Monthly Archives: May 2011

Berkilah Dengan Indah

Aha, film yang satu ini menolong saya memenangi lomba debat di kampus dulu (hehe…pongah). Itu hal yang paling saya ingat dari ‘Thank You for Smoking‘ sampai sekarang.

Bukan, bukan menjadikan saya pintar seketika. Tapi, sinema yang pertama kali diputar tahun 2005 ini mengajarkan metode pragmatis dalam beradu dan memenangkan argumen. Tagline terkenalnya; “If you argue correctly, you’re never wrong. That’s the beauty of argument“.

Selain itu, saya mengenal satu profesi lain yang sama vitalnya dalam dunia industri; Pelobi (Lobbyist). Tidak saja dalam dunia politik, pelobi bidang industri juga membawa misi untuk memperjuangkan dan memenangkan terget perusahaan, yakni mempertahankan keuntungan atau membukit profit.

Spesial untuk pelobi industri rokok, anda harus berjuang menghadapi berbagai terjangan. Dari kecaman para ahli kesehatan, serangan para aktivis anti-rokok, kepungan kepentingan para politisi dan media, dan bahkan yang mungkin paling berat; nurani anda sendiri.

Harus. Karena anda berposisi membela industri yang membunuh rata-rata 1.200 orang per hari. Kalikan saja berapa jumlahnya dalam sebulan, setahun, sewindu. Jauh mengalahkan raja-raja yang membantai ratusan ribu rakyat atau penduduk jajahannya. Dan sementara para penguasa lalim itu telah berhenti meminta korban, rokok terus mencerabut hidup sampai hari ini..

Filter

Layaknya yang diucapkan oleh Nick Naylor (Aaron Eckhart), tugasnya adalah mengendalikan opini publik. Dalam dunia media dan politik, gelar yang disematkan padanya adalah spin-control, atau spin-master. Ketika industri rokok dihajar habis-habisan dari segala aspek kesehatan oleh para ahli medis, serta kampanye massif para aktivis yang muncul di berbagai media arus utama (yang mau tidak mau harus memuatnya, karena cuci tangan maupun tidak ingin dicap sebagai bagian dari lingkaran pembunuh), Nick maju.

Berbekal keahlian silat lidah serta personanya, ia meredam serta meredakan isu. Ia menarik kembali minat dan bahkan simpati para pemula, ‘swing-voters’, para perokok yang selama ini menjadi pelanggan setia mereka, hingga calon perokok yang ingin bertambah yakin bahwa merokok itu keren.

Dengan begitu, industri tempatnya bekerja akan tetap berproduksi dan meraup keuntungan. Dan Nick? Tentu saja ia akan mendapat kenaikan gaji serta bonus tahunan yang besar. Lebih dari cukup untuk mulai membeli atau membuka kredit kepemilikan properti, kendaraan mewah, emas permata, atau harta lainnya. Mungkin dia juga akan berterima kasih kepada anda karena tetap me(beli)rokok.

We are sulthan of our life, Son…

Kalau ditanya, kenapa Nick mau membela kepentingan kapital yang merusak dan mengambil kehidupan banyak orang hanya demi mengejar materi? Jawabannya; setiap pihak layak mendapatkan hak untuk membela diri atau mendapatkan pembelaan. Setiap orang juga berhak memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk hidupnya menurut dirinya sendiri. Nick pun berkilah, bahwa ia sama sekali tidak berbohong atau menyembunyikan kebenaran. Ia hanya ‘menyaringnya’.

Saya kira, argumennya itu masuk akal. Tentu saja kalau kita cuma bicara soal hak asasi secara umum, bukan ancaman kesehatan akibat merokok.

Sekali lagi, itulah seni argumen. Kita tidak akan pernah salah, jika kita berargumen dengan benar. Dengan memahami prinsip (beragumen) itu, gelar best-speaker di ajang lomba debat kampus pun sukses saya gaet…

Hehe, sombong.

Lentur

Lalu, kembali ke soal film, apakah Nick tidak pernah merasakan konflik bathin? Tentu saja iya. Nick juga pada dasarnya percaya soal bahaya rokok. Tapi, karena pekerjaannya membela rokok, ia perlu menjadi yakin bahwa rokok itu tidak berbahaya agar ia bisa meyakinkan juga banyak orang bahwa rokok tidak berbahaya.

Untuk itu, kata Nick, “My job requires a certain moral flexibility.” Kelenturan moral. Dimana suatu waktu apa yang amoral bisa menjadi diterima, asalkan dengan ‘konteks-konteks tertentu’.

Tugas Nick adalah menghadirkan konteks-konteks tertentu itu agar perdebatan soal moral versus tidak bermoral bisa jadi tidak lagi relevan dihadapkan dengan kepentingan manusia paling primitif, misalnya.

Apa yang menarik buat saya dalam film yang diangkat dari novel dengan tajuk serupa ini adalah adegan obrolan antara bapak-anak. Antara Nick dan Joey (Cameron Bright). Tantangan besar Nick dalam film ini, sebagaimana ayah manapun di dunia, adalah menjadi teladan dan idola bagi anak satu-satunya yang berusia 12 tahun.

Nick harus meyakinkan Joey bahwa pekerjaan ayahnya sama prestisiusnya dengan profesi dokter, tentara, pejabat negara, atlit dunia, pilot, dan semacamnya. Dan Nick juga harus membuat Joey percaya bahwa suara-suara orang di sekitar Joey–termasuk ibunya, mantan istri Nick–yang mengatakan bahwa pekerjaan ayahnya sangat tidak normal dan bahkan berbahaya bagi Joey, adalah tidak benar.

Apakah Nick berhasil meyakinkan Joey?

Pilihan dan Konsekuensi?

Sang dalang, Jason Reitman, secara amat sadar memilih untuk tidak menampilkan adegan merokok dalam filmya ini. Amati saja, tidak ada satu pun aktornya merokok.

Kalau ada, itu pun diambil dari potongan film lain dan tidak tuntas. Atau sekedar adegan sedang ‘mengemut’ cerutu (yang tidak dinyalakan).

Reitman melakukan itu bukan karena ia mendukung kampanye anti-rokok atau sebaliknya. Ia hanya mengatakan; “Aku ingin lihat kenapa kita selalu merasa perlu memberitahu orang lain bagaimana seharusnya hidup harus dijalani. Juga, mengapa kita tidak bisa bertanggung jawab secara pribadi atas keputusan atau tindakan saat kita jatuh sakit karena sesuatu yang sudah kita tahu bahayanya.”

Singkat kata–seperti misi Nick kepada Joey yang agaknya berhasil diserap dengan baik oleh anaknya itu–Reitman ingin agar kita juga memahami soal pilihan dan tanggung jawab pribadi, termasuk konsekuensi yang harus kita jalani.

Termasuk soal pilihan merokok…

Lorne Lutch: You look like a nice enough fella. What are you doing working for these assholes?

Nick Naylor: I’m good at it. Better at doing this than I ever was at doing anything else.

Lorne Lutch: Aw, hell, son. I was good at shooting VC. I didn’t make it my career.

(Thank You for Smoking, 2005)