Monthly Archives: October 2013

Writing, Teaching, Travelling; Running…

Setelah kalah dalam sebuah pertarungan politik, kami berkumpul mengelilinginya. Bukan, bukan untuk menawarkan simpati. Ia tidak memerlukannya. Sebagai kawan, kami hanya berupaya mengisi waktunya dengan sedikit keceriaan, kebersamaan. Sesekali, coba menyelipkan alternatif.

Kami cukup hapal, ia bukan bentuk orang yang suka meratapi perkara. Percuma bersedih atas sebuah kesalahan di depannya. Ia progressif, senang bergerak dan bergerak. Malam ini, meski terlihat lebih banyak diam, pikirannya kami yakini berputar terus.

Sejak kami berkumpul lepas maghrib tadi, belum ada yang mendahului menyinggung maksud pertemuan ini. Berarti sudah 2 jam berlalu. Sudah banyak cerita lama kami tertawakan bersama lagi. Kami saling berisyarat. Seseorang akhirnya mencoba menukik ke dalam kepalanya.

“Mungkin, hikmahnya sekarang kamu bisa menekuni kegiatan yang lain. Sementara waktu, sambil menunggu momen berikutnya.”

Rekasi pertamanya hanya tersenyum. Sambil menyesap kopi hitamnya, ia Continue reading

Kecil

Pada suatu kesempatan yang baik, saya diizinkan untuk mendengar penuturan seorang kakak kelas soal perjalanan hidupnya. Tempaan keras yang dilaluinya membuat ruang dalam jiwanya menguat dan meluas. Terlihat mampu menampung berbagai macam hal, tanpa mempengaruhi inti hidup yang semakin mengeras di dasar sanubarinya. Kecerdasan dan keluasan wawasannya tergambar dari berbagai kutipan pemikiran filsuf-filsuf yang ia gunakan untuk memaknai alur kehidupan yang telah ia lalui. Saya percaya, ia tidak sedang sekedar menukil atau berpetatah-petitih agar nampak keren. Ia mengutarakannya, lantaran ia memang perlu meneguhkan kembali cara pandangnya terhadap hidup.

Dari sana, saya beruntung mendapatkan cermin untuk berrefleksi. Ada banyak ungkapannya yang saya amini. Ah, mungkin karena pembawaan saya yang naif. Tapi, saya cuma berpikir nasehat yang baik tetap nasehat yang baik, lepas dari siapapun yang menyampaikannya.

Dari cermin itu, saya mulai membangunkan lagi memori dan mencoba memandangnya dari sudut yang baru. Sejak beranjak menanggalkan usia-usia rawan di masa belia, saya–dan rasanya setiap orang–mencari-cari makna. Dengan mengamati, mendengarkan, merasakan, belajar. Tiap hal baru menjadi benda ajaib yang selalu membuat kita tertarik, tersedot, terpukau. Tiap pembelajaran menggoreskan kesan disertai dengan pemaknaan yang seringkali kulekatkan dengan tergesa. Perlahan, saya merasa ibarat unta yang kemana-mana menghimpun dan membawa punuk di punggungnya. Dalam perumpamaan yang barangkali tidak terlalu tepat, saya mulai menjalani fase kehidupan dimana kemanapun saya melangkah, saya berjalan dengan membawa beban. Beban itu sialnya tidak pernah berkurang kuantitas maupun kualitasnya. Yang ada malah, sebaliknya.

Maka, tiap kala menyeret kaki, serasa Continue reading