“Buon giorno, Principessa!” Tiba-tiba kalimat itu menjadi hits di antara saya dan kawan-kawan kampus selepas memirsa sinema ini. Begitu berkesannya, sampai-sampai film yang di negeri asalnya, Italia, dirilis tahun 1997 ini kami simpan sebagai koleksi. Tentu saja dengan mengopi CD yang kami sewa dan menyalinnya di hard-drive komputer (ketahuan sekali zaman apa saya kuliah)…
Saya yang belum paham apa-apa soal antisemit, holocaust, fasisme, hingga nazi dan keunggulan bangsa arya, polos mengartikan film dengan diberi judul asli “La vita e bella” ini sebagai drama-komedi dalam situasi perang. Tentu saja drama-komedi yang bagus, menyentuh, dan inspiratif. Betapa tidak, seorang pria sekaligus ayah dengan segala kharisma dan rasa humornya berjuang mendapatkan serta melindungi cinta dalam hidupnya–istri dan anak laki-laki tersayang–agar mampu melewati masa-masa mengerikan dalam situasi perang dan pembantaian.
Ditulis dan digambarkan dengan sangat baik, hingga wajar apabila film ini memenangi 3 (tiga) Oscar dari 7 Nominasi di tahun 1999. Termasuk kategori aktor terbaik untuk Roberto Benigni.
Hadiah
Narasi menjadi pembuka film. Giosue Orefice (Giorgio Cantarini) dewasa bertutur sebagai narator. “Ini cerita sederhana. Tapi bukan yang gampang diceritakan,” Ujarnya.
Mengapa? Sebab, bisa jadi ia hanya ingin bercerita soal masa kecilnya–sama seperti semua orang punya. Masa kecil yang dirasanya seperti sedang melakoni permainan kolosal bersama dengan ayah, ibu, dan banyak pemain lainnya–mirip dengan yang sebagian besar orang juga miliki. Atau ia cuma ingin membagi kisah soal ayahnya, yang begitu ia idolakan. Simpel, hampir semua orang punya cerita yang sama.
Namun, setelah dewasa dan lebih paham, ia kemudian menyadari bahwa, “Ini soal pengorbanan yang ayahku buat. Ini adalah hadiahnya untukku…”, dan bagian ini tentu saja tidak mudah diceritakan.
Giosue (dalam versi amerika; Joshua), adalah putra dari Guido (Roberto Benigni) dan Dora (Nicoletta Braschi). Guido adalah seorang laki-laki italia dengan persona unik dan punya pikiran positif untuk nyaris semua hal. Wataknya yang seperti itu membawanya bertemu dengan Dora. Dan dengan modal karakter itu pula, ia bisa meyakinkan Dora untuk menikah dengannya.
Ketika rejim nazi diceritakan memulai pembasmian bangsa yahudi, Guido ikut ditangkap. Begitu juga Joshua. Dora, karena cintanya, meski ia bukan yahudi ia rela menyusul suami dan anaknya ke kamp pembantaian. Nah, di sinilah sebagian besar cerita memakan durasi film sepanjang hampir 2 jam ini. Bagaimana Guido tetap menanamkan harapan pada Dora, dan melindungi psikis Joshua dari keganasan pembantaian etnis dan perang selama di kamp. Bagaimana Guido, dengan segala kesadarannya tentang situasi yang tengah berlangsung, ingin agar istri dan anaknya tetap yakin bahwa; hidup ini indah jika kita memilih untuk berupaya menjalaninya dengan indah…
Positif
Banyak kritik soal isu holocaust yang diangkat dalam film ini. Apalagi Roberto Benigni, aktor, penulis, sekaligus sang dalang menuangkannya dengan gaya humor. Tapi, lepas dari perdebatan ini dan itu, saya kukuh film ini amat layak diapresiasi. Menimbang juga film ini bisa jadi sebuah cermin dari pendekatan positif dalam psikologi, yang belakangan ini banyak mendapatkan tempat dalam kajian sosial.
Psikologi Positif berbeda dengan pendekatan psikologi yang sudah hadir lebih dulu sebelumnya, terutama karena ia menekankan dihadirkannya perasaan dan pikiran positif untuk mendorong kebahagiaan.
Alih-alih fokus pada penyakit mental dan penyebabnya, aliran psikologi positif lebih berminat mencari elemen positif dalam diri manusia dan menyuburkannya hingga kita menjadi makhluk serta masyarakat yang lebih baik dan berbahagia. Kini, tidak saja ada terapi untuk menyembuhkan penyakit jiwa, tapi juga marak terapi agar kita bisa berbahagia (lihat lebih lengkapnya Jalaluddin Rakhmat, Meraih Kebahagiaan, 2004).
Secara garis besar, psikologi positif mendorong kita untuk mulai merubah cara pandang dan perasaan negatif. Karena, tanpa bermaksud terlampau menyederhanakan, jati diri kita memang ditentukan oleh bagaimana cara kita berpikir.
We are what we think, eventually….
Guido: What are your political views?
Other Man: [speaking to his two sons] Benito, Adolf! Sit Down!… Sorry Guido, what did you say?
(Life is Beautiful, 1997)