Setelah kalah dalam sebuah pertarungan politik, kami berkumpul mengelilinginya. Bukan, bukan untuk menawarkan simpati. Ia tidak memerlukannya. Sebagai kawan, kami hanya berupaya mengisi waktunya dengan sedikit keceriaan, kebersamaan. Sesekali, coba menyelipkan alternatif.
Kami cukup hapal, ia bukan bentuk orang yang suka meratapi perkara. Percuma bersedih atas sebuah kesalahan di depannya. Ia progressif, senang bergerak dan bergerak. Malam ini, meski terlihat lebih banyak diam, pikirannya kami yakini berputar terus.
Sejak kami berkumpul lepas maghrib tadi, belum ada yang mendahului menyinggung maksud pertemuan ini. Berarti sudah 2 jam berlalu. Sudah banyak cerita lama kami tertawakan bersama lagi. Kami saling berisyarat. Seseorang akhirnya mencoba menukik ke dalam kepalanya.
“Mungkin, hikmahnya sekarang kamu bisa menekuni kegiatan yang lain. Sementara waktu, sambil menunggu momen berikutnya.”
Rekasi pertamanya hanya tersenyum. Sambil menyesap kopi hitamnya, ia Continue reading