Utamanya menengok psiko-sosial kita yang mudah sekali tersulut emosinya ini.
Meski dibuat di tahun 1950-an, dan sistem peradilan sudah banyak ada perubahan, pemikiran yang diusung film ini masih tetap relevan. Kita tahu, di Amerika sendiri dan negara-negara barat lainnya, sikap, kelakuan hingga kekerasan di luar nalar juga masih sering terjadi. Barangkali lantaran belum banyak film yang mengangkat tema serupa yang menyinggung dan menyampaikan pesan dengan sama baiknya, film ini masih masih jadi salah satu tontotan terbaik.
FYI, pada 1997 film ini dibuat versi FTV-nya dengan judul yang sama, dan katanya sama menariknya menurut beberapa kawan yang sudah nonton. Saya sih tidak terlalu terobsesi. Toh pesannya saya kira sudah saya dapat dari film aslinya. Saya mungkin akan coba mencari film klasik lainnya saja. Monggo kalau ada saran…
Juror #6: You think he’s not guilty, huh?
Juror #8: I don’t know. It’s POSSIBLE.
(12 Angry Men, 1957)